Imam Ash-Shan’ani Rahimahullah Bertaruh Nyawa untuk Kebenaran

Nama lengkapnya Muhammad bin Ismail bin Shalah Al-Amir Al-Kahlani Ash Shan’ani. Lebih dikenal sebagai Imam Ash-Shan’ani. Ia termasuk jajaran imam negri Yaman periode modern. Ash-Shan’ani tergolong mujtahid yang mengikuti dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah secara langsung.  Dilahirkan pada tahun 1059 H di daerah yang bernama Kahlan, berdekatan dengan kota Shan’a. Pada usia sebelas tahun dan kemudian ia pindah bersama ayahnya ke Kota Shan’a ibukota Yaman.

Di kota itulah, kisah Imam Ash-Shan’ani muda dalam menuntut ilmu dirangkai. Ia menyelesaikan hafalan Al-Qur’annya setelah tinggal di kota tersebut.  Ia berguru kepada para ulama yang berada di kota Shan’a. Beberapa ulama yang jadi gurunya kala itu antara lain  Sayyid Al-Allamah Zaid bin Muhammad bin Al Hasan, Sayyid Al-Allamah Shalah bin Al Husain Al-Akhfash, Sayyid Al-Allamah Abdullah bin Ali Al-Wazir dan Qadhi Al-Allamah Ali bin Muhammad Al-Ansi.

Ash-Shan’ani bisa terus menetap di kota Shan’a tidak pernah berpindah. Ia keluar dari kota Sha’na hanyalah untuk menunaikan ibadah haji ke Al-haramain (dua tanah suci). Kesempatan di berada di tanah suci ini dia manfaatkan sebaik-baiknya untuk menuntut ilmu dan membaca hadits kepada para ulama di kota Makkah dan Madinah. Tercatat Imam Asy-Syaukani berhaji sebanyak empat kali di dalam hidupnya. Perjalanan panjang menuntut ilmu dan kesungguhannya dalam belajar membuahkan hasil. Ia pun menguasai berbagai disiplin ilmu bahkan ia menonjol dibandingkan teman temannya seangkatannya.

**

Perjalanan dakwah pun tiba. Yah, jalan dakwah memang tidak selalu mulus untuk ditempuh. Jalanan tersebut kadang terjal, berliku, dan penuh onak berduri. Tantangan dakwah pada kebenaran telah jauh hari dirasakan oleh manusia-manusia terbaik, yaitu para nabi dan rasul. Ujian dalam berdakwah dan pahitnya dalam menyampaikan kebenaran pun dikecap oleh Imam Ash-Shan’ani. Hal ini terjadi di masa pemerintahan Al-Mutawakkil ‘Alallah Al-Qasim bin Al Husain dan penerusnya yaitu Imam Al-Mansur billah Al-Husain bin Al-Qasim dan Al Mahdi Al Abbas bin Al Husai. Kala itu orang-orang awam sempat berkumpul untuk menghabisi nyawa Ash-Shan’ani. Usaha pembunuhan ini bahkan tidak terjadi sekali atau dua kali saja. Meskipun manusia di muka bumi berkumpul seluruhnya untuk mencelakakan seseorang, namun bila Allah tidak menghendaki maka tak akan berhasil. Demikianlah, upaya jahat yang berulang tersebut gagal. Allah menjaga dan menyelamatkan sang Imam. Penguasa Shan’an,Imam Al-Mansur billah, pernah mengangkatnya menjadi pengkhotbah di Masjid agung Shan’a hingga masa penguasa berikutnya Al Mahdi. Suatu saat, ketika sedang berkhutbah  Imam Ash-Shan’ani tidak menyebut atau memuji para penguasa sebagaimana umum penghutbah masa itu. Hal ini membuat kemarahan jamaah dari kabilahnya yang kurang ilmu dan juga orang-orang awam. Mereka pun mengancam akan membunuh Sang Imam di atas mimbar di Jumat depan.  Kericuhan tersebut terdengar sampai di telinga Penguasa, Al-Mahdi. Ia memerintahkan untuk menangkap para pembesar kabilah imam Ash-Shan’ani. Tidak hanya itu, penguasa pun memerintahkan untuk menangkap Ash-Shan’ani dan menjebloskannya ke dalam penjara. Setelah kurang lebih dua bulan, Ash-Shan’ani dikeluarkan dari kurungan. Ia dicopot dari jabatan khatib masjid agung. Meski demikian, ia tak berhenti untuk terus menyebarkan ilmu dengan mengajar, memberi fatwa, dan menulis. Ia tidak pernah takut terhadap celaan manusia ketika ia berada dalam kebenaran dan ia tidak memperdulikan dalam menjalankan kebenaran akan ditimpa ujian. Kedekatannya pada sunnah Nabi Muhammad, dengan mempelajari dan mengamalkannya dari kitab-kitab hadits membuat sebagian masyarakat membencinya. Hal ini dikarenakan masyarakat Shan’a waktu itu banyak yang menganut mazhab Syiah Zaidiyah.

**

Kepakaran Sang Imam dalam ilmu membuat kaum muslimin berbondong-bondong datang untuk menimba ilmu dari beliau. Sejak para penuntut ilmu hingga masyarakat umum. Mereka mempelajari berbagai kitab hadits dan mengikuti pendapat-pendapat keagamaan sang imam. Ash-Shan’ani termasuk ulama yang produktif dalam menulis buku. Tercatat karya tulisnya mencapai seratus judul. Sebagian diantara karyanya adalah kitab Subulus Salam  Syarh bulughul maram, Taudhihul Afkar Syarh Tanqihul anzhar, Syarhul Jami’ Ash-Shagir Imam As-Suyuthi, Raudhun-Nadhir dan masih banyak yang lain. Beliau memiliki karya-karya lain yang terpisah-pisah yang apabila dikumpulkan maka akan menjadi berjilid jilid. Ia memiliki syair yang fasih dan tersusun rapi yang kebanyakan berisi tentang pembahasan pembahasan ilmiah dan sanggahan terhadap penyimpangan yang terjadi beliau. Kesimpulannya beliau adalah seorang ulama yang melakukan pembaharuan terhadap agama. Ash-Shan’ani wafat pada hari ketiga bulan Sya’ban tahun 1182 H pada usia 123 tahun. Semoga Allah merahmatinya. (**)

Related posts

Leave a Comment