Melepas Jilbab Karena Pekerjaan

melepas jilbab karena pekerjaan

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum ustadz, sejak kecil saya sudah diajari untuk menutup aurat, tapi setelah lulus sekolah saya bekerja dan rela melepas jilbab karena tuntutan pekerjaan. Sebenarnya saya ingin berjilbab lagi dan bahkan yang lebih baik. Apa hukumnya melepas jilbab karena pekerjaan dan bagaimana solusinya?
Kemudian, apa hukum shalat berjamaah di masjid yang shaf ikhwan dan akhwat-nya berdampingan? Apakah sah shalat-nya? Karena masjid yang shaf-nya tidak seperti itu jaraknya jauh. Syukran.

Jawaban:
Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Alhamdulillah washshalatu wassalam ‘Ala Rasulillah.
Sebenarnya kebiasaan sejak kecil untuk berjilbab adalah kebiasaan yang baik. Dan sudah sepantasnya kita mengajarkan anak-anak perempuan kita untuk memakai jilbab sesuai tuntunan syariat.
Berkaitan dengan soal, Saudari telah melakukan kesalahan dan dosa besar dan harus segera bertaubat dan mengenakan jilbab yang sesuai tuntunan syariat. Dan

tidak diperkenankan untuk menanggalkan jilbab dengan alasan pekerjaan.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman yang artinya:
“Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin agar mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, sehingga mereka tidak di ganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Begitu pula firman Allah ta'ala:
“Katakanlah kepada wanita yang beriman agar mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya. Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kalian sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung.”
Begitu pula terdapat ancaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada para wanita yang suka menampakkan auratnya, beliau bersabda, yang artinya,
“Ada dua golongan dari penghuni neraka yang tidak saya lihat, yaitu kaum yang selalu membawa cambuk seperti ekor sapi mereka memukuli manusia dengannya dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang. Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk onta yang menyimpang lagi mengajak untuk menyimpang. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya. Sesungguhnya bau surga dapat dicium dari jarak sekian dan sekian.”
Di antara arti berpakaian tetapi telanjang yang disebutkan oleh para ulama adalah:
1.    Mereka berpakaian dengan nikmat-nikmat Allah tetapi telanjang dari bersyukur.
2.    Mereka berpakaian dengan membuka sebagian tubuh mereka dan mereka memakai kerudung ke arah belakang mereka sehingga terbukalah bagian-bagian depan mereka.
3.    Mereka adalah orang-orang yang berpakaian sangat tipis atau ketat sehingga membentuk anggota tubuhnya. Mereka berpakaian tetapi pada hakikatnya mereka telanjang.
Di antara arti yang menyimpang lagi mengajak untuk menyimpang yang disebutkan oleh para ulama adalah:
1.    Mereka adalah wanita-wanita yang menyimpang dari ketaatan kepada Allah dan mengajak wanita lain untuk melakukan seperti apa yang mereka lakukan.
2.    Mereka adalah wanita-wanita yang suka bergaya ketika berjalan dan melenggak-lenggokkan bahu dan bagian samping tubuhnya.

Pada asalnya wanita harus berada di dalam rumahnya dan tidak keluar rumah kecuali karena ada keperluan yang sangat dibutuhkan. Allah subhanallahu wa ta’ala memerintahkan hal tersebut di dalam firman-Nya:
“(32) Hai istri-istri Nabi, kalian semua bukanlah seperti wanita yang lain, jika kalian bertakwa. Oleh karena itu, janganlah kalian tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik. (33) Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud untuk menghilangkan dosa dari kalian, wahai Ahlul-bait dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.”
Keluarnya wanita untuk bekerja dan dia melepaskan jilbabnya bukanlah alasan yang diperbolehkan bagi seorang wanita untuk keluar dari rumahnya. Wanita bisa bekerja atau mencari penghasilan tanpa harus melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh Allah ta’ala. Banyak wanita sekarang ini bisa bekerja di rumahnya tanpa harus keluar rumahnya. Oleh karena itu, solusi terbaik bagi Saudari adalah meninggalkan pekerjaan tersebut. Dan ingatlah janji Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا اتِّقَاءَ اللهِ إِلاَّ أَعْطَاكَ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ.
“Sesungguhnya, tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena takwa/takut kepada Allah kecuali Allah akan memberikan kepadamu yang lebih baik darinya.”

Allahu a’lam bishshawab. Billahittaufiq.
Demikian jawaban ini. Mudahan bermanfaat juga untuk yang lain.

Untuk pertanyaan kedua, pada dasarnya shaf wanita atau jamaah wanita adalah berada di belakang laki-laki atau shaf laki-laki seperti inilah yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا
“Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang pertama dan yang paling buruk adalah yang paling akhir. Dan sebaik-baik shaf wanita adalah yang paling akhir dan yang paling buruk adalah yang paling awal.”

Ketika menjelaskan hadits ini, Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Adapun shaf laki-laki maka dia secara umum yang paling baik adalah yang pertama dan yang paling buruk adalah yang paling akhir. Adapun shaf wanita maka yang dimaksud di dalam hadits adalah shaf wanita yang shalat bersama laki-laki. Adapun jka mereka shalat terpisah dan tidak bersama laki-laki maka para wanita seperti laki-laki, sebaik-baik shaf-nya adalah yang pertama dan seburuk-buruknya adalah yang paling akhir.
Berkaitan dengan apa yang ditanyakan maka yang dimaksud saudara penanya adalah bagaimana hukum shalat berjamaah yang mana shaf jamaah laki-laki berdampingan dengan shaf jamaah wanita, karena seperti itulah ada di beberapa masjid di Indonesia.
Hal ini pernah berulang kali ditanyakan kepada Syaikh ‘Abdul-Muhsin Al-‘Abbad hafidzhahullah dan beliau menjawab bahwa shalatnya sah dan tidak menjadi masalah, tetapi harus ada pemisah antara jamaah laki-laki dengan jamaah wanita dan tidak bercampur.
Di dalam fatwa online islamqa.info disebutkan sebagai berikut:
“Apabila seorang wanita shalat sejajar dengan laki-laki dan di antara mereka ada penghalang berupa dinding atau jarak yang memungkinkan satu orang untuk berdiri di sela-sela keduanya maka shalat-nya sah menurut seluruh pendapat ahli ilmu dari kalangan Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah. Yang menjadi perselisihan di kalangan ulama adalah apabila seorang wanita shalat di samping laki-laki tanpa ada penghalang.”
Dengan demikian shalat di masjid yang seperti itu sah, baik jamaah laki-laki maupun jamaah perempuannya, karena masjid-masjid di Indonesia yang jamaah laki-laki dan wanitanya sejajar, insya Allah memiliki penghalang atau jarak di antara dua jamaah laki-laki dan jamaah wanita tersebut. Allahu a’lam billahittaufiq. (Ust Said Yai, Lc. MA)





Edisi Terbaru