Imam Al-Muzani Bila Berdebat dengan Setan

Abu Ibrahim, Ismail bin Yahya bin Ismail bin Amru bin Muslim al Muzani al-Mishri. Murid dari Imam Asy-Syafi’i. Lahir di tahun yang sama dengan meninggalnya Imam Al-Laits bin Sa’d, ulama Mesir kenamaan,  pada tahun 175 Hijriyah. Negri Mesir menjadi tempat tumbuh dan belajar Ismail Al-Muzani. Ya, Mesir di masa itu bersinar dengan ilmu pengetahuan. Berderet nama ulama kenamaan menetap di negri asal Mariyah Al-Qibthiyah, istri Nabi Muhammad n. Imam Al-Muzani hidup sejaman dengan seluruh pemimpin Bani Abbasiyah di negri Mesir. Sejarah mencatat, kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad sempat mengalami berbagai peristiwa dan keguncangan politik. Hal yang patut disyukuri, hal itu tidak memberikan pengaruh yang berarti hingga ke Mesir. Daerah Mesir kala itu tetap aman, sehingga kaum muslimin dapat menikmati  kehidupan beragama, kebaikan dan ketakwaan. Lebih-lebih masa kehidupan mereka masih dekat dengan masa keemasan Islam. Sehingga mayoritas rakyat sangat peduli dengan ilmu dan hormat pada ulama. Demikian pula para ulama menegakkan kewajiban mereka dalam melakukan perbaikan, amar ma’ruf nahi mungkar. Kondisi negri Mesir yang nyaman membuat Al Muzani meraih banyak kemudahan dalam menuntut ilmu dengan.  Sehingga ia dan saudara wanitanya setiap hari terlihat bolak-balik ke masjid al-Jami’ untuk menjalankan ibadah, ketaatan dan menimba ilmu agama. Di situlah kisah al-muzani dalam menuntut ilmu terjalin. Al-Muzani dan saudarinya menimba ilmu fikih dari Imam besar kaum muslimin, Imam Asy-Syafi’i. Masih ada gurunya yang lain seperti  Ali bin Ma’bad bin Syadad dan Nu’aim bin Hammad.

**

Manis pahitnya menuntut ilmu dikecap oleh Al Muzani. Perjalanan panjang dalam belajar pada Imam Asy-Syafi’I inilah yang membentuk sosok Al-Muzani yang istimewa. Hingga pujian para ulama pun mendarat padanya,  “Adapun Imam Asy-Syafi’I rahimahullah, fikihnya telah ditransfer kepada para shahabat-shahabatnya. Diantara mereka ada Abu Ibrahim Ismail bin Yahya bin Ismail bin Amru bin Ishaq al-muzani. Ia meninggal di Mesir pada tahun 264 H. Muzani adalah seorang yang zuhud, alim, ahli debat, dan menyelam ke dalam makna-makna yang rumit.”

Imam Asy-Syafi’I, gurunya mengatakan tentang al-Muzani, “Muzani adalah penolong madzhabku.” Sang guru juga pernah berkata tentang Al Muzani muda, “Kalau Al Muzani berdebat dengan setan pasti dia akan mengalahkannya.”  Bila hal ini dikatakan oleh Imam Syafi’I di usia Al-Muzani yang masih belia, maka bisa dibayangkan bagaimana kepakaran Al-Muzani di masa-masa setelahnya. Al Muzani hidup setelah imam Syafi’I meninggal selama 60 tahun. Pantaslah para penuntut ilmu berbondong-bondong datang dari berbagai ufuk untuk belajar kepada Al-Muzani. Ahmad bin Shalih sampai mengatakan, “Bila ada orang yang bersumpah kalau dirinya belum pernah melihat orang yang sehebat al-Muzani maka orang itu jujur.”

‘Amru bin Utsman al-Makki berkata, “Dari banyak ahli ibadah yang kutemui, aku belum pernah menjumpai seorang yang paling bersungguh-sungguh dalam beribadah dan kontinu selain Al Muzani. AKu juga belum melihat seorang yang sangat mengagungkan ilmu dan ahli ilmu dibandingkan dia. Ia adalah orang yang paling berusaha bersikap wara’ pada dirinya, dan memberikan kelapangan pada orang dalam masalah tersebut.” Dia kadang menyebutkan tentang dirinya, “Aku merupakan salah satu akhlak dari Asy-Syafi’i.”

Al-Baihaqi mengatakan, “Ketika Al Buwaithi (sahabat imam Syafi’i) mengalami ujian, maka orang yang mengajar dan menyebarkan fikih madzhab Asy-Syafi’I adalah Al Muzani.”

“Kabar telah sampai padaku bahwa al-Muzani adalah orang yang doanya mudah dikabulkan, seorang yang zuhud dan gemar beribadah. Banyak ulama yang menimba ilmu padanya. Karena itulah madzhab Al-Imam Asy-Syafi’I menyebar ke berbagai ufuk.”

Madzhab Asy-Syafi’I berpendapat bahwa shalat berjamaah bagi pria tidak sampai pada derajat wajib. Meskipun tidak wajib, hal ini tidak berarti membuat para ulama meremehkan apalagi meninggalkannya. Dikisahkan apabila tertinggal dari shalat berjamaah maka Al-Muzani lantas melakukan shalat sunnah sebanyak 25 kali. Ia  juga membiasakan diri untuk memandikan orang yang meninggal dunia, dalam rangka untuk ibadah dan mencari pahala. Dia mengatakan, “Aku memandikan jenazah ini dalam rangka melunakkan hatiku. sehingga menjadi kebiasaan yang baik bagiku.” Imam Al-Muzani rahimahullah juga yang memandikan jenazah imam Asy-Syafi’i.

Al Muzani menjenguk gurunya, Imam Asy-Syafi’I, yang tengah sakit menjelang wafatnya. “Bagaimana kondisi Anda, wahai Abu Abdillah?”  Asy-Syafi’I menjawab, “Saat ini, dari dunia aku akan pergi, dari sahabat-sahabatku aku akan berpisah, dan dengan amalan burukku akan menemui. gelas kematian akan aku minum, dan pada Allah aku akan berjumpa.”

Akidah Al-Muzani tidak menyelisihi keyakinan para ulama salaf. Tentang hal ini Muhammad bin Ismail At-Tirmidzi mengisahkan, “Aku mendengar Al Muzani berkata, “Tauhid seseorang tidaklah sah sampai ia mengilmui bahwa Allah Ta’ala di atas Arsy dengan sifat-sifat-Nya.” At-Tirmidzi memperjelas, “Seperti apa misalnya sifatnya?” Al-Muzani berkata, “Maha Mendengar, Maha Melihat, dan Maha Mengetahui.”

Diantara murid-murid Al-Muzani yang menonjol adalah Abu Bakr Ibnu Khuzaimah, Abul Hasan bin Jaushan, Abu Bakr bin Ziyad An-Naisaburi, Abu Ja’far Ath-Thahaqi, Abu Nu’aim bin Adi, Abdur rahman bin Abi hatim, Abul Fawaris Ash-Shabuni dan banyak lagi. Semoga Allah meridhai Imam Al-Muzani. (awe)

Related posts

Leave a Comment