Kambing atau Sapi?

Pertanyaan :
Ada penanya yang bertanya kepada Syaikh Ibnu Baz, “Manakah yang lebih utama, berqurban dengan menyembelih sapi atau domba ?”

Jawaban :

Beliau menjawab, “Berqurban yang paling utama adalah dengan unta, kemudian sapi kemudian kambing kemudian unta atau sapi yang disembelih oleh tujuh orang berserikat, berdasarkan hadits Nabi #n tentang shalat Jum’at ( barang siapa pergi ( ke masjid untuk shalat Jum’at ) pada jam pertama maka seakan-akan dia telah berqurban dengan seekor unta, dan barangsiapa pergi pada jam kedua maka seakan-akan dia telah berqurban dengan seekor sapi, dan barangsiapa pergi pada jam ketiga maka seakan-akan dia telah berqurban dengan seekor domba yang bertanduk, dan barangsiapa pergi pada jam keempat maka seakan-akan dia telah berqurban dengan seekor ayam, dan barangsiapa pergi pada jam kelima maka seakan-akan dia telah berqurban dengan sebutir telur.” (Riwayat  Ahmad, Malik, Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Tirmidzi).

Hadits tersebut menunjukkan mufadhalah (mengutamakan satu dengan lainnya), dalam mendekatkan diri kepada Allah antara unta, sapi dan kambing, dan tidak diragukan bahwa berqurban adalah termasuk ketaatan yang paling agung di sisi Allah #l dan karena unta lebih mahal, lebih banyak dagingnya dan manfaatnya, pendapat ini dikeluarkan oleh Abu Hanifah, Syafi’ dan Ahmad. Namun berdasarkan Imam malik, Rasulullah #n kadang-kadang memilih yang tidak utama untuk meringankan ummat, karena mereka akan selalu berusaha mencontohnya, dan dia #n tidak suka memberatkan ummatnya, dan dia #n telah menerangkan keutamaan unta dari sapi dan kambing sebagaimana hadits di atas.

(Sumber :Majjmu’ Fatawa, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Jilid 6 hal,385)

Celana Panjang dalam Shalat

Pertanyaan:
Asy syaikh Bin Baz pernah ditanya, “Apa hukum memakai sarowil/bantholun (celana panjang), khususnya pakaian yang dapat menyingkap sebagian aurat ketika melakukan shalat yaitu ketika ruku’ dan sujud di dalamnya?

Jawaban:

Apabila bantholun/sarowil (celana panjang) tersebut –bagi laki-laki-- menutupi pusar hingga lutut, lalu bentuknya longgar dan tidak sempit (tidak ketat), maka shalatnya sah. Namun yang lebih utama dan afdhol di luar celana tersebut juga terdapat pakaian lainnya (pakaian jubah) yang menutupi pusar hingga lutut. Lalu celana yang di dalam pakaian tersebut dipakai hingga setengah betis atau hingga mata kaki. Karena seperti ini lebih sempurna dalam menutup aurat.

Shalat dalam keadaan memakai izar (sarung) lebih baik daripada shalat dalam keadaan hanya memakai celana yang di luarnya tidak ada  pakaian lainnya (semacam jubah). Karena izar (sarung) lebih sempurna dalam menutupi aurat dibanding hanya memakai celana panjang saja.” (Sumber: Majmu’ Fatawa Ibni Baz, 10/414)

Edisi Terbaru