Menghina Syariat Islam Lagi

Masih belum hilang dari ingatan bagaimana seorang tokoh melantunkan syair yang isinya merendahkan sebagian syariat dan syiar Islam. Bagaiamana hukumnya?

Pertanyaan:

Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz #v(Pernah menjabat ketua Komite Fatwa Saudi Arabia) pernah mendapat pertanyaan, “Pada saat ini banyak terjadi di tengah masyarakat, seorang  muslim yang mengolok-olok syariat  agama yang nampak seperti memelihara jenggot, menaikkan celana di atas mata kaki, dan selainnya. Apakah hal ini termasuk mengolok-olok agama yang membuat seseorang keluar dari Islam? Bagaimana nasihat Andaterhadap orang yang melakukan perbuatan ini? Semoga Allah memberi kepahaman padamu.”

 

Jawaban:

Syaikh #v menjawab, “Tidak diragukan lagi bahwa mengolok-olok Allah, Rasul-Nya, ayat-ayat-Nya dan syariat-Nya termasuk dalam kekafiran sebagaimana Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (At-Taubah 9: 65-66)

Termasuk dalam hal ini adalah mengolok-olok masalah tauhid, shalat, zakat, puasa, haji atau berbagai macam hukum dalam agama ini yang telah disepakati. Adapun mengolok-olok orang yang memelihara (memanjangkan) jenggot, yang menaikkan celana di atas mata kaki (tidak isbal) atau semacamnya yang hukumnya masih samar, maka ini perlu diperinci lagi. Tetapi setiap orang wajib berhati-hati melakukan perbuatan semacam ini.

Kami memberikan nasihat kepada orang-orang yang melakukan perbuatan olok-olok seperti ini untuk segera bertaubat kepada Allah dan hendaklah komitmen dengan syariat-Nya. Kami nasihatkan untuk berhati-hati melakukan perbuatan menghina orang yang berpegang teguh dengan syariat ini dalam rangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Hendaklah seseorang takut akan murka dan azab (siksaan) Allah serta takut akan murtad dari agama ini sedangkan dia tidak menyadarinya. Kami memohon kepada Allah agar kami dan kaum muslimin sekalian mendapatkan maaf atas segala kejelekan dan Allah-lah sebaik-baik tempat meminta. Wallahu waliyyut taufiq.( Kayfa Nuhaqqiqut Tauhid, Madarul Wathon Linnashr, hal. 61-62)

Allah dibatasi Tempat?

Pertanyaan :

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin pernah ditanya, “Bagaimana pandangan hukum terhadap jawaban sebagian orang: ”Allah berada di mana-mana,” bila ditanya :”Dimana Allah ?” Apakah jawaban seperti ini sepenuhnya benar?

Jawab :

Jawaban seperti ini adalah batil sepenuhnya. Apabila seseorang ditanya, Dimanakah Allah #n? hendaklah ia menjawab, ”Di langit,” seperti dikemukakan oleh seorang (budak) perempuan yang ditanya oleh Nabi #n, ”Dimana Allah ?”, (maka dia)menjawabnya, ”Di langit.”

Sedangkan orang yang menjawab dengan perkataan, ”Allah itu ada,” maka jawaban seperti ini sangat samar dan menyesatkan(orang lain). Orang yang mengatakan bahwa Allah itu ada dimana-mana dengan pengertian dzat Allah ada dimana-mana adalah kafir karena ia telah mendustakan keterangan-keterangan agama, bahwa dalil-dalil wahyu dan akal serta fitrah. Allah berada diatas segala mahluk. Dia berada di atas semua langit, bersemayam di atas Arsy.

Sumber : Majmu’ Fatawaa wa Rasaail, juz 1 halaman 132-133, Syaikh Ibn Utsaimin

Edisi Terbaru