Wahb bin Munabbih dan Utusan Setan

Ruhnya yang baik, insya Allah, berpisah dari jasadnya pada bulan Muharram tahun 114 Hijriah, demikian dipaparkan oleh Abdush-shamad bin Ma’qil. Menutup perjalanan hidup penuh makna seorang anak manusia shalih yang namanya tak terhapus dari catatan sejarah umat Islam. Ya, dialah Wahb bin Munabbih bin Siij bin dzi kibar, Abu Abdillah Ash-Shan’ani. Lahir pada masa Utsman bin Affan, pada sekitar tahun 34 Hijriyah.

Karena nikmat Allah, ia mendapat keutamaan untuk bertemu dengan dengan beberapa shahabat Nabi Muhammad  yang masih hidup di masa itu. Tangan dingin para sahabat turut mewarnai kehidupan ilmiah dan amaliyah Wahb bin Munabbih di masa-masa selanjutnya. Diantara sahabat nabi yang menjadi tempatnya menimba ajaran Islam antara lain, Abdullah bin Abbas, Abu Hurairah,Abu sa’id al-Khudry, Nu’man bin Basyir, Jabir bin Abdillah dan Amru ibnul Ash semoga Allah meridhai mereka semua. Bertemu dengan shahabat Nabi tentu saja merupakan anugerah yang ternilai bagi Wahb bin Munabbih muda. Nikmat yang tak bisa digantikan dengan emas dan perhiasan dunia.

**

Wahb bin Munabbih termasuk pribadi yang mengendalikan  jiwanya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ia selalu konsisten untuk mempelajari ilmu agama, dan bersungguh-sungguh ibadah serta konsentrasi dalam kehidupan zuhud.

“Wahb bin Munabbih danThawus al Yamani mengerjakan shalat Subuh dengan wudlu shalat Isya’ yang dia lakukan selama empat puluh tahun,” kisah Abdul Mun’im bin Idris dari ayahnya. Artinya, selama empat puluh tahun keduanya mengisi waktu malam sepenuhnya untuk beribadah pada Allah Ta’ala.

Abdul Mun’im juga berkisah bahwa suatu saat ia bersama Wahb menginap di rumah seseorang. Di malam hari anak wanita pemilik rumah keluar, ia melihat seberkas cahaya lampu. Kaget, ia buru-buru masuk memberi tahu sang ayah kejadian yang ditemuinya. Pemilik rumah pun menyelidiki apa sebenarnya yang tengah terjadi. setelah mencermati dengan seksama ternyata ia menemukan bahwa kedua kaki Wahb-lah terlihat putih bersinar layaknya cahaya matahari. Keesokan harinya, pemilik rumah pun bercerita pada Wahb peristiwa yang dilihatnya semalam. “Jangan Anda ceritakan apa yang sudah Anda lihat.”

Wahb merupakan pribadi yang tekun beribadah, banyak menelaah kitab-kitab dan sering menasihati orang lain. Pernah ia memberikan nasihat  pada Atha’ al-Khurasani, seorang ulama Makkah.”Para ulama sebelum kita telah merasa cukup dengan ilmu mereka dari harta dunia orang lain. mereka tidak pernah menoleh pada dunia orang lain. sedangkan ahli dunia berupaya memberikan dunia mereka pada para ulama agar memperoleh ilmu mereka. Sedangkan hari ini ahli ilmu justru berupaya memberikan ilmu mereka pada ahli dunia demi meraih bagian harta dunia mereka. Akibatnya ahli dunia pun merasa tidak butuh dengan ilmu mereka ketika melihatnya buruknya kedudukan ahli ilmu di sisi mereka. Hati-hatilah dari pintunya para penguasa, karena di samping pintu tersebut ada fitnah-fitnah layaknya tempat menderumnya unta. Tidaklah engkau mendapatkan suatu bagian dari dunia mereka kecuali mereka akan memberikan musibah pada agamamu yang semisalnya.”

seorang pria datang menemui Wahb. “Aku berencana untuk tidak bergaul dengan manusia,” kata orang itu. “Jangan engkau lakukan hal itu,” nasehat Wahb. “Karena sebenarnya tidak bisa tidak engkau mesti bergaul dengan manusia. Pasti mereka akan membutuhkanmu dan kamu pun membutuhkan mereka.” lanjutnya. “Akan tetapi jadilah engkau di tengah-tengah mereka seperti orang pekak yang mampu mendengar, buta yang mampu melihat dan bisu yang mampu bicara. Maafkan dan ampuni orang yang berbuat salah padanya.”

**

 

Maula Fadhl bin Iyas berkata, ketika itu aku sedang duduk-duduk dengan Wahb bin Munabbih. Datanglah seorang pria yang kemudian berkisah, “Aku tadi melewati si fulan yang sedang mencela dirimu.” Wahb marah dan berkata, “Rupanya setan tidak menemukan orang yang jadi utusannya selain dirimu.” Maulah fadl terus berkisah, “Aku masih bersama Wahb hingga orang yang mencelanya datang menemuinya. orang itu mengucapkan  salam. Wahb pun membalas salamnya, menyalami tangan orang itu dan mengajaknya duduk di sampingnya.” Masyaallah..

Wahb bin Munabbih pernah menyampaikan sebuah ungkapan, “Ilmu merupakan teman karib seorang mukmin, ketenangan adalah perdana mentrinya, akal penunjuk jalannya, amalan merupakan penegaknya, kesabaran adalah panglima perangnya, kelemah-lembutan adalah ayahnya dan kesantunan adalah saudaranya.”

Semoga Allah merahmati Wahb bin Munabbih. Aamiin. (**)

Related posts

Leave a Comment