Ishaq bin Rahawaih Guru Para Ulama Rabbani

Ishaq bin Rahawaih, Al-Hafidz Al-Faqih Ishaq bin Ibrahim bin Makhlad al handhali at-Tamimi al-Marwazi. Dengan kuniyah Abu Ya’kub. Lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Rahawaih. Rahawaih sendiri merupakan julukan sang ayah, yaitu Abul Hasan Ibrahim. Dijuluki demikian karena beliau lahir di tengah jalan menuju Makkah. Sedangkan jalan dalam bahasa Persia disebut “Raaha” sedangkan “waih” berarti menemukan. Seolah-olah anak itu ditemukan di jalan. Ibnu Rahawaih lahir pada tahun 163 H, ada juga yang mengatakan pada tahun 161 H.

Lazimnya di masa itu, pemuda muslim memulai belajarnya pada para ulama di negrinya sebelum mengembara ke negri-negri yang jauh untuk menuntut ilmu. Demikian pula  Ibnu Rahawaih. Setelah itu barulah ia memulai perjalanan jauh belajar ilmu pada tahun 184 H. Negri yang dituju adalah pusat-pusat ilmu agama kala itu. Iraq, Hijaz, Yaman, dan Syam. Majelis ilmu yang digelar oleh para ulama secara intensif diikutinya. Diantara  ahli ilmu kenamaan yang mengajarkan ilmu padanya adalah Al-Fudhail bin Iyadh, Jalil bin Abdul Hamid ar-raazi, Sufyan bin Uyainah, Abdurrahman bin Mahdi, Al-Walid bin Muslim dan Abdullah bin Wahb. Al-Walid bin Muslim, Waki’ bin Al-Jarrah, Yahya  bin Sa’id Al-Qaththan, Sulaiman  bin Harb, Yahya bin Adam dan masih banyak lain.

**

Beliau adalah seorang imam yang ternama lagi masyhur dalam periwayatan. Tinggal di daerah Naisabur. Pendapat dan perkataannya diikuti  oleh penduduk  Naisabur. Dia sendiri merupakan teman belajar dari Imam Ahmad bin Hanbal. Dia beberapa kali pergi kota Baghdad dan duduk di majelis para ulamanya.  Kemudian ia kembali lagi Negri Khurosan dan tinggal di Naisabur hingga meninggal dunia. Ilmunya terus menyebar di daerah Khurosan.

Ada seseorang yang bertanya pada Imam Ahmad bin Hanbal tentang kepakaran Ishaq bin Rahawaih maka beliau menjadi keheranan. “Orang sekelas Ishaq  ditanyakan lagi kemampuannya? Ishaq menurut kami termasuk para imamnya kaum muslimin.”

Dia juga mengatakan, “Tidak ada seorang pun yang melintasi jembatan Khurosan sehebat Ishaq.” Imam Ahmad dengan tegas mengungkapkan pula, “Aku tidak mengetahui di Iraq orang yang sehebat Ishaq.” “Asy-Syafi’i  menurut kami adalah  seorang imam, Al Humaidi adalah imam  dan Ishaq bin Rahawaih menurut kami imam.”  Kisah pertemuan Imam  Ahmad bin Hambal dengan Ishaq dikisahkan oleh Abdullah, putra Imam Ahmad. Abdullah bin Ahmad bin Hambal berkata, “Setelah ayahku dilepaskan dari penjara, Ishaq bin Rahawaih merasa khawatir untuk datang ke ayahku. Ayahku datang menemuinya. Setibanya di sebuah kampung, ia masuk ke dalam masjid. Tiba-tiba hujan turun begitu deras.  Setelah malam semakin gelap orang-orang berkata kepadanya, ‘Keluarlah dari masjid, kami ingin menutupnya.’ Ayahku berkata pada mereka, ‘Ini masjid Allah, dan aku adalah hamba-Nya.’ Dikatakan kepadanya, ‘Mana yang lebih engkau suka; keluar atau kami tarik kakimu?’ Kukatakan, ‘Baiklah.’ Maka, aku pun keluar dari masjid, padahal hujan masih deras disertai guntur dan petir. Aku tidak tahu di mana harus menapak. Dan, aku tidak tahu kemana harus melangkah. Tiba-tiba seseorang keluar dari rumahnya dan berkata, ‘Aduh orang ini, mau ke mana di saat seperti ini?’ Aku jawab, ‘Aku tidak tahu ke mana harus melangkah.’ Ia berkata kepadaku, ‘Masuklah.’ Ia pun memintaku masuk dan melepas pakaianku.

Selanjutnya, ia memberiku pakaian yang kering. Aku pun bersuci untuk shalat. Aku masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada tungku arang dan meja makan. Dikatakan kepadaku, ‘Makanlah.’ Aku pun makan bersama mereka. Ia berkata kepadaku, ‘Kama dari mana?’ Kujawab, ‘Aku dari Baghdad.’ Ia bertanya lagi, ‘Apakah engkau mengenal seseorang yang bernama Ahmad bin Hambal?’ Kujawab, ‘Akulah Ahmad bin Hambal.’ Ia berkata kepadaku, ‘Akulah Ishaq bin Rahawaih.”‘

**

Abu Hatim ar-Razi berkomentar, “Ishaq bin Rahawaih adalah salah satu imam dari para imam kaum muslimin.” Said bin Duaib berkata, “Aku belum mengetahui di dunia ini orang seperti Ishaq.”

Abu Dawud al Khafaf berkata Ibnu Rahawaih mendikte untuk kami 11.000 hadits dengan hafalannya, kemudian diulangi lagi dikte itu persis sama yang telah didiktekan sebelumnya, tanpa bertambah atau berkurang satu haruf pun.

Nu’aim bin Hammad berkata, “Apabila engkau melihat penduduk ‘Iraq yang mencela Ahmad bin Hanbal, maka curigailah agamanya. Apabila engkau melihat penduduk Khurasaan yang mencela) Ishaaq bin Raahawaih, maka curigailah agamanya. Dan apabila engkau melihat penduduk Bashrah yang mencela Wahb bin Jariir, maka curigailah agamanya”.

Kehebatan hafalan Ishaq sudah populer. Sehingga Abu Zur’ah pernah mengatakan, “Tidak ada yang lebih pakar dalam hafalan dibanding Ishaq.” Sedangkan Abu Hatim berkata, “Yang menakjubkan adalah dari hafalan dan selamatnya dari kesalahan disamping anugerah hafalannya.” Pernah Ahmad bin Salamah bertanya, “Aku bertanya pada Abu Hatim tentang Ishaq yang mendiktekan tafsir dengan hafalannya. Maka Abu Hatim berkomentar, “Hal ini lebih menakjubkan lagi. Karena kekuatan hafalan hadits dengan jalur riwayatnya lebih mudah dan ringan dibandingkan kekuatan hafalan dalam jalur periwayatan tafsir dan lafal-lafalnya.”

Dari tangan dinginnya lahir banyak ulama rabbani seperti Imam Al-Bukhari, Muhammad bin Ishaq, Muslim, At-Tirmidzi, Abu Dawud, An-Nasa’i, Abdurrahman Ad Darimi, Muhammad bin Nashr al Marwazi dan masih banyak lagi. (**)

Related posts

Leave a Comment