Menyikapi Tingkah Senioritas

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Kak, panggil saja aku Nabila, umurku tujuh belas  tahun. Sekarang aku kelas tiga  MA di sebuah pondok pesantren. Di pondokku biasanya kelas tiga MA dijadikan satu komplek Kak, tapi entah mengapa aku bersama tiga temanku dibedakan. Jadi kami tidak sekomplek dengan teman-teman yang lain. Saat ini aku merasa diamanahi sebagai kakak pembina di pondok. Semua itu enjoy saja untukku, Kak. Aku sangat senang bisa membantu dan bermanfaat. Tapi ada satu hal yang aku tidak tahu harus bagaimana menyikapinya. Teman-temanku seangkatanku cenderung bertingkah senioritas Kak, mereka tidak mengindahkan peraturan dan berperilaku semaunya. Mereka meminta tolong aku agar semua keseharian mereka tidak diketahui pembina yang lain. Jika semua itu bocor, aku pasti disindiri, diolok-olok, tidak dianggap dan perlakuan buruk sosial lainnya. Aku bingung Kak, apa aku diam saja dengan kelakuan mereka yang senioritas atau aku harus bagimana? Rasanya aku juga malu dengan adik-adik kelas yang lain. Mohon solusinya, Kak.

Nabila

Via email

 

Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh

Nabila…hidup dalam lingkungan pondok yang majemuk tentu berbeda dengan hidup di lingkungan keluarga. Keanekaragaman perilaku orang dalam satu kompleks  memang membutuhkan penyesuaian diri yang besar disertai dengan keterampilan lebih, dalam bergaul dan  berkomunikasi. Bahkan pada saat tertentu keterampilan sebagai pemimpin pun dibutuhkan.

 

Sayangnya, kamu tidak menceritakan siapa yang sebenarnya memberikan amanah kepadamu untuk menjadi kakak Pembina. Karena, bagaimanapun orang yang memberikan kepercayaan padamu untuk menjadi kakak pembina  dapat memperkuat posisimu di hadapan temanmu. Misalnya, pengurus pondok yang memberikan amanah ini, tentunya posisimu menjadi lebih kuat sehingga kamu dapat menekan teman temanmu yang bertingkah senior. Jika adik-adik kelas yang memberikan amanah ini, itu artinya kamu dipercaya dapat memberikan bimbingan dan arahan yang baik buat mereka. Termasuk bagaimana mereka percaya bahwa kamu dapat mengatasi tingkah senioritas teman-temanmu seangkatan tersebut. Jika teman-temanmu sendiri yang memberikan amanah ini, justru akan memberi kekuatan posisi padamu bahwa jika mereka memilihmu jadi pembina maka seharusnya mereka juga patuh jika kamu memberikan arahan pada saat mereka bertingkah seenaknya.

 

Nabila..Kakak memahami sulitnya berada dalam posisi sepertimu. Di satu sisi kamu ingin dapat menegakkan aturan sesuai seharusnya dan menjaga amanah sebaik mungkin sebagai seorang pembina, di sisi lain jika semua itu dijalankan dengan baik maka kamu akan mendapat resiko pembangkangan dari teman seangkatan sendiri. Bahkan lebih ekstrimnya akan mendapat bully secara mental dari teman-temanmu sendiri. Karenanya, sangat penting merebut hati teman-temanmu  sehingga mereka mau menerima arahan darimu ketika mereka bertingkah seenaknya dan melanggar aturan. Namun, karena ini juga berkaitan dengan ego remaja, maka ini menjadi pekerjaan yang tidak mudah. Mereka tentu merasa sederajat denganmu sehingga tidak mudah menerima pengarahan darimu apalagi teguran.

 

Namun, ada satu hal yang perlu diketahui adalah ketika seseorang mendapat kepercayaan untuk menjadi seorang pembina itu artinya ada jiwa kepemimpinan yang dimiliki orang tersebut. Jadi, siapapun yang memberimu amanah untuk menjadi kakak Pembina, mereka percaya bahwa kamu dapat membimbing adik-adik atau teman temanmu dan memberikan contoh yang baik bagi mereka. Karenanya, sangat penting menjaga amanah ini dan berusaha sebaik mungkin menunaikannya.

 

Saran dari Kakak tetaplah berusaha menegakkan aturan sesuai seharusnya. Jika banyak orang yang memberikan kepercayaan padamu tentunya akan banyak pula orang yang akan mendukungmu di saat sulitmu. Jadi, cobalah untuk tetap memberikan arahan kepada mereka bagaimana aturan seharusnya ditegakkan karena ini juga untuk memberi contoh yang baik buat adik adik mereka. Jika mereka tetap membandel, paling tidak kamu sudah berusaha untuk mengingatkan mereka. Walaupun resikonya kemungkinan kamu akan dikucilkan, akan tetapi kau masih punya adik adik kelas yang memberikan kepercayaan padamu.

 

Nabila, tentu ada batasan-batasan yang dapat kamu pegang untuk mengatasi tingkah laku senioritas temanmu. Jika masih dapat ditolerir alangkah lebih baiknya kamu memberikan sedikit arahan pada mereka dan tak perlu melaporkan kepada Pembina lain untuk kemaslahatan bersama. Namun jika suatu saat kamu merasa  bahwa tingkah mereka sudah sangat keterlaluan bahkan menjurus keburukan dan tetap membandel saat kamu sudah mengingatkan mereka maka saat itulah tidak ada langkah lain selain melibatkan Pembina lain/pengurus pondok untuk membantu ‘meluruskan’ mereka. Toh, ini juga untuk kebaikan mereka sendiri. Jadi, tanyakanlah pada hatimu tindakan apa yang seharusnya kamu ambil.

 

Tidak mudah memang, namun percayalah pemimpin yang tegas memegang prinsip yang benar dan amanah akan lebih dihormati daripada pemimpin yang menuruti semua kemauan orang lain yang dipimpinnya namun bertentangan dengan nuraninya sendiri.

 

Begitu  ya, Nabila…

Kakak berharap kamu bisa menjadi pemimpin yang tegas dalam memegang prinsip, berani  menerapkannya dan kuat menghadapi tantangan.

Related posts

Leave a Comment