Abdul Malik Bijak di Usia Belia

Mayoritas orang biasanya memilih untuk memberikan jabatan penting dalam masyarakat kepada orang yang telah dewasa atau tua. Tujuannya agar mereka bisa mendapatkan manfaat dari bijaknya sikap orang tua. Karena pada umumnya para pemuda terlalu semangat dan muda tergesa. Meski demikian ternyata sejarah mencatat bahwa ada saja para pemuda teladan yang melampaui para orang tua dalam masalah kebijakan dan menghadapi permasalahan. Diantara pemuda yang meraih kedudukan tinggi tersebut adalah Abdul Malik bin Umar bin Abdul Aziz. Boleh jadi lingkungan di masa hidupnya Abdul Malik adalah lingkungan yang kondusif sehingga mampu mendorong terjadinya banyak keajaiban. Sedangkan meremehkan dan meminggirkan para pemuda, akan mematikan keperwiraan mereka sebelum lahir. Bagaimana masuk akal memposisikan seorang yang berumur belasan atau dua puluhan tahun seperti anak-anak.

Abdul Malik lahir pada tahun 82 H dan meninggal pada tahun 101 Hijriah, pada usia 19 tahun di masa ranum mudanya. Di usianya yang mulai baligh ia telah berperang membantu ayahnya sebagai panglima pasukan. Sungguh dia pemuda yang istimewa, Hingga sang ayah, Umar bin Abdul Aziz pun terkagum-kagum dengannya. Keunggulan Abdul Malik tak bisa diingkari, namun ketenaran sang ayah -Umar bin Abdul Aziz- membuat para penulis sejarah seolah terlupa untuk untuk menyebutkannya. Sebagaimana para ahli sejarah banyak yang tersibukkan dengan menyebutkan para raja hingga luput menyebutkan peran para menterinya.

“Kami melihat ibadah Umar bin Abdul Aziz  sebagaimana yang terlihat pada anaknya Abdul Malik,” Ungkap Abu Nu’aim.

Sayar bin Al Hakam, pembantu Umar berkata, “Putra Umar bin Abdul Aziz yang bernama Abdul Malik, menyampaikan pada ayahnya, “Wahai ayah, tegakkanlah kebenaran meskipun sesaat saja di waktu siang hari.”

***

Umar bin Abdul Aziz sendiri memberikan penilaian pada putranya, “Kalaulah penilaianku terhadap kondisi abdul malik tidak dianggap sebagai penilaian para orang tua terhadap anaknya, maka sungguh aku pandang dia paling layak terhadap kekhilafahan.”

Penilaian jujur ini berasal dari Umar bin Abdul Aziz, namun Umar enggan bila anaknya menjadi pewarisnya dalam kepemimpinan, meski anaknya tersebut sebenarnya layak untuk menerima. Umar hanya mengangkat anaknya tersebut sebagai salah seorang menterinya.

Umar bin Abdul Aziz juga pernah menyampaikan pada anaknya tadi, “Aku sampaikan padamu sebuah hal. Demi Allah, aku belum pernah melihat seorang pemuda yang lebih kuat beribadah dibanding engkau, lebih fakih, dan lebih berilmu tentang al quran daripadamu, dan lebih jauh dari memperturutkan hawa nafsu yang kecil maupun besar dibandingkan engkau, wahai Abdul Malik.”

**

Sesungguhnya orang yang zuhud adalah orang memiliki dunia lalu meninggalkannya. Bukanlah dianggap zuhud orang yang tidak memiliki dunia kecuali sedikit kemudian dia beribadah di tempat terpencil. Jika dunia dibukakan baginya maka ia lupa daratan. Orang yang demikian benar-benar paling  mengenaskan, Allah Maha Mengetahui tentang niatannya. Orang yang benar-benar zuhud adalah orang yang memiliki dunia kemudian meninggalkannya demi meraih yang di sisi Allah, dan menjadikannya sebagai ladang akhirat. Inilah beda antara orang yang zuhud dan mengenaskan. Rasulullah adalah orang yang zuhud, karena saat dunia datang beliau tidak gembira, dan bila pergi beliau tidak bersedih hati.

Ibnu Rajab mengatakan tentang Abdul Malik bin Umar, “Dia- semoga Allah merahmatinya- dengan usianya yang muda sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah, di sisi kemampuan dan penguasaannya atas dunia ia lebih mendahulukan hidup zuhud.”

Ashim bin Abu Bakar bin Abdul Aziz berkata, “Aku bertamu di rumah Sulaiman bin Abdul Malik. Bersama kami ada Umar bin Abdul Aziz. Aku menginap dengan anaknya, Abdul Malik, yang masih belia dan belum menikah. Aku bermalam bersamanya di satu rumah. Kami pun menjalankan shalat Isya’ dan kemudian masing-masing orang tidur di tempat tidurnya. Abdul Malik berjalan menuju ke lampu dan memadamkannya. Ia lalu shalat hingga aku pulas tertidur. Aku terbangun ketika dia terdengar membaca ayat asy syu’ara 205,206

Ia menangis dan mengulang-ulang ayat tersebut. Ketika selesai membaca, ia ulangi lagi seperti itu hingga aku katakan, “Tangisan akan membunuhnya.” Ketika kulihat hal tersebut aku mengucapkan doa, seolah-olah seperti orang yang baru bangun tidur, agar dia berhenti karena kasihan padanya. Begitu mendengarku ia pun diam, tidak lagi terdengar suara tangisannya.

**

Suatu hari Umar bermajelis dengan orang-orang. Ketika sampai tengah hari ia agak kelelahan, maka ia berkata pada orang-orang, “Permasalahan kalian aku akan rampungkan sebentar lagi,” ia pun masuk untuk beristirahat. Abdul Malik datang dan bertanya pada mereka dimana khalifah. “Beliau masuk untuk beristirahat.”

Abdul Malik meminta ijin untuk masuk dan diberikan ijin. Ketika telah masuk ia berkata, “Wahai amirul mukminin, kenapa Anda masuk rumah?”

“Aku hendak beristirahat barang sejenak.” jawab Umar.

“Apakah Anda merasa aman kalau kematian mendatangi Anda, sementara rakyat menunggumu dan Anda tidak hadir di hadapan mereka?”

Umar bangkit kemudian keluar menemui orang-orang.

Suatu hari Umar bin Abdul aziz memerintahkan sesuatu pada pembantunya, hingga Umar marah. Maka Abdul Malik menenangkannya dan berkata, “Untuk apa kemarahan ini, wahai Ayahanda?”

“Engkau orang yang berusaha menahan marah wahai Abdul Malik?”

“Tidak, Demi Allah, bukan berusaha menahan marah, tapi benar-benar tahan marah.” jawab Abdul Malik. (**)

Related posts

Leave a Comment