Jangan Bilang-bilang

“Ssst, jangan bilang siapa-siapa ya. Cuma kamu lho yang tak beri tahu,” ungkap Aliya pada Nura. “Beres, tenang saja. Aku nggak bakal bilang ke yang lain,” balas Nuura. Keduanya pun berpamitan pulang.

Sobat, dalam kehidupan sehari-hari kita tak jarang berbincang tentang hal yang rahasia kepada teman kita. Demikian pula sebaliknya, kita menyimak informasi rahasia dari teman-teman kita. Mungkin saja terkait dengan masalah keluarga, pertemanan, problem pribadinya, kesulitannya, atau hal-hal surprise yang tak ingin diketahui oleh orang lain. Pinginnya kita pembicaraan tersebut benar-benar hanya dikonsumsi terbatas. Sayangnya, meskipun sudah dikatakan rahasia sering kali terjadi masalah yang diperbincangkan akhirnya sampai juga di telinga banyak orang. Teman yang diajak bicara dengan tanpa bersalah mengatakan pada orang lain lagi, “Jangan bilang-bilang ya”. Orang berikutnya pun bilang yang sama pada orang lain, “Secret lho, Dik. Hanya kamu yang aku beri tahu.” Demikian seterusnya hingga akhirnya, informasi yang sifatnya rahasia menjadi rahasia umum. Apalagi jaman sekarang, informasi yang rahasia dapat berubah menjadi viral di media social. Gara-gara orang yang diajak bicara nggak bisa menyimpan rahasia. Subhanallah! Tentu saja perbuatan suka membocorkan rahasia orang lain bukan perbuatan yang terpuji. Sobat, menjaga rahasia saudara sesama muslim dan tidak menyebarkannya termasuk bentuk kesempurnaan akhlak seseorang. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpesan,

إِذَا حَدَّثَ الرَّجُلُ الحَدِيْثَ ثُمَّ الْتَفَتَ فَهِيَ أَمَانَةٌ

“Apabila seseorang seseorang menyampaikan suatu pembicaraan kemudian ia menoleh maka itu adalah amanah.” (Riwayat at-Tirmidzi dan dinyatakan hasan oleh Al-albani dalam shahih At-tirmidzi no 1959)
Maksudnya apabila ada seorang yang mengajakmu berbicara tentang sebuah hal yang rahasia, tidak untuk dipublikasikan secara umum maka itu merupakan amanah bagimu untuk menjaganya. Kamu tidak boleh menyebarkannya. Ibnu Ruslan mengatakan bahwa menolehnya orang itu menunjukkan pada orang yang diajak bicara bahwa ia takut kalau pembicaraannya didengar oleh orang lain. Dia hanya mengkhususkan para orang yang diajak bicara saja. Menoleh ke kanan dan kekiri tadi seolah-olah ia berkata, “Dengarkan dan simpan pembicaraan ini baik-baik.” Nah, kita tentu paham bahwa menolehnya orang tersebut untuk memastikan tak ada orang lain yang mendengarnya. Kalau temanmu sudah menyampaikan sebuah informasi rahasia berarti ia telah memberikan kepercayaan padamu. Maka jangan kamu khianati kepercayaan yang telah diberikannya.
Imam Al-ghazali menyebutkan, “Menyebarkan rahasia merupakan bentuk khianat. Ini perbuatan haram apabila dalam menyebarkannya terdapat mudharat. Serta tercela apabila tidak ada padanya mudharat.” Bila sekarang sudah tahu hukumnya, masih nekat mau menyebarkan rahasia? Astaghfirullah, tidak pantas. Menyebarkan rahasia orang lain termasuk bencana bagi lidah kita. (aw)

Related posts

Leave a Comment