Imam As-Sakhawi, Ahli Fatwa di Usia Remaja

Imam as-Sakhawi, lebih dikenal sebutan ini. Nama dan gelarnya adalah Syamsuddin Abu al-Khair Muhammad bin Abdurrahman bin Muhammad bin Abi Bakar bin Utsman bin Muhammad as-Sakhawi asy-Syafi’i. Ulama yang telah berfatwa sejak remaja.

Awal kehidupannya diawali dengan belajar ilmu syariat. Di usia belianya, ia telah hafal Al-Quran dan hukum-hukum bacaannya. Kitab para ulama dihafalkan di luar kepala.

Setelah itu ia mendatangi  ahli ilmu di masanya untuk menimba ilmu. Tak kurang dari empat ratus ulama menjadi pembimbingnya. Hal ini menunjukkan tentang kokohnya keilmuan Imam As-Sakhawi dengan belajar dari para guru yang pakar di bidangnya. Pemuda belia ini dikenal cerdas, cepat menguasai ilmu-ilmu yang dipelajari. Hingga para gurunya tak segan memberikan ijazah padanya, bahkan memperbolehkannya berfatwa sebelum usianya memasuki dua puluh tahun.

Guru Pertama

Imam Ibnu Hajar al-asqalani merupakan guru paling utama dari Syamsuddin as-Sakhawi. Wajarlah, karena kedekatan antara sang guru dan murid yang terjalin sepanjang hayat mereka. Ibnu Hajar kala itu menempati posisi ilmiah terdepan di Mesir kala itu. Bahkan sang guru telah mencapai puncak berbagai ilmu pengetahuan, terlebih dalam bidang hadits dan syariah. Perkenalan as-Sakhawi dengan gurunya dimulai di tahun 838 H. Ketika itu usianya belum lagi melewati delapan tahun. Bersama sang ayah as-Sakhawi kecil hadir di majelis gurunya untuk mendengarkan pelajaran hadits. Pada sang guru, as-Sakhawi banyak mempelajari hadits. Demikian pula belajar tarikh dan biografi para ulama. Namun Ibnu Hajar bukan satu-satunya guru As-Sakhawi. Karena di saat yang sama ia pun menimba ilmu pada ulama yang lain. As-Sakhawi sendiri sampai menyebutkan jumlah guru tempat ia belajar yang mencapai lebih dari empat ratus guru. Meskipun Ibnu Hajar merupakan guru paling favoritnya. As-Sakhawi mengisahkan bahwa ia tidak pernah lepas berhenti dalam belajar secara rutin pada sang guru. Ia meninggalkan belajar pada gurunya karena takut kehilangan. Bahkan ia tidak melakukan perjalanan yang jauh untuk belajar maupun berhaji kecuali setelah wafatnya Ibnu hajar al-asqalani. Ia hanya belajar pada guru-guru yang tinggal di mesir ataupun yang datang ke Mesir dalam jumlah yang banyak. Hubungan antara sang guru dengan murid itu terus terjalin indah hingga Ibnu hajar meninggal dunia pada tahun 852 H.

Perjalanan Ilmiah

Meninggalnya Ibnu Hajar, sang guru, membuka lembaran hidup kedua bagi as-Sakhawi. Periode belajar dan menuntut ilmu di luar negri Mesir. Ia melakukan perjalanan ke banyak kota dan negri lain untuk memperoleh ilmu. Ia pergi ke Dimyath, Manshurah, dan rasyiid, serta negri-negri lain. Selanjutnya ia melakukan rihlah ke Makkah, Madinah, Damaskus, Halb, Baitul Maqdis, Nablus. Di negri-negri tersebut ia menimba ilmu dari banyak ulama-ulama. Saat itu usianya masih 28 tahun, namun ia menonjol dalam beragam ilmu agama. Buah dari belajarnya pada Ibnu Hajar. Ia telah memperoleh warna tersendiri dari sang guru dalam hal keilmuan. Boleh dibilang as-Sakhawi adalah pewaris ilmu Ibnu Hajar, pemimpin dan pengibar panji madrasah ilmu yang dibangun oleh Ibnu Hajar hingga akhir abad kesembilan. Ketika panggilan Allah tiba As-Sakhawi pergi ke Makkah dan Madinah dalam untuk berhaji. Kesempatan tersebut digunakannya dengan baik untuk belajar pada para ulama di dua kota suci tersebut. Setelah haji ia kembali ke Mesir, untuk selanjutnya melakukan perjalanan lagi ke daerah Iskandariyah dan tinggal disana beberapa lama. Tidak berhenti sampai di situ, ia kembali mengunjungi berbagai ibu kota negri-negri islam di masa itu untuk belajar pada ulama ahli ilmu. Setelah bertahun-tahun menuntut ilmu Imam As-Sakhawi kembali ke Mesir. Kali ini ia pulang untuk mengajarkan ilmu yang telah diperolehnya. Berbagai bidang ilmu ia ajarkan, terlebih ilmu  hadits. Kadang-kadang ia sampaikan di rumahnya, kadang di ma’hadnya. Demikian pula ia menggunakan waktunya untuk mengajar di berbagai madrasah yang ada di kota Kairo.Para penuntut ilmu berdatangan mengambil ilmu dari sang ulama. Pada tahun 870 H ia bersama keluarganya pergi menunaikan ibadah haji untuk kali keduanya. Turut pergi bersamanya teman sekaligus gurunya An-Najm bin Fahd al-Hasyimi, seorang ulama masa itu. Di sana ia mengajarkan ilmu selama beberapa waktu. Pada tahun 885, As-Sakhawi kembali menunaikan ibadah haji untuk ketiga kalinya. Selama satu tahun ia tinggal di kota Makkah untuk mengajarkan ilmu. Di tahun 887 H, 892 dan 894 H ia melakukan ibadah haji kembali. Sehingga kota Makkah seolah menjadi kota kedua baginya. Disana ia pun banyak menghasilkan karya tulis ilmiah.  Diantara karyanya adalah Al-Maqashid al-Hasanah fi al-Ahadits al-Musytahirah ‘ala al-Alsinah,  Al-Ghayah fi Syarhi al-Hidayah fi ‘ilmi ar-Riwayah, Syarh asy-Syama`il an-Nabawiyyah li at-Tirmidz, Adh-Dhau` al-Lami’ fi A’yani al-Qarni at-Tasi’ dan masih banyak yang lain. Ketika kembali ke Kairo pada tahun 898 H, As-Sakhawi  lebih banyak tinggal di rumahnya. Ia enggan untuk memberikan pelajaran di ma’had-ma’had maupun halaqah kajian umum. Demikian pula ia menarik diri dari memberikan fatwa, dan mencukupkan diri dengan mengajar pada murid-murid khusus di rumahnya. Di usianya yang ke 70 tahun ia telah mencapai kedudukan tinggi dalam pengetahuan, terlebih dalam bidang hadits. Semoga Allah merahmati Imam As-Sakhawi. (**)

 

Related posts

Leave a Comment