Imam An-Nasa’i Bersama 196 Guru

Abu Abdir Rahman Ahmad bin Syu’aib bin Ali bin Bahr bin Sinan bin Dinar an-Nasa’i. Lebih dikenal sebagai Imam An-Nasa’i. Dilahirkan di Nasa, sebuah daerah di negri Khurosan (sekarang termasuk dalam wilayah afghanistan dan Turkmenistan) pada tahun 215 H. Masa kecil An-Nasa’i dipenuhi dengan aktivitas belajar. Sejak belia ia tumbuh dalam semangat mencari dan memperoleh ilmu agama. Jejak kebiasaan para ulama rabbani pun  ia ikuti, melakukan rihlah untuk menuntut ilmu. Banyak perjalanan kota dan negri ia datangi, untuk menyentuh lutut para ahli ilmu dan meneladani adab-adab mulia mereka. Banyaknya kota yang dijelajani menjadikan guru Imam An-Nasai berderet jumlahnya. Sekaligus menunjukkan betapa mumpuni keilmuan yang dimilikinya. “Ia bepergian ke berbagai negri. Ia menimba ilmu dari para guru yang berada di negri Khurosan, Iraq, Hijaz, Mesir, Syam, dan Al Jazirah.  Tentang siapa para gurunya, An-Nasa’i sendiri menulis sebuah tulisan  tersendiri yang menyebutkan tentang identitas sebagian guru-gurunya. Tulisan tersebut diberi judul “Tasmiyatusy-Syuyukh.” Jumlah guru yang disebutkan di dalam risalah itu sebanyak 196 guru. Yang paling populer dari mereka antara lain, Al Imam Ishaq bin Ibrahim al-Handzali atau yang lebih dikenal sebagai Ibnu Rahuyah. Imam Qutaibah bin Sa’id bin Jamil Al Baghalani, Imam Mahmud bin Ghilan Abu Ahmad Al Marwazi. Imam Yahya bin Musa Abu Zakariya. Tentu saja masih banyak yang  belum disebutkan di sini.

Pemimpin Agama

Imam An Nasai  merupakan imam di zamannya. Para penuntut ilmu dari berbagai  penjuru negri datang untuk menimba ilmu padanya di Mesir. Ya, masa-masa terakhir hidupnya hendak dihabiskan di negri tempat tinggal Nabi Yusuf tersebut. Meski pada akhirnya ia tidak meninggal di negri itu. Di Mesir, An-Nasa’i menjadi pusat perhatian para penuntut ilmu hadits, dengan kepakaran dan mendalamnya ilmunya tentang hadits.  Imam adz-Dzahabi berkata tentang An-Nasa’i, “Kemudian ia tinggal di Mesir, dan para hafidz melakukan perjalanan untuk belajar padanya. Dalam bidang hadits ini ia memang tak ada tandingannya.”

Di antara pribadi yang beruntung menjadi murid Imam An-Nasa’i adalah Al Imam Abu Bisyr Muhammad bin Ahmad Ad-Daulabi, Al-Imam Abu Uwanah Ya’qub bin Ishaq Al Isfirayini, Al Imam Ahmad bin Muhammad bin Salamah Abu Ja’far Ath-Thahawi dan masih banyak yang lain lagi.

Tampaknya para ahli ilmu bersepakat untuk memberikan pujian pada An-Nasa’i,  di sisi mengakui keutamaan dan keilmuan agamanya.  “Abu Abdur rahman adalah yang terdepan dalam ilmu ini dibandingkan orang lain di masanya.” Kata ad-Daruquthni. Ia juga pernah mengungkapkan“Abdurrahman An-Nasa’i adalah syaikh Mesir yang paling berilmu  di masanya. Paling paham dengan sah dan tidaknya riwayat hadits, dan paling berilmu tentang orang yang meriwayatkan hadits.” Al-Hafidz Abdur Rahman an-Naisaburi berkata, “Abu Abdirrahman an-Nasa’i adalah   imam dalam hadits, hal ini tidak bisa disangkal.” Ahmad bin Muhammad bin Salamah Ath-Thahawi mengatakan, “Abu Abdirrahman an-Nasa’i adalah salah imam kaum muslimin.”

Beribadah dan Berjihad

Di sisi kesibukannya dengan ilmu, belajar dan mengajar, An-Nasa’i merupakan pribadi yang bermujahadah dalam ibadah serta banyak berbuat amalan ketaatan. Abul Husain Muhammad bin Mudzaffar al hafidz mengatakan, “Aku mendengar sendiri dari para guru kita di Mesir, mereka mengakui kelebihan dan keimaman An-Nasai. Mereka pun mengisahkan tentang kesungguhannya dalam beribadah di malam dan siang hari, konsisten menjalankan ibadah haji dan jihad.”

Guru yang lain berkata, “An-Nasa’i biasa berpuasa sehari dan berbuka sehari. Ia memiliki empat orang istri, banyak  bergaul dengan istrinya, wajahnya ganteng dan warna kulitnya bersih.” Dia juga dikenal sebagai mujahid yang gagah berani, berpengalaman dalam pertempuran dan menguasai berbagai taktik peperangan.”

Al-Hakim mengungkapkan, “Perkataan Imam An-nasa’i dalam fikih hadits banyak. Siapa yang memperhatikan dengan seksama di dalam kitab sunannya maka akan takjub dengan keindahan perkataannya.”

Imam An-Nasa’i memiliki banyak hasil karya tulis. Meski demikian beliau rahimahullah populer dengan dua kita yang berisi di dalamnya kumpulan hadits-hadits  Nabi. Kitab yang dimaksud adalah “Assunan Al Kubra” dan Assunan Ash-shughra. Kitab  Assunan Ash-Sughra karya an-Nasai merupakan kitab hadits yang paling sedikit berisi hadits dhaif, setelah kitab shahih Al-Bukhari dan Muslim.

**

Pernah ia pergi ke Damaskus, di sana ia mendapatkan orang-orang yang menyimpang dalam bersikap terhadap Ali bin Abi Thalib. Maka ia pun menulis sebuah kitab, “Al-Khasais” terkait dengan keistimewaan Ali bin Abi Thalib. Gara-gara itu, ia pun disakiti oleh orang. Wafat di Palestina, pada bulan shafat tahun 303 Hijriah. Ada juga mengatakan bahwa An-Nasa’i meninggal di Makkah. Para ahli sejarah menyebutkan bahwa An-Nasai meninggal karena cobaan dan gangguan yang menimpa dirinya. Sehingga Imam Ad-Daruquthni menyebutkan, “Beliau meninggal dalam kondisi terbunuh mati syahid.”(**)

Related posts

Leave a Comment