Selaksa Peristiwa di Saudi Arabia

Andai engkau disuruh milih, mau jadi warga negara arab atau warga negara indonesia? Mana yang akan kau pilih? Pastinya jawabannya berbeda, tapi bagi mereka yang pernah tingga di arab, mungkin akan memilih arab. Kenapa? Simak cerita berikut ini.
Teruntuk mereka yang alergi arab, harus banyak tanya ke temen-temen yang pernah tinggal di arab. Apalagi yang belum pernah ke arab topi hobinya mencaci arab, hmm apa kagak ada kerjaan lain apa ya? Atau situ iri dengan negara yang pernah mendapatkan predikat sebagai negara teraman ketiga di dunia???
Berkacalah sebelum menilai suatu negeri. Jangan-jangan sibuk mencaci negeri orang, padahal nggak sadar negerinya sendiri amat parah keadaannya. Tanpa perlu memberi banyak komentar, simak selengkapnya penuturan salah satu teman kita yang saat ini menjadi TKI di saudi. 
Suatu ketika ada teman yang memberi info lowongan kerja di saudi arabia. Di info tersebut tertera gaji 7 juta, bisa umrah dan umrah gratis. Ketika itu aku berpikir

sejenak, 7 juta dalam dua tahun wow bisa buat modal masa depan nie, apalagi bisa umrah dan haji. Tanpa berpikir panjang aku bertekad untuk bisa ke saudi. Atas izin allah dan orangtua, akhirnya aku bisa berangkat ke saudi.
Kalo ditanya kenapa pilih arab, karena kiblat utama kita di arab yaitu ka’bah. Kalo ka’bah dimana-mana, aku bakal merantau kesana entah itu di jpang, italy, korea, akan tetapi ka’bah dibangun di arab. Kuputuskan ke saudi biar sembari mencari uang bisa ibadah umrah dan haji gratis lagi...
Sebelum berangkat, dalam benakku arab adalah kota pusat ilmu islam. Karena itulah aku punya tekad untuk menuntut ilmu disana dan alhamdulillah bisa tercapai walau tak seberapa ilmu yang saya dapat karena proses belajar sembari menjadi TKI.
Ada kenyataan yang berbeda setelah aku sampai di arab. Dari segi gaji tidak sama dengan info yang aku dapatkan yaitu 7 juta, ternyata gaji sebenarnya 5 juta. Meski begitu aku tak kecewa karena memang niat ke arab bukan semata-mata untuk mencari uang melainkan untuk bisa ibadah haji dan umarah.
Suka duka menjadi TKI itu warna tersendiri. Begitulah warna kehidupan yang berbeda-beda bergantung bagaimana kita menyikapinya. Senanga ataupun sedih pasti ada lah dimanapun kita merantau. Kalo menurutku senangnya jadi TKI di arab, kita bisa ibadah tepat waktu dan banyak kemudahan di dalamnya. Selain itu sembari mencari uang kita bisa juga sambil belajar.
Enaknya tinggal di saudi kita bisa belajar bahasa arab baik amiyah (pasaran) maupun fushah (resmi) sekaligus bahasa inggris. Setiap masjid memiliki halaqah qur’an dan kita juga bisa mendatangi daurah masyayikh. Pembuatan unndang-undang di arab berpedoman pada alqur’an dan hadits. Contoh sederhana hukum wanita menyetir di saudi haram karena banyak madharat (bahaya) dan mendatangkan banyak fitnah. Beda dengan negara kita, asal suarat lengkap wanita bebas mengendarai mobil.
Hampir di semua kota ada cabang islamic center yang menjadi tempat untuk kajian keislaman, itu semua dibuka untuk umum dan gratis. Staf pengajarnya profesional dan alhamdulillah dari negara kita ada salah satu yang menjadi dosen disitu. Islamic center sendiri juga membuatkan ijazah/sertifikat untuk para mahasiswa setelah selaesai study dalam setiap semester. Masa belajar selama dua tahun, jadi kita bisa punya 4 ijazah/sertifikat.
Islamic center juga mengadakan haji dan umrah gratis dengan syarat khusus yaitu mahasiswa islamic center, menyerahkan fotocopy iqamah (kalo di indonesia semacam ktp) yang masih aktif. Enak banget kan???
Adapun nggak enaknya jadi TKI di arab, terkadang gaji ditunda-tunda, dipotong, bahkan tak digaji. Itu semua bergantung pada majikan/perusahaan tempat TKI bekerja. Jika majikan/perusahaan baik, insyaallah uang bisa terkumpul dan dikirim ke keluarga di indonesia, namun jika sebaliknya bisa jadi TKI diperlakukan semenea-mena bahkan melebihi budak. Ada juga yang sampai difitnah, diperkosa, bahkan dibunuh terutama untuk TKW. Maka alangkah baiknya seorang wanita tidak bekerja diluar negeri, bukan hanya di arab, di negara manapun pasti ada potensi diperlakukan demikian oleh majikan.
Terkait keamanan di saudi belum 100% aman karena masih ada juga tindak kejahatan seperti perampokan dll. Pernah suatu ketika temenku berangkat ke masjid untuk shalat subuh, di jalan dihadang rombongan perampok berkulit hitam dan bersenjata. Uangnya habis dan kepalanya luka bacok. Beginilah di negara dimana syariat islam berlaku saja masih ada kejahatan, terlebih di negara yang menggunakan sistem hukum selain islam.
Perlu diketahui di tahun 2016 saudi termasuk peringkat ketiga negara teraman di dunia. Lantas bagaimana dengan negara-negara yang peringkatnya buncit seperti AS yang menduduki pering ke-116 dan australia di peringkat ke-121.
Oleh Fadhurrahman dengan beberapa catatan tambahan dari redaksi.

Edisi Terbaru