Menerangi Tanpa Membakar Diri

“Udah ikut banyak kajian kok tingkahnya justru semakin kasar. Minus tata krama. Tak ada sopan santunnya pada yang lebih tua. Ibadahnya juga nggak tambah semangat. Shalat jamaah langganan jadi masbuk. Habis shalat langsung ngeluyur nggak dzikir..”

Itu, mungkin sebagian keluhan yang dialamatkan pada sebagian mereka yang mulai belajar agama. Sebagian ya, bukan semuanya. Tentunya fenomena tersebut perlu dicermati. Karena bertolak belakang dengan ilmu yang sudah dipelajari.

Sob, Allah tidak membiarkan kita hidup di dunia sia-sia nggak ada faedahnya. Hidup satu kali kok sia-sia, rugi banget. Oleh karena itu, Dia Ta’ala memberikan tujuan penting dalam hidup manusia. Yaitu untuk beribadah hanya kepadaNya. Tak hanya itu, Dia mengajarkan pula bagaimana cara beribadah yang benar padaNya. Seluruhnya dijelaskan melalui kitabNya, dan melalui manusia pilihan yang diutusnya yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapa yang mau menuntut ilmu, mempelajari Al-Quran dan as-Sunnah insya Allah akan mampu beribadah dengan benar. Artinya ilmu yang dipelajari akan bermuara pada praktek amal ibadah itu sendiri.

Nah, ternyata ada problem yang cukup serius. Yaitu bila seseorang belajar ilmu namun tidak diamalkan. Tentang hal ini, jauh-jauh hari Allah telah memberikan teguran,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat.” (Ash-Shaf: 2)

Nabi yang mulia mengatakan pada masyarakatnya,

وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ

“Dan aku tidak berkehendak mengerjakan apa yang aku larang kamu daripadanya.” (Huud: 88)

Nabi menjelaskan kepada masyarakatnya secara gamblang. Bahwa beliau mengamalkan ilmu yang diajarkan pada mereka, dan tidak menyelisihi hal tersebut. Tidak mungkin beliau menganjurkan kepada mereka sebuah perkara namun beliau malah meninggalkannya. Beliau tidak akan melarang mereka suatu perkara namun justru mengerjakan larangan tersebut.

Dicela Allah

Allah mencela tabiat orang-orang Yahudi, Ahli Kitab. Tanya, mengapa? Dijelaskan oleh Allah,

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat) Maka tidakkah kamu berpikir.” (Al-Baqarah:44)

Hal ini merupakan tabiat dan akhlak mereka, kaum Yahudi. Yup, mereka kadang sih memerintahkan kebaikan, tapi hobinya terus menerus meninggalkan kebaikan tersebut. Fenomena ini jelas merupakan penyimpangan berat. Sama pula bila kita  mengajak orang lain berbuat baik sebatas dalam perkataan sementara perbuatan malahan berkebalikan. Seseorang tidak akan menjadi teladan hingga dia mengamalkan apa yang diketahui dan diucapkannya. Di zaman ini, ilmu dan pengetahuan banyak tersebar. Situs-situs yang bermuatan ilmu tersebar luas. Media sosial pun berlimpah dengan pengetahuan. Grup belajar agama di whatsapp, telegram atau yang lain kaya dengan postingan artikel ilmu agama. Bila kita telah yakin dengan kebenaran ilmu tersebut apa kewajiban berikutnya yang datang? Kita sering mendengar banyak nasehat, khutbah dan ceramah. Namun bagaimana dengan praktik amalan dari ilmu yang kita telah dapatkan tersebut?

“Hai isteri-isteri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan dilipat gandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat.Dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah. Dan barang siapa di antara kamu sekalian (isteri-isteri Nabi) tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, niscaya Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezki yang mulia.” (Al-Ahzab: 30, 31)

Kenapa dilipatgandakan azabnya dua kali? Karena orang yang mengetahui kemudian menyelisihi ilmunya merupakan kesalahan yang fatal. (baru bagian pertama)

Related posts

Leave a Comment