Niat dalam Wudhu

Assalamu’alaikum, Ana mau nanya sebenarnya gimana sih tatacara wudzu yang benar bagi seorang wanita? Tolong jelaskan per bagian. Yang kedua, soal niat, apakah niat itu hanya ada dalam hati saja. Misalnya saat dalam jam belajar di sekolah ana dah niat di dalam hati kalau istirahat nanti ana mau shalat, nah yang mau ana tanyakan apakah saat mau shalat ana nggak perlu ngucapin kalimat niat “usholi fardzo……dst karena ana dah niat tadi waktu jam pelajaran. Syukron Wassalamu’alaikum

Nakhaziro

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh

Sebenarnya tata cara wudhu bagi wanita sama dengan pria, sebab Nabi tidak memerinci dan memisahkan tata caranya. Nabi pernah bersabda, “Sesunguhnya wanita adalah sekandung pria.”

Artinya semua yang disyariatkan pada pria juga disyariatkan pada wanita selama tidak ada dalil yang menkhususkan satu amalan khusus buat wanita.”

Tentang tata cara wudhu ini Utsman bin Affan pernah menjelaskan dengan memberikan contoh praktis kepada kita seperti dalam hadits Humran maula Ustman yang berbunyi,

عَنْ حُمْرَانَ: أَنَّ عُثْمَانَ رضي الله عنه دَعَا بِوَضُوءٍ، فَغَسَل كَفَّيْهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ مَضْمَضَ، وَاسْتَنْشَقَ، وَاسْتَنْثَرَ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى إلَى المِرفَقِ ثَلاثَ مَرّاتٍ، ثُمَّ اليُسْرى مِثْلَ ذلكَ، ثمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ، ثمَّ غَسَلَ رِجْلَه اليُمْنَى إِلى الْكَعْبَيْنِ ثَلاَثَ مَرّاتٍ، ثُمَّ الْيُسْرَى مِثْلَ ذلِكَ، ثُمَّ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صلّى الله عليه وسلّم تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هذَا. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Dari Humran, “Bahwasanya Utsman meminta diambilkan air untuk berwudhu, lalu beliau mencuci kedua telapak tangannya tiga kali, kemudina berkumur-kumur dan memasukkan air kedalam hidung lalu mengeluarkannya, kemudian mencuci wajahnya tiga kali, kemudian mencuci tangan kanannya sampai siku tiga kali kemudian yang kiri seperti itu, kemudian mengusap kepalanya kemudian mencuci kakinya yang kanan sampai mata kaki tiga kali, kemudian yang kiri seperti itu. Kemudian berkata: Aku telah melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu seperti wudhu ku ini.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Sedangkan rincian tata cara mengusap kepala disampaikan sahabat Abdullah bin Zaid z dalam pernyataan beliau, “Beliau mengusap kepalanya lalu memajukan dan memundurkan kedua tangan (Muttafaqun ‘alaihi). Dalam lafazh lain: Memulai dengan bagian depan kepalanya hingga membawa kedua telapak tangannya ke tengkuk kemudian mengembalikannya ke tempat permulaannya.”

Demikian juga mengusap telinga disampaikan oleh Abdullah bin Amru dalam pernyataan beliau, “Kemudian Nabi  mengusap kepalanya dan memasukkan kedua telunjuknya pada kedua telinganya dan mengusap dengan ibu jarinya bagian luar telinganya.” (Riwayat  Abu Dawud, dan an-Nasa’i dan dishahihkan oleh ibnu Khuzaimah).

Dari sini jelaslah bahwa tata cara wudhu wanita adalah sebagai berikut:

  1. Hadirkan niat dalam hatimu untuk berwudhu. Hakekat niat adalah kehendak dan tekad hati untuk melakukan ibadah sehingga apabila ingin berwudhu maka hadirkanlah kehendak dan tekad untuk berwudhu dalam rangka ibadah kepada Allah tanpa perlu melafadzkannya, sebab Rasulullah tidak pernah melakukannya.
  2. Bacalah bismillah.
  3. Mencuci kedua telapak tanganmu 3 kali.
  4. berkumur-kumurlah dan masukkan air ke hidung dengan sungguh-sungguh dengan telapak tangan kanan. Kemudian keluarkan air tersebut dengan tangan kiri.
  5. Cucilah mukamu. Muka di sini tentu saja bagian yang telah kita kenal, yaitu bagian wajah dari batas telinga kanan ke telinga kiri, dan dari tempat mulai tumbuhnya rambut sampai dagu.
  6. mencuci tangan dimulai dengan tangan kanan kemudian sebelah kiri. Semua dengan mencuci dimulai dari ujung-ujung jari hingga siku, kemudian menggosok-gosok lengan, membasuh siku dan membersihkan sela-sela jemari. Setelah tangan kanan selesai, baru dilanjutkan membasuh dengan cara yang sama untuk tangan kiri.
  7. Mengusap kepala dan telinga satu kali. Caranya membasahi kedua telapak tangan dengan air, kemudian mengusap mulai dari kepala bagian depan, diusap sampai ke belakang, kemudian dibalikkan lagi usapan itu ke depan dan langsung dilanjutkan mengusap telinga dengan cara memasukkan jari telunjuk ke lubang telinga sedangkan ibu jari mengusap daun telinga bagian luar.
  8. Mencuci kaki dimulai dari kaki kanan dengan cara mencuci ujung-ujung jari kaki sampai mata kaki, mencuci mata kaki dan membersihkan sela-sela jari kaki. Setelah selesai membasuh kaki kanan, maka dilanjutkan dengan kaki kiri dengan cara yang sama.
  9. Kemudian kita disunnahkan membaca dzikir setelah wudhu. Ada berbagai macam dzikir setelah wudhu yang dicontohkan Rasulullah n yang dapat kita baca. Salah satunya adalah bacaan berikut

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ له وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ

Artinya, Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang layak disembah kecuali Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi pula bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Demikianlah tata cara wudhu bagi wanita.

Berkenaan dengan niat seperti disinggung diatas, memang niat adalah dihati karena niat itu kehendak dan tekad hati untuk berbuat. Oleh karena itu bila kita ingin shalat zhuhur misalnya dan sudah ada dihati kita kehendak dan tekad kuat untuk shalat zhuhur maka ketika akan shalat tinggal mengingat klo kita mau shalat zhuhur dan bertakbir tanpa harus mengucapkan Ushalli Fardho Zhuhur lagi.

Inilah yang disampaikan para ulama dan mereka menyatakan keliru orang yang mewajibkan atau menganggap harus mengucapkan niat dengan lisannya seperti harus mengucapkan Ushalli atau nawaitu dan sejenisnya, karena hal itu tidak pernah ada dalam al-Quran dan tidak ada juga dalam sunnah rasulullah . Padahal sudah dimaklumi bersama semua ibadah pada asalnya dilarang sampai ada dalil yang menetapkan dan mengajarkannya, baik dari al-Qur`an atau Sunnah rasulullah atau ijma’ para mujtahid ummat ini.

Imam Jamaluddin Abu Ar Rabi’ Sulaiman bin Umar asy-Syafi’I seorang ulama madzhab Syafi’I menyatakan, “Mengeraskan niat dan mengeraskan bacaan Al-Qur`an dibelakang imam bukan dari Sunnah, bahkan itu makruh terlarang. Apabila menimbulkan gangguan kepada orang-orang yang shalat maka jadi haram. Siapa yang menyatakan bahwa melafalkan niat termasuk sunnah maka telah keliru dan tidak boleh baginya dan selainnya berfatwa dalam agama tanpa dasar syariat.” (Siar A’lamin N ubala’ 3/194)

Sedangkan imam ‘Alauddin al-‘Athaar berkata,  Mengangkat suara dalam niat bila sampai menganggu orang shalat (disebelahnya) adalah haram secara ijma’ dan dengan tidak mengganggu maka itu adalah bidah yang buruk. Apabila bermaksud riya maka haramnya dari dua sisi lagi dosa besar . Orang yang mengingkari melafalkan niat bukan termasuk sunnah adalah yang benar dan yang membenarkannya adalah salah.” (Majmu’at ar-Rasaa’il al-Kubra 1/254).

Dengan demikian jelaslah kita tidak melafadzkan niat kita dalam shalat apalagi bila kemudian mengganggu orang-orang yang shalat disekitar kita.

Semoga Allah memberikan kepada kita semua taufiq untuk mengamalkan sunah-sunah Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari kita. (Ust kholid.S, Lc)

Related posts

Leave a Comment