Imam Al-Haramain Manisnya Cinta Ilmu

Imam Al haramain  tidak berhenti berjuang membela agama Allah dan menolong sunnah NabiNya hingga datang kepastian dari Allah. Ajal yang tak dapat ditolak kedatangannya. Sebelum meninggal ia menderita sakit selama beberapa hari. Ketika merasa kondisinya membaik, ia kembali mengajar  dan mengisi majelis ilmu. Orang-orang pun baik yang awam maupun ahli  ilmu bergembira. Akan tetapi kondisi tersebut tidak berlangsung lama, ia kembali jatuh sakit hingga akhirnya wafat. Para ahli sejarah bersepakat bahwa Imam Al Haramain meninggal dunia pada malam Rabu selepas shalat Isya pada tanggal 25 rabi’ul akhir tahun 478 H dalam usia 59 tahun. Semula, jasad Imam al-Haramain dikuburkan di rumahnya namun setelah beberapa tahun dipindahkan ke pemakaman Al-Husain dan dikuburkan disamping makam sang ayah tercinta.

**

Abul Ma’ali Abdul Malik bin Abdullah bin Yusuf bin Abdullah bin Yusuf bin Muhammad bin Hayuwiyyah Al-Juwaini An-Naisaburi. Sering disebut dengan Imam Al-haramain (dua tanah haram) karena kedekatan dan majelis ilmunya di dua tanah haram asy-syarifain ketika berada di wilayah Hijaz. Ia tinggal di Makkah dan Madinah sekitar empat tahun untuk mengajar dan berfatwa.

Imam Al Juwaini dikenal sangat gigih dalam mempelajari ilmu-ilmu agama. Abul Hasan bin Abdullah bin Abul Husain pernah mendengar Imam Al Haramain berkata, “Aku tidak tidur dan tidak makan seperti pada umumnya. Aku hanya tidur ketika rasa kantuk telah menguasaiku di siang atau malam hari. Dan aku makan ketika benar-benar ingin makan kapan pun waktunya.”

Abul Hasan berkomentar setelah itu, “Kenikmatannya, kesenangan dan konsentrasinya adalah dalam mempelajari ilmu dan mencari faedah dari beragam ilmu.” Karena Al Juwaini meyakini bahwa ilmu tiada memiliki batas dan tak bertepi, oleh karena itu ia tidak pernah meninggalkan satu kesempatan pun untuk menambah ilmu. Wajarlah demikian, karena Abul Ma’ali tumbuh di keluarga yang penuh ilmu dan keutamaan. Ayahnya adalah seorang fakih, ahli hadits, memiliki berbagai karya ilmiah yang istimewa. Kakeknya pun dikenal dengan keutamaan dan keluhuran budi. Pamannya seorang sufi dan ahli hadits. Karenanya, Ibnu Asakir memujinya, “Ia dididik dalam pangkuan kepemimpinan agama, digerakkan oleh penggerak kebahagiaan, dibuai dan disusui oleh ilmu dan keutamaan hingga tumbuh dan berkembang di dalamnya.”
Abul Ma’ali rahimahullah seorang pribadi yang rendah hati dan mudah tersentuh. Ia sering menangis apabila sedang bertafakkur atau mendengar bait tertentu yang menyentuh. Ia tidak pernah merendahkan orang lain, hingga ia mendengarkan perkataan mereka. bila benar maka ia mengambil faedah dari perkataan tersebut. Meskipun orang tersebut lebih muda darinya. Hingga ia tak segan belajar beberapa cabang ilmu yang belum ia miliki pada muridnya sendiri.

Di usianya yang lebih dari 50 tahun, pada tahun 469 H seorang ahli bahasa datang di kota Naisabur. Dialah Syaikh Abul Hasan Ali bin Fadhil bin Ali Majasyi’I an-Nahwi. Imam Al-Haramain, sang ulama besar, menyambutnya dengan penuh penghormatan dan belajar ilmu nahwu padanya.  Yah, di posisinya sebagai ulama besar ia tak segan duduk sebagai murid. Hingga ia setiap hari bolak-balik ke rumah ahli bahasa tersebut. Sang guru pun takjub, “Aku belum pernah melihat orang yang sangat cinta dengan ilmu seperti sang Imam ini.”

**

Imam al-haramain mengawali kehidupan ilmiah dari rumahnya. Ia mempelajari dari ayahnya berbagai ilmu seperti tafsir, hadits, fikih, ushul, sastra dan seluruh karya ilmiah sang ayah. Ketika ayahnya wafat, usianya belum lagi mencapai 20 tahun, ia menggantikan posisinya untuk mengajar di majelis ilmu. Disamping ia tetap belajar hadits dan ilmu-ilmu lain dari guru-guru di masanya. Kedudukannya sebagai pengajar tidak menghalanginya untuk terus meraih ilmu. Bahkan ia tetap menggunakan waktu siang dan malam untuk menuntut ilmu. Sebelum mengajar, ia berpagi-pagi pergi ke masjid Ustadz Abu Abdillah Al Khabazi untuk membaca Al Quran padanya dan mempelajari berbagai ilmu darinya. Setelah itu, ia pulang dan sibuk mengajar. Selepas mengajar, ia pergi ke madrasah al-Baihaqi untuk mempelajari ilmu kalam dan ushul fikih pada Imam Abul Qasim al-Isfarayini. Ia tak berhenti belajar dari belia hingga tuanya. Saat berlangsung fitnah Al-Kunduri (seorang menteri Syiah di masa itu)  dengan terpaksa Imam Al-Haramain meninggalkan Naisabur sekitar tahun 443447 H . Dia pergi ke Mu’askar, Baghdad, Isfahan, Mekkah dan Madinah. Kepergiannya dari kota asal justru membuatnya mengecap manisnya rihlah dalam menuntut ilmu. Selama di Baghdad dia belajar kepada Abu Muhamamd Al-Jauhari, juga menelaah buku karya Imam Al-Baqillani. Sedangkan ketika berada Isfahan belajar pada Abu Nu’aim Al-Isfahani, penulis kitab terkenal, Hilyatul Auliya’. Kurang lebih pada tahun 450 H, Al-Juwaini kembali melanjutkan perjalanan ke Hijaz dan menetap Mekkah dan Madinah selama kurang lebih 4 tahun.  Setelah kondisi tanah airnya stabil pada tahun 455 H,  dia memutuskan untuk pulang ke Naisabur. Di sana ia mengajar di Madrasah An-Nidhamiyah, Naisabur hingga akhir hayatnya.  Dari sentuhan tangan Al Juwaini, lahir ulama-ulama menonjol di masanya, antara lain Imam Al-Ghazali,  Ahmad bin Muhammad bin Al-Mudhaffar,  Abul Qasim Al-Anshari, Abul Ma’ali Mas’ud bin Ahmad bin Muhammad bin Al-Mudhaffar,  Abul Hasan Ath-Tha’i dan Abu Hafsh As-Sarkhasi Asy-Syirazi. Semoga Allah merahmati Imam Al Haramain. (**)

Related posts

Leave a Comment