Bila Bersyair Ia Laksana al-Mutanabbi

Pribadi yang sangat alim. Ahli tafsir. Muhammad bin Amin bin Muhammad al-Mukhtar Asy-Syinqithi. Bila membahas tentang tafsir, ia bak Imam Ath-Thabari. Jika bersyair ia laksana al-mutanabbi. Apabila menguraikan tentang hadits ia seolah Ibnu Hajar al-Asqalani. Yah, dia pakar dalam tafsir, syair, sastra. Dan berbagai ilmu agama.

Dialah pula penulis kitab tafsir fenomenal adwa-ul bayan. Lahir pada tahun 1325 H.Di pertengahan Benua Afrika. Di sebuah daerah bernama Syinqith ia tumbuh berkembang. Syaikh Muhammad Amin kecil tumbuh dalam kondisi Yatim. Ia menghabiskan masa kecilnya di rumah pamannya dari jalur ibu. Alhamdulillah, tempat tersebut adalah rumah ilmu. Ia menghafalkan al-Quran dibimbing sang paman. Sebelum usia 10 tahun ia telah menyelesaikan seluruh hafalannya. Sedangkan ilmu sastra dan bahasa Arab dia pelajari dari sang bibi. Dengan itu, madrasatul ‘ula baginya adalah rumah sang paman. Sebaik-baik rumah. Kemudian ia belajar ilmu-ilmu dien yang lain. Ia belajar fikih madzhab Maliki-yang tersebar di negrinya-. ia belajar Mukhtashar khalil pada Syaikh Muhammad bin Shalih hingga bab ibadah. Pun belajar alfiyah ibnu Malik dalam nahwu padanya. Disamping itu, ia belajar pada banyak guru. Semuanya dari suku Jakni. Sebuah suku yang dikenal dengan kekayaan ilmunya. Syaikh sangat menonjol dalam berbagai ilmu, hingga melampui seluruh kawannya. Karena kesibukannya belajar, membuatnya terlambat untuk menikah. Ketika masa belajarnya selesai, ia mengajar di negri asalnya itu.

Tinggal di Tanah Suci

Seorang muslim tentu selalu rindu untuk berhaji ke baitullah. Begitu pula syaikh asy-Syinqithi. Ia pergi dari negrinya menuju tanah suci untuk berhaji. Niatnya semula, segera balik ke negrinya usai ibadah haji. Sejak dari negrinya ia telah mendengar tentang gerakan wahabiyah di negri saudi. Berita buruk tentu saja, sebagaimana kabar itu tersebar di negri-negri lain.  Namun dengan keutamaan dari Allah dan karuniaNya, saat berhaji tanpa diduga ia mendapat kemah di sebelah kemah Amir Khalid as-Sudairi. Salah satu pemimpin Saudi saat itu. Keduanya tentu tidak saling mengenal. Kala itu sang Amir bertanya pada teman duduknya tentang sebuah bait sastra. Karena ia suka dengan syair. Tanpa direncanakan ia bertanya pada syaikh. Maka ia dapatnya Syaikh laksana lautan luas dalam ilmu sastra Arab. Dari pertemuan tersebut Sang Amir menasihatinya untuk berjumpa dengan ulama Madinah kala itu yaitu Syaikh Abdullah Zakhim dan Syaikh Abdul Aziz bin Shalih. Nasihat itu dilaksanakan syaikh. Di Madinah ia bertemu kedua ulama tersebut untuk berdiskusi tentang  hakikat wahabiyah.  Diskusi tersebut sempat berlangsung beberapa kali. Hingga akhirnya Syaikh memperoleh keyakinan bahwa metode beragama Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah manhaj yang lurus akidahnya. Bersandar pada kitab dan sunnah. Merupakan jalan yang telah ditempuh oleh salaful ummah. Penamaan dan sebutan wahabi, justru dibuat oleh orang-orang yang benci pada gerakan pemurnian akidah. Dengan itu, ia pun berniat untuk tinggal di masjid nabawi untuk mengajar materi tafsir.

Beliau dipilih menjadi pengajar di ma’had ilmi di Riyadh saat awal dibuka. Ketika liburan beliau manfaatkan waktu dengan mengajar di masjid Nabawi. Beliau juga memiliki peran besar dalam mendirikan Universitas Islam Madinah. Kemudian beliau juga ditunjuk sebagai salah satu anggota majelis ulama senior di awal-awal pembentukannya. Demikian pula beliau menjadi salah satu anggota majelis pendiri Ikatan Ulama Fiqh dunia Islam.Semoga Allah merahmati Syaikh Asy-Syinqithi. (**)

Related posts

Leave a Comment