Qunut Witir Berjamaah

Assalamu’alaikum, mohon penjelasannya ustadz. Pada rakaat ke berapa qunut witir dilakukan? Lalu bila shalat witir dilakukan berjamaah, apakah imam membacanya doanya dijahrkan dan makmum cukup mengaminkan atau makmum dan imam membaca sendiri-sendiri? Jazakumullah atas jawabannya.

Hamba Allah

Jawaban:

Waalaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.

Alhamdulillah washshalatu wassalam ala Rasulillah. Qunut witir hukumnya sunnah untuk dilakukan. Diriwayatkan dari Al-Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma dia berkata:

عَلَّمَنِي جَدِّي رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ كَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ فِي قُنُوتِ الْوِتْرِ : اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ , وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ ، إِنَّكَ تَقْضِي وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ ، إِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ ، سُبْحَانَكَ رَبَّنَا تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ.

“Kakekku, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepadaku beberapa kalimat yang saya ucapkan di dalam qunut witir, yaitu: (seperti tertera di atas).”[1]

Hadits di atas menunjukkan akan di-sunnah-kannya untuk ber-qunut pada shalat witir.

Apakah disunnahkan untuk dilakukan setiap hari? Allahu alam pendapat yang kuat adalah pendapat yang mengatakan, yang disunnahkan adalah mengerjakannya kadang-kadang dan meninggalkannya kadang-kadang. Seperti inilah yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Qnut witir dan qunut lainnya dilakukan di rakaat terakhir shalat, bila seseorang berwitir dengan 3 rakaat, maka witir dilakukan pada rakaat ke-3, apabila dilakukan qunut pada saat ada nazilah (kejadian penting/genting untuk mendoakan kebaikan kepada kaum muslimin dan mendoakan keburukan untuk kaum kafirin) di shalat Dzuhur, maka qunut dilakukan pada rakaat ke-4. Para ulama telah sepakat akan hal ini.

Qunut witir boleh dilakukan sebelum ruku ataupun setelah ruku berdasarkan pendapat yang kuat. Di antara dalil yang menunjukkan bahwa qunut dilakukan oleh setelah ruku adalah hadits yang diriwayatkan di dalam Shahih Ibni Khuzaimah[2], ketika Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu mengumpulkan manusia agar ber-mamum dengan satu imam ketika shalat malam di bulan Ramadhan, disebutkan di dalam hadits tersebut bahwa sang imam ber-qunut, kemudian di akhir hadits disebutkan:

ثُمَّ يُكَبِّرُ وَيَهْوِي سَاجِدًا

“Kemudian dia bertakbir dan turun untuk bersujud.”

Ini menunjukkan bahwa qunut dilakukan setelah ruku dan sebelum sujud. Inilah yang banyak dilakukan oleh para ulama di zaman sekarang ini.

 

Dan di antara dalil yang menunjukkan bahwa qunut dilakukan sebelum ruku adalah hadits berikut:

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ كَانَ يُوتِرُ فَيَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوعِ.

“Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’b radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu shalat witir dan ber-qunut sebelum ruku.”[3]

Ini menunjukkan bahwa qunut juga dilakukan sebelum ruku.

 

Imam shalat witir membaca doa qunut witir dengan suara dikeraskan (di-jahr-kan). Jika mamum shalat di belakang imam yang membaca qunut witir, maka mamum di-sunnah-kan untuk mengaminkan doa imam dan mamum tidak perlu berdoa sendiri, tetapi ma’mum cukup mendengar dengan baik doa-doa imam kemudian dia mengaminkannya.

Ibnul-Mundzir An-Naisaburi rahimahullah mengatakan, “Malik bin Anas mengatakan, ‘Dia berqunut di pertengahan Ramadhan, yakni Imam. Dan Imam melaknat orang-orang kafir dan orang-orang di belakangnya mengaminkan. Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, ‘Imam berdoa dan diaminkan oleh orang di belakangnya.’ Begitu juga dikatakan oleh Ishaq, seperti itu juga yang kami katakan.”[4]

 

[1] HR Ahmad no. 1718, Abu Dawud no. 1427 dan Ibnu Majah no. 1178.

[2] HR Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya II/155 nomor 1100.

[3] HR Ibnu Majah no. 1182.

[4] Al-Awsath Fis-Sunan Wal-Ijma’ Wal-Ikhtilaf V/215-216.

Related posts

Leave a Comment