Bukan Musibah Tapi Anugerah

Kamu mungkin tidak suka dengan sesuatu. Padahal boleh jadi hal tersebut baik untuk dirimu. Sebaliknya, bisa jadi ada perkara yang  kamu sukai namun hakikatnya justru  buruk bagimu.

 

Umumnya manusia akan sedih ketika tertimpa musibah, kesulitan atau kegagalan. Kamu begitu juga kan? Sedih itu wajar kok asalkan tidak berlebih-lebihan. Contoh berlebih-lebihan seperti mengumpat takdir, menangis meraung-raung, membanting barang-barang, menjambak rambut atau merobek-robek pakaian. Kenapa kita kok bisa merasa sedih dan terpukul saat mendapat cobaan hidup di dunia ini. Padahal hidup kan Cuma sebentar? Kita juga nggak suka dengan sedikit cobaan kesulitan yang kita. Misalnya saja diuji dengan sakit, siapa sih  yang senang sakit. Salah satu penyebabnya adalah karena kita tak mengetahui hal-hal yang ghaib termasuk hikmah dibalik ujian hidup tersebut di masa depan. Bahasa lainnya, “kita jahil dengan masa depan kita.” Beda dengan Allah Ta’ala yang mengetahui segala sesuatu. Makanya Allah menyebutkan,

وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahu, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah 216)

Hampir senada dengan ayat di atas, Allah juga menyampaikan,

“Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah

menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An-Nisa’: 19)

Ilmu Allah meliputi yang kejadian lalu, sekarang dan yang akan datang. Tidak ada yang tersembunyi bagi Allah. Ketika Allah mengatakan “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu” maka Dia Ta’ala sebenarnya tengah menjelaskan tentang lemahnya manusia dalam mengetahui hal-hal di masa depan. Seandainya manusia mengetahui hakikat masa depannya tentu mereka tidak akan terlalu larut dalam kesedihan dan keputusasaan. Karena Allah menyebutkan kesudahan akhir yang menyenangkan. Bahwa setelah adanya ujian ada kesuksesan, setelah kesedihan ada kegembiraan. Ini semua merupakan ketetapan dari Allah pada makhluk-Nya. Seorang hamba pasti akan mendapatkan takdir yang buruk di dalam kehidupannya,  berupa musibah dengan kehilangan harta, jiwa, sakit, kesedihan, ketakutan dan semua hal yang nggak disenangi oleh jiwa manusia. Meski demikian, seorang mukmin yakin bahwa Allah Ta’ala Maha mengetahui hal-hal ghaib. Sehingga ia bertawakal pada-Nya, menantikan kebaikan dari Rabbnya dan ia tidak berputus asa. Ia hanya berharap dengan yang ada di sisi Allah. Walau mungkin saja Allah menjadikan hasil akhir kadang berbeda seratus delapan puluh derajat bila dari harapan kita. Namun, tak perlu protes pada Allah. Cukup menyerahkan segala perkaranya dan tawakkal pada-Nya.

Dikira Musibah Padahal

Berapa banyak hal yang dianggap oleh manusia sebagai musibah ternyata justru sebaliknya, merupakan  Anugerah. Suatu saat Fatimah bintu Qais t meminta pertimbangan Nabi tentang masalah pernikahan. Maka Nabi berkata, “Menikahlah dengan Usamah.”

Fatimah merasa keberatan, mungkin dikarenakan warna kulit Usamah yang hitam, padahal ayah Usamah yaitu Zaid berkulit putih. Kedua-duanya merupakan kecintaan Nabi. Untuk kedua kalinya Fatimah meminta pertimbangan pada Nabi. “Menikahlah dengan Usamah.” Maka Fatimah pun menikah dengan Usamah.  Hingga akhirnya Fatimah dengan jujur menceritakan perihal kehidupannya. “Allah menjadikan padanya banyak kebaikan dan aku menyukainya.” Seperti yang  diriwayatkan dalam hadits riwayat imam Muslim.

Kisah yang lain tentang sosok Julaibib yang fakir. Ketika Rasulullah n mengutusnya ke sebuah keluarga Anshar untuk menikahi putri mereka, pada awalnya mereka menolak.  Namun putri Anshar yang mengetahui bahwa hal itu merupakan wasiat Nabi Muhammad dengan patuh menerima wasiat Nabi. Ia pun memperoleh kebaikan yang banyak dari pernikahan tersebut. Demikian pula kisah yang Allah sebutkan di surat Al-kahfi tentang orang tua yang kehilangan anaknya. Tentu saja hal ini akan membuat sedih kedua orang tuanya, namun ada hikmah besar yang Allah berikan. Khidir mengatakan pada Nabi Musa,

Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mu’min, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.  Dan kami menghendaki, supaya Rabb mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang

lebih baik kesuciannya dari anak itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).” (Al-Kahfi: 80,81)

Allah akan menggantikan untuk keduanya dengan anak yang lebih  baik dan lebih welas asih. Sementara bila anak yang meninggal tersebut hidup sampai dewasa maka dikhawatirkan akan membawa pada kesengsaraan kedua orang tuanya.  (**)

Related posts

Leave a Comment