Imam Asy-Syaukani Mengoyak Belenggu Fanatisme

Suatu siang di terik matahari Senin tanggal 28 Dzulqaidah 1173 H pecahlah kebahagiaan sebuah keluarga di Distrik Syaukan. Syaukan, sebuah distrik di luar kota Shan’a. Sosok bayi mungil yang dinanti telah lahir. Sang ayah menyematkan nama Muhammad. Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Abdullah, demikian nama lengkapnya.  Kelak, orang lebih mengenalnya sebagai Imam Asy-Syaukani. Ayah Asy-Syaukani merupakan Qadhi dan ulama ternama di Shan’a. Sang ayah dikenal dengan keshalihannya, sehingga orang-orang yang mengenalnya dengan baik meyakini bahwa ia termasuk wali Allah. Kondisi ini memberikan pengaruh besar pada kehidupan Asy-Syaukani di masa berikutnya. Masa kecil Asy-Syaukani diisi dengan mempelajari Al Quran dan tajwid pada sekumpulan para guru di kota Shan’a. Di tengah-tengah mempelajari Al-Quran, ia menghapal beberapa kitab ringkas dalam bidang fikih, nahwu, arudh, adab penelaahan dan ilmu-ilmu bahasa. Ia juga mempelajari buku-buku sejarah dan sastra. Setelah belajar al-Quran, ia memulai aktivitas menuntut ilmu pada sang ayah dan para ulama ternama di masanya. Berbagai disiplin ilmu pengetahuan seperti ilmu agama, akal, lisan, tasawuf dan astronomi ditekuninya. Sampai dikatakan bahwa  ia mempelajari dari para gurunya hingga habis semua kitab mereka. Bahkan ia mempelajari lebih banyak dari itu. Ia senantiasa menjadi murid yang paling menonjol.  Meski demikian, Syaukani hanya belajar ilmu di daerah Shan’a saja. Ia tidak melakukan perjalanan jauh untuk menuntut ilmu sebagaimana kebiasaan para penuntut ilmu, karena ayah bundanya tidak mengijinkannya untuk  bepergian.

**

Masih di masa menuntut ilmunya, Syaukani telah menyampaikan ilmu yang diperolehnya kepada murid-murid yang datang belajar padanya. Aktivitas belajar mengajarnya dalam sehari semalam mencapai 13 pelajaran. Ada materi yang ia pelajari dari gurunya, dan ada pula yang ia sampaikan pada murid-muridnya. Setelah itu, ia mulai berkonsentrasi untuk menuntut ilmu. Para murid yang menimba ilmu padanya, belajar lebih dari 10 macam pelajaran kepadanya. Berbagai disiplin ilmu dikuasainya seperti tafsir, hadits, ushul, ma’ani, bayan dan ilmu mantiq. Hingga di usia kurang dari dua puluh tahun Asy-Syaukani muda telah berfatwa, di saat para gurunya masih hidup. Sang guru yakin dengan kemampuan muridnya yang cerdas. Ia mempelajari ilmu-ilmu secara mendalam dan melakukan penelaahan yang sulit dicarikan bandingannya pada orang lain. Pengetahuan yang luas, kecerdasan yang menonjol membantunya untuk menguasai hadits nabi dan cabang-cabang ilmunya. Hingga sampailah ia pada derajat ijtihad, melepaskan belenggu taqlid dalam usia kurang dari 30 tahun. Sebelumnya ia merupakan penganut madzhab Zaidiyah (salah satu diantara sekte syiah yang paling dekat dengan ahlus sunnah). Jadilah ia salah satu ulama ahli ijtihad, ia tidak mengikatkan diri dengan salah satu kelompok atau madzhab tertentu. Namun ia bersandar secara langsung kepada al-kitab dan as-sunnah. Ia pun mengajak orang untuk meninggalkan taqlid, mengambil hukum-hukum dengan berijtihad dari al kitab dan as-sunnah. Dakwahnya kepada ijtihad dan meninggalkan taqlid serta kembali kepada syariat sesuai dengan metode para salaf tidak beda dengan yang diserukan oleh para ahli ijtihad dan muslihin seperti Imam Malik, Abu Hanifah, Asy-Syafi’i Ahmad bin Hanbal,  Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Amir as-Shan’ani, Muhammad bin Abdul Wahhab dan lain-lainnya. Dakwahnya tidak sepi dari gangguan orang-orang yang fanatic terhadap madzhab dan kelompok-kelompok. Mereka menuduh dakwahnya hendak meruntuhkan madzhab ahli bait, padahal kenyataannya tidak demikian.

 

**

 

Di masa Asy Syaukani hidup, negri-negri Islam dalam kondisi tercerai berai dan lemah. Perselisihan antar madzhab, kelompok dan suku menggelayut di masyarakat Islam secara umum termasuk negri Yaman. Ia menemukan realita kehadiran berbagai madzhab, kelompok-kelompok agama seperti rafidhah, zaidiyah, shufiyah, mu’tazilah, dan lain-lain. Hal tersebut diperkeruh dengan sikap fanatisme, kebekuan berpikir, penyimpangan akidah dan ibadah yang bertentangan dengan ajaran Islam. Sebagaimana ia juga menyaksikan tersebarnya maksiat, keburukan, bid’ah, kesyirikan dan kejahilan di tengah masyarakatnya. Keprihatinannya semakin bertambah ketika mengetahui bahwa para ulama dan pemerintah tidak menunaikan kewajiban untuk beramar makruf dan nahi munkar. Semuanya tadi membuat hati Syaukani terketuk untuk melakukan perbaikan. Langkah-langkah yang ditempuh oleh Imam Asy-Syaukani dalam dakwahnya tergambar pada 3 poin utama. Pertama, berdakwah kepada ijtihad dan menghilangkan taqlid. Kedua, dakwah kepada akidah salafiyah sebagaimana yang diajarkan di zaman Rasulullah dan para sahabatnya. Ketiga, dakwah untuk membersihkan akidah dari fenomena syirik yang samar. Ia pernah memegang posisi hakim besar Yaman setelah hakim besar Yaman Yahya bin Shalih asy-Syajri as-Sahuli meninggal dunia. Jabatan ini dipikulnya pada usia 36 tahun setelah beristikharah dan meminta pertimbangan pada para ulama dan orang-orang shalih di masa itu.

Semasa hidup Imam Asy-Syaukani banyak menghasilkan karya tulis yang bermanfaat. Buku-buku karyanya mencapai 278 judul. Meski demikian, sebagian besar karyanya masih dalam bentuk manuskrip-manuskrip dan belum tercetak. Di antara buku hasil karya Imam Asy-Syaukani, adalah kitab Fathul Qadir al Jami’u baina fanni ar-riwayah wa ad-diroyah min at-Tafsir, sebuah karya yang menunjukkan keluasan ilmunya dalam bidang tafsir. Karyanya yang lain kitab al-Fawaid al-Majmu’ah fil ahadits al-Maudhu’ah, Durarul Bahiyyah, Sailul Jarrar mutadaffiq ala hadaiqil azhar, Irsyadul Fuhul ila tahqiiqil haqq min ilmil ushul, dan masih banyak lagi yang lain.

 

**
Imam Asy Syaukani wafat pada malam Rabu, 3 hari sebelum berakhirnya bulan Jumadil Akhir, tahun 1250/1834. Meninggal dalam usia 76 tahun 7 bulan. Jenazah beliau yang mulia dishalatkan di masjid jami’  dan dimakamkan di Shan’a. (**)

Related posts

Leave a Comment