Imam Jalaluddin As-Suyuthi Pakarnya 7 Ilmu

Imam Jalaluddin As Suyuthi. Seorang ulama kenamaan. Pakar dalam berbagai disiplin ilmu. Memilih menekuni dan menyebarkan ilmu. Menjauhi glamour dan godaan berdekat-dekat dengan penguasa di masanya.

 

Imam Al-Hafidz Abul Fadhl Jalaluddin Abdur Rahman bin Abu Bakar bin Muhammad bin Sabiq Al-Khudhari As-Suyuthi.  Demikian nama lengkapnya. Kota Kairo malam Ahad, di bilangan Rajab 849 H menjadi saksi  kelahirannya. As-Suyuthi lahir di keluarga yang religius lagi cinta ilmu. Sang ayah adalah seorang ulama shalih nan berilmu, menjadi referensi putra para ulama dan pencari ilmu untuk menimba ilmu kala itu. Dengan hikmah-Nya, Allah tak menghendaki sang ayah mengasuh as-Suyuthi hingga dewasa. Di usia As-Suyuthi ke 6 ayahnya kembali keharibaan Ilahi. Sehingga ia tumbuh dalam kondisi yatim. Namun kecintaan pada ilmu agama telah meresap pada darah daging keluarganya. Di kala itu pula As-Suyuthi mulai menghafalkan al-Qur’an, yang dirampungkannya sebelum usia 8 tahun. Setelah itu, ia mulai menghafalkan beberapa kitab di usianya yang belia. Seperti kitab “al-Umdah”, minhajul fiqhi wal ushul, dan alfiyah ibnu Malik. Para ulama teman-teman sang ayah turut memberikan perhatian pada Suyuthi. Diantara mereka adalah Al Kamal bin Al Hammam al-hanafi. Dia seorang fuqoha’ besar di masa itu, yang memberikan pengaruh pada jiwanya. Khususnya dalam hal menjaga  jarak dengan  penguasa dan kekuasaan. Dari sini tampak jelas bagaimana masa kecil As-Suyuthi dipenuhi dengan semangat dalam menuntut ilmu agama. Sebagaimana juga menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya perhatian terhadap ilmu dan nilai ilmu dalam tarbiyah.

Mengajar Di usia Belia

Masa itu para ulama dari berbagai disiplin ilmu masih banyak bertebaran. Termasuk diantaranya ulama yang pakar dalam bidang bahasa arab dengan berbagai cabang-cabangnya. Dalam lingkungan yang kondusif inilah Suyuthi mereguk manisnya menuntut ilmu kepada para ulama-ulama besar. Ia mempelajari berbagai ilmu agama. Seperti ilmu fikih, nahwu, dan faraidh. Belum lagi berjalan dua tahun as-suyuthi telah  diperkenankan untuk mengajar bahasa. Bahkan di usianya yang 17 tahun  ia menulis kitab pertamanya, “Syarh Al-Istiadzah wal basmalah”. Karyanya itu memperoleh pujian dari sang guru Alamuddin al-Bilqini. Suyuthi dikenal luas pengetahuan dan memiliki banyak ilmu. Ia mengungkapkan tentang dirinya, “Aku telah diberikan  rezeki- dan hanya milik Allah segala pujian- kepakaran dalam tujuh ilmu: tafsir, hadits, fikih, nahwu, ma’ani, al bayan dan al-badie’.” disamping ia juga menguasai ilmu-ilmu lain seperti usul fikih, jidal, tasrif, faraidh, qiraat yang ia pelajari secara otodidak. Meskipun demikian, dalam ilmu hisab dan mantiq as-Suyuthi tidak berusaha untuk menekuninya.

Sejaman 13 Raja

Imam As-Suyuthi hidup sezaman dengan 13 raja yang berkuasa. As Suyuthi yang memiliki banyak pengikut tampak berhati-hati dalam menjalin hubungan dengan penguasa. Ia pandai menempatkan diri dan menempuh jalan akhlaknya para ulama yang  bertakwa. Kedudukannya sebagai panutan manusia membuat para penguasa dan konglomerat mendatanginya dan menawarkan materi yang berharga padanya. Pernah ia diberikan hadiah berupa budak dan uang sebanyak seribu dinar. Maka ia terima budak tersebut lalu dia merdekakan dan dijadikan pelayan di masjid Nabawi. Sedangkan uang sebanyak seribu dinar ditolaknya. Ia berkata pada utusan sultan, “Jangan ulangi datang padaku dengan membawa hadiah apa pun, karena sungguh Allah telah mencukupi kami dari hal tersebut.” Sultan beberapa kali memanggilnya untuk menghadapnya, namun As-Suyuthi tetap tidak mau hadir.

Metode Belajarnya

Metode As-Suyuthi dalam belajar pada para gurunya adalah ia memilih salah satu diantara syaikh tersebut. Ia terus belajar pada Syaikh itu hingga meninggal setelah itu ia berpindah untuk belajar syaikh yang lain. Guru utama tempatnya belajar yaitu Muhyiddin al Kafiji. Ia belajar pada sang guru 14 tahun. Ia mengambil sebagian besar ilmunya dalam bidang  tafsir, ushul, bahasa arab, ma’ani.

Gurunya yang lain yaitu Syarafuddin al munawi. Darinya As-Suyuthi mempelajari al-Qur’an  dan fikih. Pada Taqiyuddin Asy-Syibli Imam As-Suyuthi mempelajari hadits selama 4 tahun. Ia juga belajar pada ulama lain meskipun berbeda madzhab. Sementara As-Suyuthi dikenal bermadzhab Syafi’I, ia berguru juga pada ulama bermadzhab Hanafi. Diantara mereka adalah Al-Aqshara’I, Jalaluddin Al-Mahalli dan ‘Alamuddin Al-Bilqini.

Belajar pada Guru Wanita

Tidak hanya berguru pada para ulama pria, Imam As-Suyuthi pun berguru pada suyukh (guru-guru) dari kalangan wanita yang mumpuni dalam keilmuan. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa kaum hawa juga bisa meraih derajat tinggi dalam ilmu agama. Di antara ulama wanita tempat As Suyuthi berguru yaitu Asiyah bintu Jarullah bin Shalih ath-Thabari, Kamaliyah bintu Abdullah bin  Muhammad al-Asfahani,Ummu Hani bintu Al-Hafidz Taqiyuddin Muhammad bin Muhammad bin Fahd Al-Makky, Khadijah bintu Faraj az-Zaila’I dan masih banyak yang lain.

Sang Imam sangat produktif dalam berkarya. Lebih dari  300 buku  dan karya  tulis yang dihasilkannya. Ada yang menyebutkan bahwa karyanya mencapai 500 kitab. Broklemen, seorang orientalis Jerman, menghitungnya ada sekitar 415 buah karya tulis Imam As-Suyuthi, ada yang sudah diterbitkan dan ada pula yang masih dalam bentuk manuskrip. Karyanya terpenting dalam bidang ilmu-ilmu Al-Quran dan tafsir yaitu Al-Itqan fi ulumil Qur’an, Mutasyabihul Qur’an,  dan Al Iklil fi Istinbath at-Tanzil. Terkait dengan hadits, Imam As-Suyuthi hafal 200 ribu hadits, seperti pengakuannya sendiri dalam kitabnya Tadribur Rawi. Asy-Syaukani berkata lagi tentang As-Suyuthi: “Beliau terkenal menguasai semua disiplin ilmu (agama), melampaui teman-temannya dan namanya terkenal di mana-mana dengan sebutan yang baik dan beliau juga telah mengarang kitab-kitab yang, berguna”.(**)

Related posts

Leave a Comment