Beban Berat Hidupku

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Kak aku mau curhat. Permasalahan pertama, aku  punya banyak beban di otak yang jika diabaikan membuat emosi selalu naik. Misalnya begini, suatu ketika aku berjalan lalu melihat rumput di depan sebuah  rumah, dalam hati ingin melihatnya lebih dekat, tetapi karena waktu hanya sedikit, aku abaikan. Tapi  jika keinginan tersebut tidak terpenuhi kepalaku jadi pusing. Mau tidak mau aku harus kembali melihatnya.

 

Permasalahan kedua, aku tidak tahan membaca Al-Qur’an  di atas 30 menit. Rasanya kepalaku mau terbelah. Itu baru aku  rasakan dua minggu terakhir ini, Permasalahan ketiga, aku jadi pelupa. Terkadang berjalan dengan tujuan ke rumah A, sampainya di rumah si B. Pernah terjadi, sudah shalat ashar, satu jam kemudian aku shalat lagi. Permasalahan keempat, suamiku pendiam sekali, ditanya hari ini, di jawabnya nanti, besok bahkan satu bulan berikutnya. Ditanya dua kali  marah,jadinya sebagai istri aku  cuma bisa bersabar. Jujur aku sayang sekali sama suamiku sampai aku kerja dari pagi hingga malam, pulang sendiri, terkadang dihadang orang di jalan. Semuanya aku lakukan demi suami tapi sayang dia super cuek. Tak mau tahu dengan masalah yang kuhadapi. Salahkah bila aku cuma  diam saja meski orang lain marah dan menyuruhku untuk tinggal di rumah?

 

Masalah kelima, ini menyangkut status karena jarang jalan sama suami,ketemunya nanti di rumah,jadi orang terkadang selalu mengira aku masih sendiri, sampai-sampai ada yang melamar langsung, itulah sebabnya mengapa aku ingin mengubah penampilan lebih keibuan lagi…Aku juga pusing dengan adanya lelaki yang tak mau berhenti membujuk untuk meninggalkan suamiku dan hidup bersamanya meskipun sudah ditolak mentah-mentah. Masalah keenam, kisah setahun silam, sebelum menikah, aku tinggal sama orang tua angkat hampir tujuh tahun, kerja dari jam empat subuh hingga jam satu malam. Cuma masalahnya aku jadi korban KDRT. Jadinya aku minta untuk dilepaskan untuk mencari jalan hidup sendiri atau pulang ke rumah ortu kandung tapi mereka tidak ingin melepasku sebelum pendidikanku selesai hingga mendapat pekerjaan yang layak, tapi aku merasa tertekan karena tak bisa bergaul seperti teman-teman  yang lain untuk belajar, dsb. Aktivitas sehari-hari hanya kerja, kuliah terus pulang ke rumah. Semua orang membujukku untuk meninggalkan ortu angkatku.  Tapi aku tidak tega,meskipun tersiksa. Tapi pada akhirnya,aku membuat mereka kecewa. Itulah dosa yang paling sulit aku lupakan.

 

Ceritanya begini, aku memilih menikah daripada tinggal dengan mereka. Semua keluarga setuju kecuali ortu angkatku karena alasan suamiku tidak sempurna. Suaranya sumbang karena sewaktu kecil hidungnya patah jadinya apa yang dia ucapkan tidak begitu sempurna didengar orang-orang, tapi ditelingaku kedengarannya sempurna. Karena semua keluarga setuju akhirnya pernikahanku dilanjutkan  meski ortu angkatku masih belum merestui. Setelah menikah aku meminta maaf tapi tidak dimaafkan. Ibuku angkatku jatuh sakit karena selalu memikirkanku dan memikirkan masalah hubungannya dengan anak-nya yang telah memilih meninggalkannya juga, ditambh lagi suami yang kejam dan tidak toleran. Akhirnya  beliau dipanggil menghadap-Nya. Setiap kali aku datang tidak begitu dihiraukan lagi,bahkan disuruh pergi, karena aku dianggap sebagai penyebab kematian ibu angkatku. Sungguh aku merasa berdosa, ingin rasanya bersujud di kakinya tapi sudah terlambat. Bagaimana caranya meminta maaf pada orang yang sudah meninggal? Salahkah bila aku tak lagi menginjakkan kaki di rumah mereka karena alasan selalu dimarahi dan dipojokkan?

 

Kak Yulia tolong dijawab yaa…

 

Alya di S

 

 

Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh

Alya Sayang..kamu mengalami beban hidup yang cukup berat. Beban fisik yang terlalu banyak dengan bekerja hampir sepanjang hari membuatmu kelelahan  secara fisik sehingga membuat beban kerja otak semakin banyak dan berat. Tak heran jika kamu jadi mudah lupa. Ditambah lagi dengan tumpukan masalah psikis dan tekanan hidup, KDRT,  sejak sebelum menikah, terutama dengan adanya rasa bersalah terhadap kematian ibu angkat menyebabkan kamu mengalami gangguan psikis. Konsultasikan lebih lanjut dengan psikolog, terutama  tentang masalah pertamamu.

 

Alya, saran kakak, ikhlaskan yang telah terjadi. Maafkanlah dirimu sendiri agar kamu bisa lepas dari semua masalah psikismu. Semua yang terjadi adalah yang terbaik bagimu saat ini di sisi Allah. Pasti ada pelajaran yang dapat kamu ambil. Doakan ibu angkatmu dan teruslah memperbaiki tali silaturahim dengan keluarga angkat. Semoga Allah melunakkan kembali hati mereka.

Kemudian perbaiki hubungan dan komunikasi dengan suami. Carilah celah waktu berkualitas dengan suami.

 

Alya…. bukankah kamu sudah menikah? Bagaimana mungkin kamu bisa bekerja sepanjang hari sebagai bentuk cinta kamu kepada suamimu? Lalu bagaimana tanggung jawab suamimu selama ini? Wajar saja banyak orang marah melihat kamu kerja banting tulang untuk suamimu sementara suamimu hanya cuek-cuek saja.

 

Alya…Kak Yulia kurang melihat adanya komunikasi yang baik antara kamu dan suamimu. Pikirkanlah. Komunikasi yang baik adalah prinsip dasar dalam membina hubungan rumah tangga. Hindari banyak tanya, perbanyaklah berbagi cerita.Kurangi jam kerjamu. Bahkan sedapat mungkin kamu yang tinggal di rumah menyiapkan segala sesuatu untuk suamimu. Jika kamu ‘berat’ dengan pekerjaanmu dan jarang bertemu suami dalam jangka waktu lama, akan sulit untuk membina hubungan berkualitas dalam berumah tangga. Lalu bagaimana kamu bisa bahagia? Kamu sendiri yang dapat memulainya. Perbaikilah mulai sekarang dan jangan lupa untuk selalu memohon pertolongan kepada Allah…

Oke Alya, semoga bisa membantu.

Related posts

Leave a Comment