Kenal Lebih Dekat, Pacaran?

Pertanyaan:
1.    Assalamu’alaikum ust, saya mau nanya. Bagaimana hukumnya di dalam islam apabila ada yang mempunyai niat baik sama kita (menginginkan jadi istrinya) dan saya menerimanya untuk kenal lebih dekat, karena saya masih sekolah dan dia rela menunggu. Apakah itu disebut pacaran? Mohon solusinya, terimakasih ustadz. LNA_Makassar_08532291XXXX
2.    Assallamualaikum. Ustadz tempat tinggal saya jauh dari mesjid (± 800m).Tapi adzan tetap terdengar karena memakai pengeras suara. Kalau listrik padam, maka suara adzan tidak sampai ke rumah saya. Apakah dengan alasan itu dapat saya jadikan uzur untuk tidak jamaah ke mesjid? Karena pada zaman nabi belum ada pengeras suara, sedangkan Rasul memerintahkan shalat jamaah di masjid bagi yg mendengar adzan. Jazakumullah atas jawabannya. (6285244567***)



Jawaban:
Bismillah. Alhamdulillah washshalatu wassalam ‘ala Rasulillah.Setan tidak akan pernah berhenti untuk menggoda manusia kepada jurang kebinasaan. Di antara cara setan menggoda manusia adalah dengan syahwatnya. Allah #l telah mengharamkan zina dan segala perbuatan yang bisa mengantarkan kepada perbuatan zina. Allah #l berfirman,
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kalian mendekati zina! Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra’: 32)
Di dalam ayat ini Allah #l dengan jelas melarang kita untuk mendekati perbuatan zina. Mendekatinya saja terlarang apalagi melakukan perbuatan zina. Ini merupakan larangan dari Allah #l dalam rangka preventif atau pencegahan dari perbuatan zina. Rasulullah #n juga bersabda,
كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ.
“Telah dicatat pada diri anak Adam bagiannya dari perbuatan zina. Dia akan mendapatkannya dan tidak bisa mengelak. Zina dua matanya adalah dengan melihat. Zina dua telinganya adalah dengan mendengar. Zina lisannya adalah dengan berbicara. Zina tangannya adalah dengan memegang. Zina kakinya adalah dengan melangkah. (Zina) hatinya adalah dengan bernafsu dan menginginkan (untuk berzina). Dan yang membenarkan atau mendustakannya adalah kemaluannya.”
Hadits ini dengan jelas menunjukkan bahwa mata, telinga, lidah, tangan dan hati bisa berzina, dan yang menunjukkan kepastian perbuatan zina adalah kemaluannya.
Oleh karena itu, syariat kita melarang kita untuk mendekati perbuatan zina bagaimana pun caranya, bahkan kepada wanita-wanita mulia sekalipun, yaitu istri-istri

Nabi #n, Allah #l memerintahkan mereka untuk tidak melunakkan suara di hadapan para lelaki. Allah #l berfirman,
يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا
 “Hai isteri-isteri Nabi! Kalian bukanlah seperti wanita yang lain, jika kalian bertakwa. Oleh karena itu, janganlah kalian tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al-Ahzab: 32)
Para sahabat pun ketika mereka ingin meminta sesuatu kepada istri-istri Nabi #n maka mereka harus meminta dari balik hijab. Allah #l berfirman,
وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ
“Apabila kalian meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka.” (Al-Ahzab: 53)
Dari dua ayat di atas kita bisa pahami bahwa Allah #l melarang wanita berbicara dengan menundukkan suara atau melunakkan suara dan menyuruh laki-laki agar berbicara kepada wanita lain tidak secara langsung melainkan melalui tabir, tujuannya adalah agar laki-laki dan wanita bisa menjaga hati mereka dari bermaksiat kepada Allah #l.
Berkaitan dengan apa yang ditanyakan oleh Saudari penanya, maka kita dapat mengatakan bahwa apa yang Saudari dan dia lakukan bukanlah suatu yang diperbolehkan karena hal tersebut termasuk perbuatan yang mendekati zina. Apakah ini disebut dengan pacaran? Ya. Ini disebut pacaran yang diharamkan.
Jika ingin selamat dari fitnah ini, maka lelaki tersebut bisa menggunakan seseorang sebagai perantara untuk berkomunikasi kepada Saudari dan diketahui oleh orang tua atau wali Saudari, sehingga tidak berkomunikasi secara langsung. Kemudian jika memang lelaki tersebut ingin menikahi Saudari, sudah sepantasnya dia langsung mendatangi orang tua atau wali Saudari dan mengutarakan keinginan untuk menikahi Saudari (khithbah).
Di zaman sekarang ini, banyak sekali orang-orang yang menggoda para wanita dengan cara yang seperti Saudari tanyakan, bahkan sebagian mereka memiliki pacar tidak hanya satu. Oleh karena itu, saya nasihatkan kepada Saudari agar menghentikan hubungan tersebut dan fokuslah untuk belajar. Jika benar-benar sudah siap untuk menikah, maka gunakanlah cara-cara yang dibenarkan di dalam syariat untuk mencari pasangan hidup.

Allahu a’lam bishshawab. Mudah-mudahan Allah selalu menjaga kita dalam ketaatan kepadanya. Amin. (Ust. Said Yai Ardiansyah, M.A, Pengajar di Darul-Qur'an Wal-Hadits OKU Timur)

Untk pertanyaan kedua, pada asalnya shalat berjamaah boleh diadakan di semua tempat yang suci, dengan dasar keumuman sabda Rasulullah #n,
وَجُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ
“Dan dijadikan untukku bumi ini sebagai masjid dan alat bersuci. Di mana saja seorang dari umatku mendapatkan shalat maka shalatlah (disitu).” (Muttafaqun ‘Alaihi).
Namun bila seseorang mendengar adzan dari masjid terdekat maka diwajibkan melaksanakan shalat tersebut di masjid itu, dengan dasar hadits, Dari Abu Hurairah #v berkata,  “Seorang buta mendatangi Nabi #n lantas berkata, “Wahai Rasulullah sungguh aku tidak ada yang membimbingku ke masjid! Lalu ia meminta kepada Rasulullah #n keringanan sehingga diperbolehkan shalat di rumahnya, lantas Rasulullah mengizinkannya. Tatkala ia pergi, beliau memanggilnya kembali dan bertanya kepadanya: Apakah kamu mendengar adzan shalat? Ia menjawab, “Ya. Maka beliau berkata, “Maka datangilah!” (Riwayat Muslim)
Ukuran mendengarnya adalah mendengar adzan yang dikumandangkan tanpa mikrofon (pengeras suara) dalam keadaan tenang tidak bising. Inilah yang difatwakan Syeikh bin Baaz dalam pernyataan beliau, “Diwajibkan atasmu shalat bersama saudaramu kaum muslimin di masjid jika kamu mendengar adzan ditempatmu dengan suara yang biasa tanpa mikrofon ketika keadaan tenang dan tidak bising dan tidak ada penghalang yang mencegah pendengaranmu. Sehingga bila kamu jauh, tidak mendengar suara adzan yang dikumandangkan tanpa mikrofon, maka diperbolehkan bagimu untuk shalat di rumahmu atau bersama beberapa tetanggamu. Hal ini berdasarkan hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda kepada orang buta yang minta keringanan shalat di rumahnya:
هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ
“Apakah kamu mendengar adzan shalat? Ia menjawab, “Ya. Maka beliau berkata, ”Maka datangilah!”
Dan sabda beliau, “Siapa yang telah mendengar adzn lalu tidak mendatanginya maka tidak ada shalat baginya kecuali dari udzur.”
Seandainya engkau memenuhi panggilan muadzin walaupun jauh dan merasakan kesulitan dengan berjalan atau mengendarai mobil, maka itu lebih utama dan baik bagimu.(Majmu Fatawa Wa Maqaalat Mutanawi’ah 12/36-37). Dengan demikian sebaiknya anda berusaha mendatangi masjid dan berjamaah di sana. Wallahu A’lam. (Ust. Kholid Syamhudi, Lc)


 
 

Edisi Terbaru