Ibnu Qudamah Al-Maqdisi Membunuh Lawan Dengan Senyuman

Syaikh al-Imam Muwaffaq ad-dien, Muhammad bin Abdillah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah bin Miqdam bin Nashr al-Maqdisi al Jamma’ili kemudian ad-dimasyqi. Sering dikenal sebagai Ibnu Qudamah. Lahir di daerah Jammail bagian dari Nabulsi Palestina. Lahir di bulan Sya’ban pada tahun 541 Hijriah. Ia berhijrah bersama keluarga dan kerabatnya di usianya sepuluh tahun setelah tentara salib menguasai Baitul Maqdis. Di usianya yang belia, ia telah hafal Al-Quran dan sibuk dengannya. Bersama putra pamannya, Abdul Ghani, ia kemudian melakukan perjalanan ilmiah untuk menuntut ilmu ke kota pusat pengetahuan, Baghdad. Syaikh Abdul Qadir Jaelani, seorang ulama kenamaan, kala itu hidup dan tinggal di kota Baghdad. Ibnu Qudamah dan Abdul Ghani sempat bertemu  dengannya kurang lebih 40 hari sebelum Syaikh Abdul Qadir wafat. Hari-hari bersama Syaikh Abdul Qadir Jaelani dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh keduanya untuk menimba ilmu dari sang alim. Begitu pula ia belajar pada Hibbatullah bin Al Hassan ad-Daqqaq, Abul Fath bin Buthi Abu Zur’ah bin Thahir, Ali bin Taaj al Qurra dan Ma’mar bin Al Fakhir, Haidarah bin Umar al alawi, Abdul Wahid bin Al Husain al Baarizi dan yang lain. Ada pula guru-guru dari kalangan wanita seperti Khadijah an-Nahrawaniyah, Nafisah al Bazzazah, dan Syahdah al Katibah. Ibnu Qudamah juga menuntut ilmu ke Damaskus pada Abul Makarim bin Hilal, di Mosul dari khatib kota tersebut yaitu Abul Fadhl ath-Thusi. Sedangkan di Makkah belajar pada Al Mubarok bin Thobakh.

Mengajar dan Berkarya

Setelah bertahun-tahun menimba ilmu, masa untuk mengajar dan berdakwah pada manusia pun tiba. Para murid berdatangan menimba ilmu padanya. Diantara muridnya adalah keponakannya sendiri, seorang Qadhi terkemuka, Syaikh Syamsuddin Abdur Rahman Bin Abu Umar. Disamping mengajar, Ibnu Qudamah tak berhenti menghasilkan karya-karya ilmiah di berbagai disiplin ilmu, lebih-lebih di bidang fiqih. Ia banyak menulis kitab di bidang fiqih, yang menjadi bukti kepakarannya di bidang itu. Al Mughni, salah satu kitab ternamanya, dengan jumlahnya sepuluh jilid tebal. Tentang kitab ini, Imam ‘Izzudin Ibnus Abdus Salam As-Syafi’i, yang digelari Sulthanul ‘Ulama mengatakan, “Saya merasa kurang puas dalam berfatwa sebelum saya menyanding kitab al-Mughni”.  Karya lain yang ditulis oleh Ibnu Qudamah antara lain,  Al Kafi sebanyak 4 jilid, al Muqni’, al Umdah (fikih untuk pemula), Raudhah an Nazhir (dalam ushul fikih), Lum’atul I’tiqad, Mukhtashor minhajul Qashidin dan masih banyak karyanya yang lain.

Beragam pujian para ulama disematkan padanya. Misalnya, mufti Abu Bakr Muhammad bin Ma’ali bin Ghanimah berkata, “Aku tidak mengetahui seorang pun di masa ini yang mencapai derajat ijtihad selain al-Muwaffaq.” Mufti Abu Ubaidillah Utsman bin Abdurrahman asy-Syafi’I berkata tentangnya, “Aku belum melihat orang sehebat dia. Dia diberi petunjuk dalam fatwa-fatwanya.”

Al-baha’ Abdurrahman berkata, ‘Syaikh kami, Ibnul Manni mengatakan tentang Ibnu Qudamah, “Jika engkau meninggalkan Baghdad maka tidak ada lagi orang yang sepertimu.”

Muhammad bin Mahmud al-Ashbahani mengatakan, “Aku belum pernah melihat seorang sehebat Syaikh Muwaffaq.” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, ”Setelah Al-Auza’i, tidak ada orang yang datang ke negri Syam yang lebih mapan di bidang fiqih melebihi Al-Muwaffaq”. Ibnu Ash-Shalah berkata, ”Saya tidak pernah melihat orang sealim Al-Muwaffaq”.

 

Membunuh dengan Senyum

Ibnu Qudamah dikenal memiliki akhlak yang indah. Dia sering tersenyum ketika berjumpa dengan orang lain, menceritakan kisah pada mereka dan kadang bercanda. Al-Baha’ mengisahkan, “Dalam menyampaikan pelajaran, Syaikh sering mencandai kami dan bersikap ramah. Suatu ketika ia berbincang pada mereka tentang anak-anak yang orang-orang sering sibuk dengannya. “Para anak-anak itu butuh bermain, kalian pun demikian,” Ungkapnya.

Dhiya mengatakan, “Tidaklah Al-Muwaffaq berdialog dengan seorang pun kecuali dalam kondisi tersenyum.”

حتى قال بعض الناس : هذا الشيخ يقتل خصمه بتبسمه

Hingga sebagian orang mengatakan, “Syaikh ini membunuh lawan-lawannya dengan senyumnya.”

Seringkali orang melihatnya berdebat dengan orang lain, tetap dalam kondisi tersenyum. Kemampuan mematahkan argument lawan jangan diragukan lagi. Pernah Al-Muwaffaq berdialog dengan Ibnu Fadhlan asy-Syafi’I yang dikenal jagoan dalam debat. Hasilnya, Ibnu Qudamah berhasil mementahkan argument-argumennya.

Ibnu Qudamah berada di majelisnya setelah shalat jumat untuk berdiskusi ilmiah. Para ahli fikih berkumpul bersamanya. Ia terus menyampaikan ilmu sejak  siang hingga  maghrib tanpa bosan. Sementara orang-orang mendengarkannya dengan seksama. Setiap orang yang melihatnya   akan menyintainya. Ia tak pernah membuat muridnya atau orang lain sakit hati. Bahkan sebaliknya. Budak perempuannya sering menyakiti dengan perbuatannya, tapi Syaikh tidak marah padanya. Anak-anak kecilnya pada berantem, ia juga menyikapinya dengan tenang tanpa marah-marah. Hingga seorang ulama mengungkapkan, “Aku belum melihat orang yang sangat tahan marah selain dia.”

Ia tidak pernah berlomba dengan ahli dunia, hampir tak pernah mengeluh, padahal boleh jadi ia punya kebutuhan lebih banyak dari orang lain. dan dia bisa mendahulukan kebutuhan orang lain.”

Ia pun dikenal pemberani dalam medan pertempuran. Al-baha’ mengisahkan, “Ia maju menghadapi pasukan musuh dalam kondisi  telapak tangannya terluka. Ia selalu melempar musuh.”

Dhiya’ mengisahkan, “Ia selalu shalat dengan khusyu’. Hampir selalu ia menjalankan shalat fajar dan sunnah dua isya’ (maghrib dan isya’) di rumahnya. Biasanya ia membaca di shalat sunnah tersebut surat as-sajdah, yasin, ad-dukhan dan tabarak. Hampir tak luput dari surat-surat tersebut. Sedangkan di waktu sahur ia membaca dengan 7 surat, yang kadang ia keraskan suaranya. Suaranya bagus didengar. Semoga Allah rahmati Ibnu Qudamah. (**)

Related posts

Leave a Comment