Imam Abu Dawud Dan 50 Ribu Hadits

Imam Abu Dawud. Nama lengkapnya Sulaiman bin Al-Asy’as bin Ishak bin Basyir bin Syidad bin Amar Al-Azdi As-Sijistani. Seorang imam dan tokoh ahli hadits, serta penulis kitab hadits terkenal Sunan Abu Dawud. Dia lahir pada tahun  212 Hijriah di masa kekhalifahan Al-Ma’mun.  Tanah Sijistan, sebuah daerah di wilayah Iran, menjadi saksi kelahiran bayi laki-laki yang  kelak menjadi ulama besar. Syaikh Muhibuddin Al-Khatib berpendapat lain tentang daerah Sijistan. Menurutnya, Sijistan termasuk daerah Afghanistan di masa sekarang, tepatnya sebelah selatan Afghanistan. Imam Abu Dawud tumbuh dalam kecintaan terhadap ilmu. Sejak belia semangatnya sangat tinggi untuk mempelajari hadits Rasulullah n. Tanda-tanda kecerdasannya pun telah nampak sejak dini. Kondisi masyarakat waktu itu mendukung kehidupan ilmiahnya. Yah, Abu Dawud hidup di abad ke tiga Hijriyah, masa keemasan bagi ilmu pengetahuan. Di kurun tersebut para pakar ilmu pengetahuan agama bertebaran mengembangkan ilmunya. Dalam bidang hadits misalnya, kala itu hidup Al-Bukhari, Muslim, Yahya bin Ma’in, Ahmad bin Hanbal dan An-Nasa’i. Dalam ilmu fikih ada Al-Muzani, Dawud adh-Dhahiri dan yang lain. Dalam hal bahasa ada  Al-Mubarrid, Ibnu Qutaibah, Al-Jahidz, Ats-Tsa’lab dan al-Farra’. Dengan pertolongan Allah kehidupan sang imam bersentuhan langsung dengan gemilangnya peradaban islam. Abu Dawud menjadi lebih mudah untuk menggapai ilmu hingga ke puncak-puncaknya.

**

Sebagaimana kebiasaannya ulama ulama hadits di kala itu, Abu Dawud melakukan perjalanan ke banyak negri pusat ilmu. Ia melakukan perjalanan itu setelah menyelesaikan belajarnya pada para ahli ilmu di negrinya. Melalui rihlah tersebut ia bertemu dengan banyak ahli ilmu, menimba ilmu dan mempelajari hadits secara langsung dari mereka. Lebih dari itu, ia dapat menikmati manisnya belajar adab dan akhlak dari para ulama rabbani. Diantara negri yang dikunjunginya antara lain Khurasan, Ray, Hirah, Kufah. Khusus kota Baghdad, sebagai pusat berkumpulnya banyak ahli ilmu, ia datangi beberapa kali. Ia jugatinggal di daerah  Thurthus selama 20 tahun. Damaskus  dan Mesir adalah dua negri lain yang didatanginya. Akhirnya, ia memilih tinggal di Basrah karena permintaan  Amir Abu Ahmad Al-Muwaffaq  yang datang ke rumahnya di Baghdad, agar para penuntut ilmu berdatangan ke kota Basrah.  Kenyataan ini menunjukkan bahwa Abu Dawud begitu dikenal di berbagai penjuru. Manusia mengenal kedudukan, keutamaan dan keilmuannya. Dia menguasai 50.000 hadits. Dari jumlah tersebut kemudian dia seleksi dan menuliskan 4.800 di antaranya dalam kitab Sunan Abu Dawud. Abu dawud berguru pada Imam Ahmad bin Hanbal dan terpengaruh dengan metodenya dalam bidang hadits. Sebagaimana berguru pada Yahya bin Ma’in dan Ali bin Al-Madini, Qutaibah bin Sa’id, Yahya bin Sa’id al-Qaththan. Kitab Sunan itu ditunjukkan kepada ulama hadits terkemuka, Ahmad bin Hanbal. Imam Ahmad bin Hanbal pun memuji kitab tersebut.

**

Imam Abu Dawud termasuk ulama yang produktif dalam membuat karya tulis, khususnya dalam bidang ilmu hadits. Diantara karyanya adalah “dala-ilun-nubuwwah, kitab tafarrud fi as-sunan, kitab al-marasil, masa’il allati  su-ila ‘anha al-imam  Ahmad. Begitu pula memiliki kitab Nasikhul Qur’an wa  mansukhuh. Az-Zirkili juga menyebutkan bahwa Abu Dawud juga memiliki kita “Az-Zuhd” yang masih dalam bentuk tulisan  tangan, demikian pula kitab ‘Al-Ba’tsu’, dan tasmiyatul ukhuwah.

Ketika Abu Dawud telah menghibahkan seluruh hidupnya untuk ilmu hadits, maka murid-murid pun banyak berdatangan. Mereka belajar darinya dan meriwayatkan hadits. Diantara sekian banyak murid yang menonjol dari hasil pendidikannya adalah Imam at-Tirmidzi, Imam an_Nasa’i, putranya sendiri yaitu Imam Abu Bakr bin Abu Dawud, Abu Awanah, Abu Bisyr Ad-Daulabi, Ali bin Hasan bin Al-Abd dan masih banyak lagi yang lain.

Abu Dawud sanggup melampaui para cerdik pandai di masanya. Ia menguasai berbagai disiplin ilmu, meskipun ia memiliki spesialisasi dalam bidang hadits. Sehingga Abu Ishaq Asy-Syirazi menggolongkannya dalam jajaran ahli fikih yang merupakan  sahabat Imam Ahmad bin Hanbal. Ibrahim Al-Harbi berkomentar tentang Abu dawud dan karyanya “As-Sunan”, “Dilunakkan hadits untuk Abu Dawud sebagaimana besi dilunakkan untuk  Nabi Dawud.” Al-Hafidz Musa bin harun mengungkapkan, “Abu Dawud tercipta di dunia ini untuk melayani hadits, dan di akhirat-semoga- tercipta untuk surga. Aku belum melihat ada orang sehebat dirinya.”  Imam Al-Hakim memberikan penilaian tersendiri pada Imam Abu Dawud, “Abu Dawud adalah imam ahli hadits di masanya tanpa bisa diragukan lagi.”

Setelah mengisi kehidupannya dengan melayani ilmu, mengumpulkan dan menyebarluaskan hadits, akhirnya Imam Abu Dawud pulang menghadap pada Allah. Abu Dawud wafat di Basrah, pada tanggal 16 Syawal 275 H. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan ridha-Nya kepadanya. (**)

Related posts

Leave a Comment