Syaikh Muhammad bin Amin Asy-Syinqithi Dan Teh Hijau Itu

Syaikh Athiyah Muhammad Salim, salah satu murid syaikh asy-Syinqithi- pernah mendapat cerita dari sang guru. Kata Syaikh asy-Syinqithi,“Suatu hari, aku datang untuk belajar pada guruku. Beliau menjelaskan pelajaran padaku sebagaimana biasanya. Akan tetapi aku mendapatkan kehausanku pada ilmu belum hilang. Selesai belajar aku ingin menghilangkan sebagian keraguanku (tentang sebagian pembahasan) dan menguak masalah yang masih samar. Waktu itu siang hari. Aku pun mengambil buku-buku serta referensi yang ada. Aku melakukan penelaahan hingga tiba waktu ashar. Belum selesai. Waktu maghrib tiba. Pembantuku menghidupkan penerangan. Aku terus membaca. Bila rasa malas mulai muncul, aku meneguk minuman teh hijau. Hingga waktu fajar tiba. Aku terus berada di tempat duduk itu. Tidak bangkit kecuali untuk shalat atau menyantap makanan. Sampai selesai penelaahanku dan hilangnya kesamaran masalah bagiku.”

Syaikh Muhammad bin shalih utsaimin punya pengalaman unik tentang gurunya itu. “Ketika itu aku menjadi mahasiswa di al-Ma’had di kota Riyadh. Kami sedang berada di ruang kelas menunggu kedatangan dosen tafsir. Lalu seorang syaikh muncul dan masuk kelas. Kondisinya sangat sederhana dalam berpenampilan dan berpakaian. Seperti layaknya orang-orang badui. Dalam diriku berucap, “orang ini sepertinya tidak punya ilmu.’ “Kenapa bisa aku tinggalkan Syaikh Abdurrahman as-Sa’di di Unaizah dan kusia-siakan waktuku untuk belajar pada Badui seperti ini?!”

Pelajaran pun dimulai. Dosen itu, yang ternyata adalah Asy-Syinqitihi menjelaskan tentang tafsir. Ia menguraikan kepada kami mutiara-mutiara ilmu. Faidah dan bukti berharga dalam tafsir kalamullah. Ia sampaikan bukti-bukti dalam bahasa Arab dari lautan sastra yang luas. Maka tahulah aku bahwa kami sedang berada di hadapan seorang yang sangat alim. Seorang ulama yang sangat  cemerlang. Kami pun memperoleh faedah banyak dari ilmu, perilaku, akhlak dan sikap wara’-nya.”

Related posts

Leave a Comment