Kuliah atau Menganggur

Assalamualaikum Kak Yasmine..

Kak Yasmine, saya mau curhat…Saya masih duduk di bangku MA kelas tiga. Saya bingung, Kak, antara mau melanjutkan kuliah atau mau menganggur dulu. Sedangkan umi saya menyuruh untuk menyelesaikan hafalan Alquran. Tapi saya malu kalau nggak kuliah. Saya iri sama temen- teman  saya.
Lalu apa yang harus saya lakukan, Kak??? Saya bingung banget. Mohon solusinya
Syukron

Wassalamualaikum

Nadia via email

 

Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh

Dear Nadia…beberapa bulan lagi kelulusan segera tiba. Kakak salut, Nadia sudah memikirkan arahan yang akan diambil setelah lulus MA nanti. Banyak remaja yang belum memikirkan apa langkah selanjutnya setelah lulus nanti. Mereka bilang biarkan mengalir saja, tinggal ikutan teman atau biarkan orang tua yang menentukan. Tak banyak yang menyadari bahwa merekalah yang akan menjalani masa depan mereka sendiri kelak. Oleh karena itu, sangatlah penting memikirkan masa depan jauh-jauh hari sebelumnya.

 

Nadia…di usia muda sepertimu, kamu berhak mengambil keputusan sendiri dengan tetap memberi kesempatan orangtua memberi pertimbangan demi kebaikanmu. Berkaitan dengan dilema yang kamu  hadapi ,Kakak akan coba memberikan paparan untuk kamu pertimbangkan. Sebelumnya tanyakan pada dirimu sendiri, apa tujuanmu hidup saat ini? Lalu apa yang kamu inginkan untuk meraih hidup yang kamu inginkan tersebut.

 

Sebelumnya kamu sangat malu dan iri dengan teman-teman yang mendapat kebebasan untuk mengambil kuliah setelah lulus nanti. Berkaitan dengan pertanyaan tadi, apakah benar kamu menginginkan kuliah tersebut dari dalam dirimu? Mengapa hal ini Kakak tanyakan? Karena semuanya akan berimbas dengan kehidupan masa depanmu kelak. Kenyataannya, berapa banyak orang yang mengambil kuliah namun tidak selesai karena ikut-ikutan teman sementara mereka tidak sepenuh hati menjalaninya. Bukankah dengan kasus seperti ini akan sangat membuang waktu, biaya dan tenaga?

 

Tolong dipahami bahwa jika Nadia memutuskan  untuk kuliah haruslah dipikirkan baik-baik disertai  dengan pertimbangan yang matang, kesungguhan mendalami ilmu yang bermanfaat dan bukan semata- mata malu kalau kelihatan tidak kuliah, sementara  teman yang lain kuliah. Kemudian pertimbangkan tempat kuliah dan lingkungannya  yang dapat mendukung untuk menambah hafalan Al Quran. Beberapa universitas menyediakan sekolah khusus mahasiswa untuk mendalami tahfidz (kampus  tahfidz) seperti di UGM misalnya. Biasanya didirikan oleh komunitas mahasiswa muslim yang aktif di sela-sela perkuliahan. Jikalau kamu bisa mendapatkan tempat kuliah yang mendukung seperti ini , kamu bisa mendiskusikan dengan ibunda tentang kemungkinan mengambil kuliah. Namun perlu dipertimbangkan bahwa meskipun ada, tentu saja target hafalannya tidak akan seoptimal bila mengkhususkan diri menghafal saja seperti yang dikehendaki ibunda. Pertimbangan lainnya adalah pergaulan di tempat kuliah umum saat ini sudah jauh lebih bebas dibandingkan dengan zaman dahulu, sehingga kesalahan dalam memilih teman akan berakibat fatal. Beberapa kasus sudah terjadi. Oleh karena itu pertimbangkan jurusan yang kamu pilih. Lebih baik jika memilih jurusan yang sebagian besar perempuan, diutamakan muslimah tentunya.

 

Lalu bagaimana jika tidak mengambil kuliah tahun ini dan menuruti ibunda untuk menyelesaikan hafalan dulu baru  kuliah? Berarti menganggur,dong,Kak?

Nadia sayang…siapa bilang jika kamu tidak kuliah tapi fokus menghafal Alquran itu dikatakan menganggur? Bukankah kamu juga sama belajarnya dengan teman-temanmu yang kuliah? Bedanya, kamu belajar untuk kepentingan akhiratmu terlebih dulu? Bukankah ini sangat bermanfaat bagi dirimu, orangtua, dan anak-anakmu kelak? Apalagi jika semua kamu niatkan untuk ibadah. Kakak yakin semuanya akan berakhir indah pada saatnya.

 

Kakak justru bangga dengan ibunda yang lebih mementingkan kebahagiaan akhiratmu karena sangat sedikit ibu yang seperti ini di zaman sekarang. Tak banyak anak yang mendapat kesempatan emas untuk meraih surganya melalui dukungan ibu seperti ini. Lihat saja, berapa banyak orang tua yang mengejar karir untuk anaknya hingga sang anak merasa kekosongan dalam hatinya.

 

Apalagi dalam kasus ini, ibunda sama sekali tidak melarang untuk kuliah, bukan? Beliau  hanya memintamu menunda kuliah hingga kamu selesai menghafal. Bukankah ini dapat menjadi target agar kamu dapat menyelesaikan hafalan lebih cepat?

Tak perlu malu mengatakan bahwa kamu pun juga kuliah dengan menghafal Alquran tersebut.

Nadia..apapun yang kamu putuskan pertimbangkan dengan matang dan ambillah keputusan dengan percaya diri. Masa depanmu kamu sendiri yang menjalani. Oleh karena itu jangan sampai mengambil keputusan karena malu dengan omongan orang.

Demikian ya sayang..

Semoga membantu…

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh

Related posts

Leave a Comment