Catatan Perjalanan di Burkina Faso

burkinafasoSobat fata tahu Burkina Faso? Kayaknya sih jarang yah kita denger nama negara ini. Asl tahu sobat negara ini terletak di benua Afrika, tepatnya deket dengan mali dan Ghana. Dahulu bernama Volta Hulu, Presiden Thomas Sankara mengganti nama negara ini menjadi 'Burkina Faso' (dalam bahasa Dioula dan More: "Negara Orang Jujur") pada 4 Agustus 1984. Nah oleh-oleh manca kali ini datang dari pak suadi, Ph.D., salah satu dosen UGM. Tepatnya kantor beliau ini di laboratorium perikanan. Yuk kita langsung simak ceritanya.
Selepas mendarat dengan Royal Air Maroko tengah malam di Ouagadougou, ibu kota Burkina Faso, setiap pendatang ke negeri itu pasti akan langsung dicegat di pintu masuk dengan menanyakan Kartu vaksinasi yellow fever. Kartu berwarna kuning itu sangat ampuh, karena kalau anda memilikinya pasti anda punya peluang masuk ke negera itu, tapi jika tidak maka harus angkat koper dari pintu itu. Setelah melewati palang pintu tersebut, bagian imigrasi lainnya akan mulai bekerja. Sehingga, jika anda memiliki kesempatan datang ke negara-negara di Afrika jangan lupa melakukan vaksinasi apapun yang dipersyaratkan, itu mungkin takehome messagenya.

 

 

This is the document I need. Do you have it? Dengan sengau bahasa Perancis petugas imigrasi Burkina Faso menanyakan satu dokumen pada Prof. Gumiri, kolega yang datang bersama saya, sembari mengangkat surat Visa Attestation yang saya miliki. Dokumen yang sempat diurus via email melalui Konsulat Burkina Faso di Jakarta itu ternyata sangat membantu, sehingga tidak ada pertanyaan terkait dengan pengurusan visa on arrival pada larut malam itu, yang seperti ditanyakan pada Prof Gumiri. Semua urusan saya dan Prof. Gumiri berjalan lancar sesungguhnya, walaupun memakan waktu karena sistem antri nampaknya belum berjalan dengan baik. Namun demikian, mereka melayani dengan ramah dan nyaman. Itu mungkin barangkali kesan pertama tentang Burkina Faso. How much should I pay? Prof. Gumiri mencoba membuka pertanyaan saat menunggu proses pemeriksanaan dokumen. No No….Free, dengan sigap petugas imigrasi senior menjawab.

Tanaka-san dan Mukhtar, kolega dari Universitas Hokkaido, yang mengatur pertemuan di Burkina Faso, sudah menunggu kami di pintu keluar. Mereka nampaknya sudah menunggu lama, apalagi di saat mau keluar dari pintu imigrasi koper milik Prof. Gumiri tidak bisa ditemukan di tempat pengambilan barang. Pencarian koper di antara tumpukan koper-koper lainnya tidak menemukan hasil, dan dan tentu saja harus membuat claim kehilangan barang tersebut. Ternyata hampir tiga jam mengurus semuanya di Bandara…

Masih ada aktivitas di sepanjang jalan yang bisa dilihat pukul tiga pagi saat itu. Dari temaran lampu di sepanjang jalan, nampaknya ibu kota negara ini tidak terlalu besar, bahkan mungkin tidak seramai Jalan Solo di Kota Yogyakarta. Jarak tempuh Bandara Internasional Ouagadougou dengan hotel tempat kami menginap hanya sekitar 10 menitan. Ternyata hotel kami, La Pramiere, ada di salah satu sisi perkotaan dan pusat perkantoran. Hotelnya cukup nyaman dengan fasilitas free wifi memudahkan komunikasi. Walaupun tidak bisa membalas SMS dari keluarga dan kolega lainnya di tanah air, tetapi tetap bisa menerimanya. Dengan Wifi, bbm dan whatsapp tetap on. Thanks to development of technology, kata kawan suatu saat.

Walaupun istirahat tidak lebih dari satu setengah jam, pagi pukul 5:30, aku terbangunkan oleh beragam suara burung, badan rasanya sudah segar. Aktivitas hari pertama saatnya akan dimulai. Sarapan pagi di restaurant yang terletak depan kamar sudah menunggu. Aneka roti, buah-buahan, telur, susu panas, susu dingin, kopi dan jus orange tinggal dipilih. Dari bill yang diberikan harga sarapan sekitar 6000 CFA. Buah-buahan yang ada di meja makan tidak jauh berbeda dengan di tanah air, seperti mangga, anggur, dan nenas, bahkan roti crepesnya lebih mirip serabi. Aku lihat di sekeliling hotel, nampak pemandangan pepohonan yang tidak berbeda jauh dengan pohon-pohon di tanah air, khususnya di kampung halaman di Bima. Ada mangga yang tidak sedang berbuah, sukun yang tengah berbuah banyak, dan beberapa pohon sirkaya dengan buah yang beranjak matang. Hotel ini dikelilingi oleh pepohonan yang rindang, dan kicauan burung yang bersahutan memberi kesan tempat yang nyaman dan sejuk untuk disinggahi. Hal yang tidak terbayangkan olehku sebelumnya bahwa hijauan pepohonan, udara yang segar, suara burung bisa dinikmati dengan mudah di Burkina Faso. Hanya satu yang mungkin tidak biasa, sejak semalam hingga pagi ini, pintu utama hotel ini tidak dibuka lebar atau hanya cukup untuk satu orang keluar atau masuk bergantian…

“Bonjour” receptionist menyapa kami ketika menitip kunci kamar. Kosa kata ini semakin sering aku dengar dan kemudian aku gunakan setiap bertemu dengan kolega Burkina lainnya di pagi hari. Dua kendaraan sudah menunggu di depan hotel. Agenda hari pertama adalah symposium. Lokasi kegiatan di kampus “Foundation 2iE”, yang berjarak 15 menit dari hotel. Perjalanan menuju kampus 2iE memberikan penjelasan temaran lampu semalam. Nampak sepanjang jalan berjejer perkantoran beberapa kementerian. Rumah Premier Minister tampak megah di salah satu ujung jalan utama, jalan selebar lebih dari dua puluh meter yang terbelah dua oleh portal. Kampus 2iE terletak di belakang komplek rumah tersebut, berjejeran dengan Universitas Uoagadougou. Bendera negara-negara pemangku kepentingan di Yayasan 2iE berjejer rapi di halaman sempit di depan kampus. Ketika masuk pintu kampus, nampak beberapa orang berjejer menulis buku tamu di bagian security. Tidak terlepas kamipun harus melakukan hal yang sama dan Tanaka san mewakili kami bertujuh, yang masing-masing berasal dari Hokudai Jepang, NCKU Taiwan, Je Ziang Univ Tiongkok, UNPAR Kalimantan Tengah, dan UGM.

Satu persatu seluruh peserta memperkenalkan diri, setelah Prof. Tanaka dari Hokudai dan Prof. Maiga dari 2iE memberikan sambutan pendek. Symposium ini bukanlah symposium besar, tetapi hanya diikuti sekitar 30 orang peserta dan merupakan sharing dan laporan kegiatan pendidikan dan penelitian di masing-masing lembaga yang menggalang aliansi dalam bidang sustainability science. Saya, sebagai undangan, dari UGM memberikan presentasi tentang kegiatan pemberdayaan masyarakat di UGM, terutama kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN)dan pengalaman pendampingan serta riset yang saya lakukan. Sharing pengalaman di UGM tersebut ternyata menarik diskusi cukup panjang, sehingga melebihi jatah waktu 25 menit, bahkan harus berlanjut di meja makan saat istirahat makan siang. Sudah sepantasnya UGM terus meningkatkan proses transfer ilmu pengetahuan dan teknologi ke pengguna terbesar, yaitu masyarakat.
Bersambung insya allah……

Edisi Terbaru