Catatan Perjalanan di Burkina Faso (Bag. 2)

burkina3We have mushala! Kata Maiga, kawan baik saat berada di Hokudai di tahun 2009. Saya sempatkan mendatangi mushohal kampus 2iE, selepas istirahat makan siang. Sekitar jam setengah dua, nampak suasana kampus masih sepi, yang belakangan saya ketahui dan baru sadari kalau Burkina Faso, seperti banyak negara lainnya di Afrika, memiliki jam istirahat siang yang agak panjang. Mereka biasannya istriahat dari jam 12 hingga jam 15. Biasanya kami pulang, makan di rumah, tidur siang sebentar, membersihkan badan karenanya bisa segar memulai aktivitas kembali. Tapi mungkin kebiasaan itu akan berubah seiring dengan perkembangan kota, kata Prof. Karimbiri, Direktur Akademik 2iE, suatu ketika saat kami diundang makan malam di restaurant khas Afrika.
MENCARI MUSHALA

 

Menyusuri beberapa bangunan dan dormitory mahasiswa, akhirnya kami tiba di Mushala yang dimaksud Maiga. Diambilnya dua lembar tikar yang disusun di belakang dormitory, dan diperiksanya beberapa ceret dan satu jirgen yang semuanya kosong tanpa air. Here is our mushala, ucap Maiga sambil membawa pergi satu jirgen untuk mengambil air di salah satu blok

dormitory. Ternyata, tanah lapang yang dibatasi oleh tembok pagar kampus dan dipagar keliling dengan blok-blok semen setinggi 30 cm sehingga membentuk persegi empat seluas kurang lebih 50 meter adalah mushala kampus. “Tidak banyak bangunan Mushala atau Masjid di Ouagadougou, walaupun penduduknya lebih dari separuh muslim”, kata Mukhtar, kolega dari Tunisia yang beberapa kali mengunjungi Burkina untuk penelitian.
Memasuki pasar juga akan menemukan hal yang sama, mereka lebih senang menghamparkan sejadah di atas tanah, lanjut Mukhtar. Barangkali tidak sekadar budaya, tetapi mungkin juga berbagai keterbatasan penyediaan fasilitas umum yang mengharuskan kondisi seperti itu. Tetapi, melihat jamaah mushala satu persatu datang dan mulai berwudhu dengan air yang telah disiapkan Maiga, nampak bahwa mereka memakmur mushalanya…
Satu persatu presentasi dilanjutkan. Agenda symposium dijadwalkan berakhir pada pukul 18:35 waktu setempat. Segelas Nescafe walaupun mampu membuat mata terbuka mengikuti presentasi pemakalah, tetapi kaki rasanya enggan bergerak. Indikasi jetlag sudah terasa sejak jam 16:00 ketika coffee break sore, dan saat itu adalah jam 23:00 WIB. Tiga orang kolega didampingi partner dari 2iE pamit mendahului kami untuk mengambil paspor di imigrasi karena pengurusan visa on arrival membutuhkan waktu lebih dari 24 jam. Prof. Gumiri dan Yang akhirnya juga mendapatkan kembali koper mereka yang tertinggal, entah dibawa oleh pesawat yang ditumpangi atau tidak terangkut dari tempat penerbangan sebelumnya, terlihat berganti pakaian setelah dua hari tidak berganti baju saat kami kembali ke hotel.
SERBA-SERBI MAKANAN  
Acara makan malam disepakati di restauran Lebanon. Tidak banyak restauran lokal yang bisa dikunjungi, sehingga pilihan sangat terbatas. Setelah lama melihat menu dan tidak bisa memutuskan menu yang pas untuk masing-masing karena tidak cukup paham dengan aneka masakan tersebut, akhirnya diputuskan bersama memilih paket beragam makanan senilai 80.000 CFA (atau setara kira-kira USD 158) untuk berdelapan. Minuman menjadi pesanan pertama yang datang, disusul kemudian beragam sayuran baik yang segar maupun yang telah masak, dan roti (nam) dengan aneka bumbuan yang terasa asing di lidah karena semua seba kecut. Cukup banyak dari sisi jumlah, apalagi masing-masing nampak kurang bisa menikmati masakan tersebut. Semua orang mengira pesanan sudah selesai ketika kemudian aneka masakan ayam dan daging datang. Semua sudah seperti mabuk menjadi vegetarian, ketika daging-daging tersebut datang, dan ketika dicicipi juga semuanya kecut dan akhirnya menyerah tidak bisa menghabiskan masakan tersebut…
Walaupun terlelap tidak lebih dari 3,5 jam, pagi pukul 3:30 (berarti pukul 10:30 WIB) sudah terbangun dan sudah terasa segar kembali. Suara adzan samar terdengan sekutar pukul 4:30, dan pagi jam 5:30an sudah terdengan suara burung dan suara pekerja restaurant mulai menata meja makan. Sarapan pagi seperti hari sebelumnya dan hari-hari berikutnya adalah aneka roti, telur rebus dan buah-buahan, serta minuman jus, kopi dan susu. Sarapan rasanya selalu pas, sambil berbincang-bincang dengan kolega lainnya.
LIMBAH RAMAH LINGKUNGAN
Hari kedua diisi dengan kegiatan diskusi seluruh anggota aliansi, dan permintaan atau undangan UGM untuk mengambil bagian dari aliansi tersebut. Setelah diskusi panjang sampai jam makan siang, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan laboratorium pada jam 3. Laboratorium 2iE cukup tertata dengan baik dan lab. pengelolaan air yang menjadi salah satu laboratorium yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan 2iE telah memberikan beberapa contoh yang baik dalam karya. Salah satunya adalah pengelolaan air limbah. Limbah air dikampus semuanya di arahkan pada satu IPAL yang ada di lingkungan kampus sebelum di lepaskan ke lingkungan. Menariknya IPAL tersebut telah meluluskan beberapa doktor, dan saat ini sedang menjadi ladang penelitian calon-calon master dan doktor baru di bidang pengelolaan air, khususnya limbah. Air limbah tersebut telah membantu membuat kampus 2iE menjadi kampus yang hijau dan sejuk, karena taman dan pepohonan selalu dapat disirami dengan air limbah hasil IPAL yang mereka kelola sendiri.
LOMBA INOVASI PRODUK
“This is one of the solutions to malnutrition problems” ucap seorang lulusan MBA 2iE, yang sedang mengikuti incubator bisnis 2iE, sembari menunjukkan produk ulat daun yang telah dikeringkan. Ulat-ulat kering tersebut akan ditepungkan dan dicampur dengan makanan, khususnya makanan bayi. Ulat ini mengandung 60% protein dan telah menjadi makanan yang umum di Burkina, lanjutnya memberi penjelasan. Walaupun tersedia hanya selama kurang lebih tiga bulan saat ini, jika berhasil dibudidayakan maka akan ditemukan solusi pada masalah suplai, lebih lanjut si innovator memberi penjelasan pada pertanyaan Prof. Gumiri. 2iE nampaknya sedang giat mendidik lulusannya menjadi wirausahawan, yaitu melalui lab incubator bisnis, yang bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan di Eropa sebagai penyandang dana. Setiap tahun diadakan company fair dan lomba inovasi produk. Pemenang lomba tersebut akan dididik lebih lanjut dalam lab. inkubator agar menjadi wirausahawan/wati. Hadiah pemenang pertama lomba inovasi mencapai nilai USD 2.000… to be continued insyaalah… Sa_

Edisi Terbaru