Abdul Ghani Al-Maqdisi 7 Kali Berwudlu

Dia lahir pada tahun 541 H bertepatan dengan tahun 1146 Masehi. Jamma’il, sebuah  daerah di pegunungan Nablus, Palestina jadi saksi kelahirannya. Dialah Al-Imam  Al-Hafidz Taqiyyudin Abu Muhammad Abdul Ghani bin Abdul Wahid bin Ali bin Surur bin Rafi bin Hasan bin Ja’far Al-Maqdisi Al-Jamma’ili Al-Hanbali. Penyandaran namanya “Al-Maqdisi”pada baitul Maqdis dikarenakan kota kelahirannya yaitu Jammail berdekatan dengan Baitul Maqdis. Abdul Ghani termasuk salah seorang ulama besar dari mazhab Hambali dan seorang ahli hadits yang menonjol. Buah karyanya dalam bidang hadits sangat berpengaruh dan terus digunakan hingga hari ini. Dia adalah saudara sepupu dari Al Imam Ibnu Qudamah dan murid dari Ibnul Jauzi.

Dari Negri ke Negri

Al Hafidz Abdul Ghani semenjak belia bersungguh-sungguh menuntut ilmu. Ia belajar pada ayahnya yang termasuk ahli ilmu, yaitu Al-Allamah Al-Fadhil Asy-Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Qudamah Al-Maqdisi Abu Umar. Tidak hanya pada sang ayah, ia juga menuntut ilmu pada para syaikh dan ulama negri Damaskus. Dari mereka Abdul Ghani menimba ilmu fikih serta beragam  ilmu yang lain. Sejarah  mencatat bahwa ia telah melakukan banyak rihlah (perjalanan)  ilmiah ke berbagai negri untuk menuntut ilmu kepada para ulama besarnya. Damaskus, Iskandariyah, Baitul Maqdis, Mesir, Baghdad, Harran, Mosul, Hamdzan dan selainnya. Bahkan ia melakukan perjalanan ilmiah  ke Baghdad dan Mesir sebanyak dua kali.

Ketika pergi ke  Damaskus pada tahun 550 H, ia menimba ilmu kepada Abul Makarim Ibnu Hilal, Salman bin Ali Ar-Rahbi, Abu Abdillah Muhammad bin Hamzah Al-Qurasy dan selainnya. Setelah itu pada tahun 561 H ia melanjutkan perjalanan menuju Baghdad dengan ditemani putra pamannya(dari jalur ibu), Syaikh  Muwaffaq. Di sana keduanya tinggal selama 4 tahun. Muwaffaq lebih tertarik menekuni bidang fikih, sedangkan al-hafidz Abdul Ghani lebih condong pada bidang hadits. Keduanya sempat  berguru pada Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani. Guru yang shalih tersebut memberikan perhatian dan bimbingan yang baik pada kedua pemuda tersebut.  mereka belajar tentang hadits dan fikih pada sang guru. Sayang,  keduanya tidak bisa lama belajar pada Syaikh Abdul Qadir Al Jilani. Terhitung hanya 40 hari. Karena Syaikh Abdul Qadir telah kembali keharibaan Ilahi.

Setelah  itu mereka berdua sibuk belajar fikih dan  khilaf dalam masalah fikih pada Ibnu Al Manni. Menyimak ilmu pada Abul Fath Ibnul Buthi, Ahmad bin Al Muqri’i al-Kurkhi, Abu Bakr bin  an-Naqur, Abu Zur’ah dan lainnya lalu keduanya pulang ke Damaskus. Selanjutnya al-hafidz kembali menuntut ilmu di tahun 566 H ke Mesir dan Iskandariyah. Disana ia tinggal beberapa waktu untuk  belajar pada Imam As-Silfi. Kemudian balik ke Damaskus namun pada tahun 570 pergi lagi ke Iskandariyah dan tinggal selama tiga tahun. Ia belajar lagi pada as-silfi  dan lebih banyak ulama yang lain lagi. Perjalanan untuk menuntut  ilmu tanpa henti dilakukan dari satu negri ke negri yang lain. Aktivitasnya untuk menulis, menyampaikan hadits dan memberikan faedah kepada kaum muslimin, serta beribadah tak berhenti hingga Allah mewafatkannya.

Perhatian dengan Waktu

Abdul Ghani sempat belajar pada ulama kenamaan, Ibnul Jauzi. Cucu Ibnul Jauzi mengatakan, “Abdul Ghani adalah pribadi yang wara’, zuhud dan ahli ibadah. Setiap hari ia menjalankan 300 rekaat shalat (maksudnya jumlah rekaat shalat sunnah dengan berbagai macamnya), senantiasa shalat malam, berpuasa di mayoritas hari dalam satu tahun. Dia sangat mulia lagi  dermawan memberikan sedekah pada fakir miskin dan anak yatim dengan sembunyi-sembunyi.  Dia biasa menambal pakaian yang lama namun ia bayar dengan harga pakaian baru. Penglihatannya melemah dikarenakan banyaknya membaca dan menangis. Dia adalah orang yang spesial di zamannya dalam bidang  ilmu hadits dan hafalan.”

.Abdul Ghani tidak  pernah menyia-nyiakan waktunya sedikit pun untuk hal yang tak berfaedah. Selepas shalat fajar ia mengajar bacaan  Al Quran pada orang-orang, kadang membaca beberapa hadits. Setelah  selesai kajian  ia lalu bangkit berwudlu lalu menjalankan shalat sunnah sampai menjelang dhuhur. Kemudian tidur sejenak hingga  waktu dhuhur. Setelah dhuhur ia sibuk dengan menyampaikan hadits atau menulis hingga datangnya waktu maghrib. Apabila berpuasa maka dia makan malam setelah shalat maghrib. Bila tidak berpuasa maka  dia menjalankan shalat sunnah setelah maghrib hingga waktu isya’ akhir. Selepas shalat Isya’ dia tidur hingga tengah malam atau setelah tengah malam. Kemudian dia bangun seolah-olah  ada orang  yang membangunkannya. Selanjutnya ia berwudlu dan menjalankan  shalat beberapa saat. Kemudian berwudlu lagi dan shalat. Selanjutnya dia berwudlu lagi  dan menjalankan shalat hingga dekat waktu fajar. Dalam satu malam bisa jadi ia berwudlu sebanyak tujuh kali. Ia pernah ditanya tentang hal ini, dan ia jawab, “Aku tidak merasa nyaman menjalankan shalat kecuali bila anggota tubuhku dalam kondisi basah.”  Menjelang  fajar ia tidur sebentar hingga datang waktu shubuh. Demikian kebiasaannya.

Beberapa buah karya Al Hafidh Abdul Ghani antara lain kitab Al-Kamal fi Asma’ ar-Rijal, kitab mengenai biografi dari para perawi hadits. Kitab ini menjadi sumber penulisan semua kitab yang ditulis tentang nama-nama perawi hadis dan biografinya setelahnya. Kitab Umdatul Ahkam, kumpulan hadits-hadits seputar fikih. Al-Misbah Fi ‘Uyuni al-Ahadits as-Shihah, yang berisi hadits-hadits dari Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Masih banyak lagi karya tulisnya. Semoga Allah merahmatinya.

Related posts

Leave a Comment