Curhat Bumi Curhat Langit

“Gimana ya, Pit. Aku sudah nggak tahan lagi. Amira benar-benar kelewatan banget sama aku,” keluh Rusyda sembari menghapus air matanya. Tak terasa, bulir-bulir air mata bening Pipit ikut jatuh mendengar kisah sahabatnya.

Curhat pada teman. Berbagi cerita pada kawan karib. Tak asing dari aktivitas keseharian kita. Yah, ini kelebihan hidup bersama berorang lain. Bisa saling berbagi, di sela-sela berbagai peristiwa kehidupan yang kita alami. Diantara sedih dan gembira, suka maupun duka. Ketika kebahagiaan tiba, canda tawamu pecah begitu saja. Namun di kala susah, tawa itu sirna berganti duka, sedih hingga tetes air mata.

“dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.” (An-Najm:43)

Kedukaan terkadang membuat sesak dada dan dunia terasa sempit. Semua problematika rasanya ingin segera dibuang. Pinginnya semua ditumpahkan agar dada terasa plong. Teman yang tepercaya pun kamu datangi untuk membagi persoalanmu.  Bla, bla bla semua kamu sampaikan padanya. Terasa lebih enteng, walaupun seringkali temanmu tak menyampaikan solusi apapun yang mengena. Kamu telah merasa cukup meski sekadar berbagi cerita.

Banyak Tak Elok

Boleh kah mengadukan masalah atau curhat pada orang lain? Jawabnya sama dengan pertanyaan bolehkah kita minta tolong pada orang  lain. Selama orang lain mampu melakukannya maka tentu saja diperbolehkan. Orang yang dicurhati pun kalau mampu hendaknya berusaha membantu.

اللهُ فِيْ عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِيْ عَوْنِ أَخِيْهِ

“Allah itu akan menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya.” (Hadits shohih riwayat Muslim)

Meskipun demikian, terlalu sering mengadukan masalah pada orang lain bukan perkara yang elok untuk dilakukan.  Kenapa demikian? Diantara alasannya, karena problem yang kita hadapi sangat banyak. Cobalah bayangkan bila setiap permasalahan yang kamu hadapi selalu disampaikan pada orang lain alangkah repotnya tempat curhatmu.

Kedua, orang yang jadi tempat curhat juga manusia biasa. Jangan dikira hanya kamu sendirian yang punya masalah dalam hidup. orang lain juga punya masalah yang tidak sedikit dalam kehidupannya. Bila engkau selalu curhat padanya, maka kamu akan jadi masalah berikutnya untuk dirinya. Ketiga, orang juga punya rasa capek, jenuh, sedih, atau mood yang lagi hilang. Kalau sudah kasip ketergantungan pada orang lain maka apa jadinya jika orang tersebut sedang capek, sedih dan bête. Apa kamu nggak punya kasihan sama orang lain. Keseringan curhat boleh jadi malah membuat temanmu jadi sebel padamu. Berikutnya, terlalu sering curhat menunjukkan lemahnya sikap kedewasaanmu dalam menghadapi berbagai permasalahan kehidupan. Seolah-olah kamu nggak pede dengan kemampuan yang Allah telah berikan kepadamu untuk survive dalam kehidupan. Yang lebih penting lagi, terlalu sering curhat pada manusia melemahkan rasa ketergantungan kita pada Allah Ta’ala. Alhasil, bolehlah kamu curhat asalkan masih dalam batas-batas kewajaran, jangan ekstrim alias kelewatan.

Curhat di status

“Menangisi nasib diri yang tidak beruntung.” tulis Nana di status facebooknya hari ini. “Dia nggak sayang lagi sama aku,” status Dewi di WA-nya. “Dipelototi satpam kampus,” keluh Rafi’. “Motor tua mogok melulu.” dan berbagai status yang bersliweran di media social. Kadang ini dilakukan tanpa dipikir panjang oleh banyak orang. Curhat melalui akun media social, apakah facebook, whatsapp, bbm, line atau yang lain.

Secara kasat mata memang sih tidak ngomong pada orang lain face to face. Hanya sekadar nulis kondisi terkini yang kamu sedang rasakan, begitu yang banyak dirasakan banyak orang. Padahal sebenarnya ini setali tiga uang dengan curhat pada orang lain. Bahkan kalau boleh dibilang curhat ini lebih luas sasarannya. Kalau curhat secara langsung, paling-paling hanya pada satu dua orang yang kamu percaya. Berbeda dengan curhat melalui status, semua kawanmu bisa melihat dan membacanya. Apakah mereka kemudian akan memberikan solusi padamu tentang permasalahannya? Tunggu dulu, kalau itu belum pasti. Kalau mereka belum pasti akan ngasih solusi, lantas ngapain sering-sering curhat sama mereka?

Sering-seringlah Pada Allah

Sering minta pada manusia, akan membuat manusia tidak suka. Berbeda dengan sering-sering minta pada Allah, justru Allah semakin cinta pada kita. Sering mengadu pada manusia bisa membuat diri jadi tercela. Sedangkan sering mengadu dan meminta pertolongan pada-Nya, membuat manusia semakin mulia.

Bagaimana tidak, doa merupakan salah satu bentuk ibadah yang agung. Jadi, kalau orang banyak berdoa artinya semakin banyak beribadah pada Allah. Orang yang banyak beribadah pada Allah tentu akan semakin dicintai oleh Allah.

Dan Rabbmu berfirman:”Berdo’alah kepada-Ku,niscaya akan Ku-perkenankan bagimu.

Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka

Jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS. 40:60)

Nabi Muhammad juga mengungkapkan secara tegas,

“Doa itulah ibadah.” (Riwayat At-Tirmidzi)

Tidak bisa dipungkiri, kamu pasti menghadapi banyak masalah dikehidupan dunia ini. Meski dibekali dengan berbagai perangkat untuk survive di kehidupan, terkadang ada masalah tertentu yang terasa berat untuk dihadapi. “Bruukk” sebagian masalah kadang seolah menubruk, berat untuk dilawan. Masalah-masalah hidup yang berat juga pernah menimpa pula para nabi dan rasul Allah, manusia yang paling tinggi keimanannya. Nabi Ya’kub misalnya. Merasakan beban berat ketika berpisah dengan dua orang anak yang dikasihinya. Yusuf dan Bunyamin. Ia juga mengeluh, tidak pada makhluk yang sama-sama lemah, tapi pada Allah Ta’ala saja.

“ Ya’qub menjawab:”Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan

kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya”. (Yusuf:86)

Problem, kesulitan, dan berbagai masalah sangat mungkin menyambangi kehidupan kita. Maka adukan dan keluhkan saja pada Allah yang Maha Kuasa. Kamu tak akan pernah kecewa dengan pengaduanmu pada-Nya. Yakin saja! (**)

 

 

 

Related posts

Leave a Comment