Godaan Cinta Pertama

Assalamualaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh,

Kak Yulia…..perkenalkan namaku Tiwi dari Makassar. Aku mau curhat nih, Kak… To the point saja ya.  Aku punya masalah, tepatnya masalah hati. Prinsipku adalah nggak akan pacaran sebelum menikah. Nah, prinsipku ini ditertawakan oleh teman-teman sekelas. Katanya nggak pacaran nggak gaul. Aku terus dihujani dengan olok-olokan itu. Awalnya aku biasa saja tapi lama- lama aku risih juga dan pertahananku perlahan mulai roboh dikarenakan aku mulai dekat dengan seseorang. Aku pernah jatuh cinta sama teman kelas sebelah. Cinta pertama tepatnya. Katanya cinta pertama susah untuk dilupakan. Ternyata benar,Kak. Sudah tiga tahun berlalu aku masih menyukainya dan sangat susah melupakannya. Dia pernah menyatakan cinta tapi kutolak dengan alasan prinsip. Kata teman, aku katro dan kudet . Mereka memaksaku untuk menerimanya tapi aku mengalami dilemma. Apakah aku menerima cintanya atau tetap mempertahankan prinsipku?

Atas jawaban Kakak aku sangat berterima kasih

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Tiwi

Via email

 

Wa’alaikumussalam wr.rb

Dear Tiwi…zaman sekarang,  pacaran sudah dianggap wajar bagi sebagian besar remaja sepertimu. Bahkan cara berpacaran gaya barat pun sudah sangat wajar dijalani sebagian remaja masa kini hingga istilah gonta ganti pacar pun sudah biasa terdengar. Tak peduli bahwa mereka telah bermain-main dengan perasaan. Cinta pertama pun sudah banyak dirasakan anak-anak usia SD. Bisa dibayangkan jika sejak usia semuda itu semuanya dituruti dengan label ‘pacaran’, berapa jumlah mereka yang berpacaran hingga akhirnya mereka memutuskan menikah? Tentu jumlah yang tak sedikit. Namun demikianlah kenyataannya.

 

Islam adalah agama yang sangat indah. Islam sangat menjaga akhlak bagi penganutnya. Termasuk dalam masalah berpacaran. Mungkin banyak di antara kita sudah mengetahui mengapa berpacaran dalam Islam itu dilarang. Namun karena pacaran menyangkut  soal hati, godaan untuk menjalaninya selalu saja ada. Ada remaja yang berkilah tidak melabeli hubungan dekat mereka antara lawan jenis dengan berpacaran, namun pada kenyataannya hubungan mereka diwarnai dengan jalan berdua, saling berkata suka, saling cemburu, sebagaimana orang berstatus berpacaran. Istilahnya, teman tapi mesra. Itulah godaan..

 

Tiwi yang baik…Kakak salut dengan gadis sepertimu yang dapat mempertahankan prinsip ini selama tiga tahun. Saat ini tak banyak remaja yang punya prinsip seperti ini , bahkan terpikir untuk punya prinsip seperti ini pun, tidak sama sekali, sebagaimana teman –temanmu yang mengolok dirimu dengan prinsipmu itu.

 

Tiwi..sudah tiga tahun kamu berhasil mempertahankan diri. Ini adalah prestasi yang luar biasa di tengah lingkungan yang tidak mendukungmu. Apalagi kamu berhasil melawan godaan berpacaran dengan orang kamu sukai. Bagi sebagian orang, ini berat namun kamu berhasil melaluinya selama tiga tahun. Tiwi sayang…. akankah kamu hancurkan prinsip yang sudah kamu genggam selama tiga  tahun dalam sekejap untuk cinta seseorang yang belum tentu kelak akan menjadi jodohmu? Atau untuk memenuhi kehendak  teman-teman agar kamu mau mecicipi rasanya berpacaran seperti mereka?

 

Tiwi..sebagai seorang muslimah hendaknya kita berusaha menjaga kehormatan kita dengan berakhlak yang baik. Salah satunya adalah menjaga hubungan dengan lawan jenis sebagaimana seharusnya. Berpacaran sangat berisiko mengarah pada perbuatan maksiat seperti bertutur kata manis kepada lawan jenis yang bukan mahram, berpegangan tangan , berpelukan , bahkan cipika cipiki (cium pipi kanan cium pipi kiri) hingga berisiko perbuatan maksiat terbesar yaitu berzina. Semuanya mengarah pada perbuatan dosa. Banyak remaja menganggap remeh hal ini dengan berdalih zaman sekarang sudah biasa seperti itu. Bahkan yang sudah mengetahui hukumnya pun tetap coba-coba melanggarnya. Padahal semua larangan ini dibuat semata-mata untuk kebaikan kita, agar kita menjadi manusia yang berakhlak mulia, terjaga kehormatannya di depan manusia dan di hadapan Allah. Ingat, bahwa semua perkataan dan perbuatan kita, semua akan dipertanggungjawabkan di sisi Allah kelak di akhirat.

Oleh karena itu Tiwi pikirkan baik-baik, siapa yang akan kamu menangkan dalam hal ini. Apakah nafsu diri, keinginan teman , atau prinsip untuk mendapat ridha Allah ? Kakak tahu, tak mudah untuk menjaga prinsip ini dan melawan godaan berpacaran apalagi di lingkungan yang  sangat umum menjalaninya. Tapi semua pengorbanan akan membuahkan hasil yang manis di akhir. Bersabarlah menunggu ya, Sayang. Waktu itu akan tiba. Jika dia memang jodohmu, kelak pasti akan dipertemukan kembali dengannya. Apabila bukan jodohmu, yakinlah pasti Allah akan memberikan seseorang yang jauh lebih baik sebagai ganti pengorbanan dan kesabaranmu selama penantian ini.

 

Oleh karena itu, saran Kakak, sekarang  tak perlu bermain-main dengan perasaan cinta yang belum seharusnya ada karena racunnya sangat berbahaya. Sebaliknya, fokuslah pada prestasi dan ibadahmu agar dapat membahagiakan keluarga. Banggalah dengan prinsipmu ini walaupun berbeda dengan teman yang lain. Justru ‘beda’ seperti inilah yang membuatmu istimewa. Izinkanlah suamimu kelak menjadi cinta pertama dan cinta terakhirmu. Indah bukan?

Semoga membantu yaa…

Wassalamualaikum warohmatullahi abarakaatuh

Related posts

Leave a Comment