Keriduan Ada di Mihrabnya

Kesungguhan mereka dalam ibadah menakjubkan. Menimbulkan decak kagum yang tiada habisnya. Yah, merekalah orang-orang saleh terdahulu, para salafus saleh. Membaca kisah kesungguhan mereka, membuat diri merasa tak punya apa-apa. Berikut diantara kesungguhan mereka dalam ibadah.

Kerinduan hidup mereka adalah untuk beribadah. Menghinakan diri para Rabbnya. Sufyan bin Uyainah pernah berkata, “Janganlah kalian seperti hamba yang buruk. Bila dipanggil baru datang.” Maksudnya datanglah ke masjid sebelum adzan berkumandang. Begitu pula Adi bin Hatim berkata,”Tidaklah waktu shalat datang kecuali aku telah bersiap-siap menyambutnya, sementara aku dalam kondisi merindukannya.” Ada pula Abdullah bin Zubair, apabila sedang melakukan sujud maka burung pun bertengger di atas punggungnya karena mengira itu benda mati.

Manshur bin Mu’tamir rahimahullah senantiasa menjalankan shalat di atas atap rumahnya. Ketika ia telah meninggal dunia, gadis kecil anak tetangganya bertanya pada keluarganya, “Ayah, dimanakah batang kayu yang ada di atas atap rumah Manshur, tetangga kita?”  Sang ayah menjawab, “Wahai putriku, itu dulu bukan batang kayu. Tapi itulah Manshur.” Karena lamanya berdiri dalam shalat maka  gadis kecil itu menyangkanya sebuah tiang kayu.

Mereka senantiasa istiqamah dalam menjalankan ibadah tidak berhenti di tengah jalan. Hammad bin Salamah, salah satunya. Apabila dikatakan padanya bahwa ia akan meninggal esok pagi maka ia tidak akan mampu menambah amal kebaikan lagi. Karena ibadahnya sudah ia usahakan maksimal. Demikian pula Sufyan bin Uyainah, adalah pribadi yang sangat tekun beribadah. Dia berdoa pada Allah agar dimudahkan untuk menunaikan ibadah haji setiap tahunnya. Hingga sampai umurnya 91 tahun Allah senantiasa mengabulkan doanya. Maka di saat ia berusia 91 tahun tersebut ia tidak berdoa meminta haji lagi. Ia berkata, “Aku telah malu pada Rabbku.” Maka ia meninggal menghadap pada Allah di tahun tersebut.

Sebagian di antara orang shalih terdahulu berkata pada saudarinya ketika dia hendak meninggal, “Jangan menangisiku, karena sungguh aku telah mengkhatamkan Al Quran di kamar ini sebanyak 4 ribu kali.” Sedangkan Abu Bakr bin Ayyas –rahimahullah- dahulu mengkhatamkan Al-Quran lebih banyak dari itu. Dia tergolong ahli qiraah dan dikenal telah mengkhatamkan Al-Quran ribuan kali sepanjang umurnya.

Sejuknya Ibadah Mereka

Para shalihin menjadikan ibadah sebagai penyejuk hati dan mereka merasakan lezat dalam jiwa-jiwa. Pernah terjadi ada seseorang diantara mereka yang sedang sujud di tempat shalatnya. Tiba-tiba orang-orang berteriak panik, “Kebakaran, kebakaran!” orang itu tetap bersujud dan tidak mengangkat kepalanya. Setelah selesai shalat, dan orang-orang mengeluarkannya dari rumah yang terbakar itu mereka mencelanya. “Apa kamu nggak mendengar teriakan ‘ada api, ada api’?! Ia menjawab, “Aku  tengah disibukkan dengan api yang lain (neraka).”

Diantara mereka ada yang mengungkapkan, “Aku tidak pernah tertinggal dari takbiratul ihram sejak beberapa puluh tahun.” Sebagiannya lagi menyebutkan, “Aku belum pernah  melihat punggung orang lain dalam shalat sama sekali.” Hal ini dikarenakan dia senantiasa shalat di shaf pertama dalam shalat berjamaah. Orang-orang shalih tersebut adalah pribadi yang terus-menerus beramal ketaatan. Diantara manfaat senantiasa konsisten dalam beribadah adalah apabila orang  tersebut sakit atau bersafar maka akan dituliskan pahala baginya seperti amalan yang dilakukannya ketika tidak sakit dan tidak bersafar. Taat pada Allah tak hanya semusim saja. (**)

Related posts

Leave a Comment