Negeri Mimpi Seindah Saudi

Seringkali kita mendengar cerita mereka yang pernah tinggal lama di saudi, betapa indah lingkungan yang dibangun. Bukan karena taman berjejer tapi suasana negeri itulah yang menjadi mimpi bagi siapapun yang mendambakan ketenangan dan keamanan. Meski memang tak luput dari cela mereka yang tidak suka, tapi bila mau berpikir jernih dan oba membandingkan, lebih baik mana negeri tempat pencela itu berpinjak dengan saudi??
Dunia tiada yang sempurna, tapi bukan berarti kemudian semudahnya mencela bila tak mau berkaca. Coba kita simak paparan saudara kita yang pernah tinggal disana. Dan coba bandingkan dengan negeri kita, dimana tak sedikit juga orang-orang pribumi ini yang mencela saudi. Kita tak bermaksud untuk menagungkan saudi, tapi setidaknya cobalah kita berkaca pada negeri dimana syariat islam begitu dijunjung tinggi.
Ketika di saudi saku tinggal di makkah dan pernah juga tinggal di madinah. Dua kota dimana kita bisa merasakan ketenangan, keamanan, dan kenyamanan. Tinggal di dua kota ini membuatku nyaman beribadah, apalagi aku bisa shalat di haramain yaitu masjidil harama dan juga masjid nabawi. Kalian tentu sudah tahu betapa besarnya keutamaan dua tempat ini. salah satunya pahala shalat dilipatgandakan beribu kali dibandingkan dengan masjid lainnya.
Negeri yang aman dan nyaman ini membuat para pekerja dari indonesia semangat dalam belajar ilmu syar’i. Bahasa tak menjadi kendala karena ketika belajar di markaz islamic center dimana pengasuh langsung syaikh dari saudi, da juga para ustadz dari indonesia yang kini sedang menimba ilmu di ummul quro, universitas islam madinah dan juga di ma’had haram.
Di dua kota yaitu madinah dan makkah, hubungan antara laki-laki dan perempuan sangat terjaga. Aku sendiri belum pernah menemukan pemuda-dan pemudi

yang berduaan di tempat sepi apalagi di keramaian. Setiap wanita yang keluar rumah pastilah ditemani mahromnya. Entah itu bapak, ibu, kakek, nenek atau lainnya.
Bila kita bandingkan dengan negeri kita, sangat kontras sekali perbedaannya, terutama kehiduapan masyarakatnya. Orang saudi sangat jarang sekali berkumpul di depan rumah atau di jalan. Mereka akan bertatp muka dan bicara ketika bertemu di masjid sehabis melaksanakan shalat wajib. Karena itulah sangat minim para perempuan ngegosip atau ngrumpi di depan rumah apalagi di jalan. Mereka bisa ngobrol bebas jika sedang keluar ke pusat perbelanjaan dan itupun ditemani mahromnya.
Berbeda dengan negeri kita, tak hanya ibu-ibu, para bapak pun jago ngrumpi entah di depan rumah, di jalan, pos ronda, dan tak sedikit ngrumpi di masjid lho. Itu semua terjadi karena minimnya pengetahuan masyarakat terkait hukum-hukum syariat. Walau begitu, ada juga sisi positif dari masyarakat kita dimana hubungan kekeluargaan masih sangat kental. Hubungan muamalahnya pun bagus, walau kadang sampai kebablasan. Hubungan muamalah yang baik ini membuat kerukunan di negeri kita bisa terwujud.
Bicara soal ekonomi di saudi mengagumkan dan jauh berbeda dengan negeri kita. Di sana orang nganggur saja dibayar, minimal dapet subsidi langsung dari pemerintah, apalagi jika bekerja, tentu mereka akan mendapatkan penghasilan tambahan. Di negeri kita mau makan yah silahkan kerja, bakalan kanker kalo nggak kerja. Angka pengangguran juga banyak, subsidi nggak dari pemerintah habis dimakan koruptor.
Bisa dibilang kesejahteraan masyarakat di saudi di tangan pemerintah, sementara negara kita kesejahteraan diatas pundak masing-masing. Tidak ada jaminan kemakmuran bagi rakyat. Sumber daya alam kita pun mayoritas dikelola pihak asing sehingga kembali ke pihak pemilik modal dan sedikit yang masuk ke pemerintah. Sebagai akibatnya tak banyak hasil bumi kita yang kembali ke rakyat. Berbeda dengan saudi dimana sumber daya alam dikelola pemerintah sendiri sehingga hasilnya disalurkan kembali ke masyarakat.
Komunitas orang indonesia di saudi biasanya sudah terbentuk sejak masih di indonesia. Mereka berkelompok sesuai komunitas saat di indonesia. Kegiatan semua komunitas hampir sama, mengkaji ilmu syar’i dengan guru mereka masing-masing di tempat yang berbeda-beda pula.
Secara umum orang saudi menilai orang-orang indonesia itu quwais  alias bagus. Khususnya para pekerja dari indonesia orang saudi menilai murah senyum, tidak banyak ngomong dan ulet saat bekerja. Dari segi akhlak hampir sama dengan orang timur tengah. Cuman ada satu kejelekan orang indonesia, ketika marah dengan seseorang biasanya jadi dendam, berbeda dengan orang-orang saudi, pakistan, mesir dll.
Kalo soal pengalaman yang tak terlupakan selama tinggal di saudi yaitu bisa merasakan hidup di negara yang hampir semua menjalakan hukum alqur’an dan hadits. Betapa indahnya jika semua makhluk patuh dan tunduk mentaati dua sumber hukum yang tiada bandingannya dengan hukum buatan manusia. Efeknya pun sangat luar biasa menakjubakan, kita jadi sadar betapa bahwa tujuan hidup kita adalah kehidupan abadi kelak di surga-Nya. Kadang terbesit dalam pikiran orang-orang indonesia, kapan negara kita bisa semakmur, aman dan nyaman seperti saudi.
Suasana ramadhan di saudi sangat istimewa. Mereka penduduk saudi benar-benar memperhatikan hadits nabi #n. Seluruh waktu dihabiskan untuk beribadah, terutama shadaqah. Masya Allah #l sungguh indahnya jika semua orang paham betul tentang shadaqah, hasilnya sungguh tak diragukan lagi, pahala berlipat ganda telah dijanjikan Allah #l. Kalo kamu berkunjung ke saudi saat ramadhan, jangan heran kalo kamu akan menemukan banyak makanan orang shadaqah berjejeran di jalan.
Suasana idul fitri dan idul adha memang tidak semeriah dengan negeri kita. Meriah dan ramainya disana saat shalat id dan berkumpul menuju haramain (makkah dan madinah). Jamaah datang dari seluruh kota saudi hingga shaf shalat id meluber keluar ruangan.
Bagiku yang paling menarik di saudi adalah kemudahan menjalankan ibadah haji dan umrah. Selain itu kedermawanan orang saudi masih terjada, merekalah keturunan umat terbaik. Tauladan dari nabi #n dan para sahabatnya pun diwarisi hingga saat ini. ingin sekali bisa kembali menginjakkan kaki di tanah suci. Negeri makmur dan penuh berkah yang pernah didoakan oleh nabi ibrahim #p dan muhammad #n. Rindu bisa nyaman beribadah di depan ka’bah dan di raudah masjid nabawi, dua tempat yang begitu istimewa bagi kaum muslimin.
Bila hati kita tak terbesit sedikitpun untuk pergi ke tanah suci, maka harus segera bermuhasabah karena pergi kesana untuk ibadah haji merupakan kesempurnaan dari rukun islam. Jangan katakan hanya orang kaya yang bisa ke tanah suci. Bukan kekayaan yang menjadi tolak ukur kemampuan, tapi kemauan (azam) dan niat yang besarlah barometernya. Teruslah berdoa agar diberi kemudahan untuk menyempurnakan rukun islam. Ingat mampu itu bukan karena kaya, tapi niat, azam, doa dan usaha._sardi


Edisi Terbaru