Hargailah Waktu Orang Lain

Waktu sangat berharga bagi setiap kita. Dia adalah setiap nafas kehidupan yang kita miliki. Menghargai waktu berarti menghargai umur kita sendiri. Tak hanya untuk kita, jangan lupa menghargai waktu orang lain.

Waktu itu bak pedang. Atau ada yang bilang waktu itu uang. Untuk menunjukkan tentang pentingnya masalah waktu. Nah, kalau kita nggak boleh menyia-nyiakan waktu kita sendiri maka tidak boleh juga menyia-nyiakan waktu orang lain. Membuat waktu orang kacau, nggak bermanfaat, atau membuat jadwal orang berantakan juga nggak baik . Padahal yang tak boleh hilang dari memori adalah setiap kita punya tanggung jawab untuk menjaga waktu orang lain atau minimal menghargainya.

Beda Prioritas

Beda orang pasti beda kepentingan dan prioritas. Misalnya menurutmu di hari sabtu sore ini pergi ke rumah Fani, temanmu yang jago matematika agar ngajari kamu adalah hal yang paling penting. Sementara Fani ternyata memiliki prioritas yang berbeda denganmu. Jadwalnya Sabtu sore adalah menemani ibunya pergi menjenguk neneknya yang sakit dan tidak bisa ditunda lagi. Belajar matematika sore ini bukan hal yang penting baginya, toh ia sudah menguasainya dengan baik. Apa yang kamu pandang penting bisa jadi tidak dianggap penting oleh orang lain. Bila perbedaan pandangan dan prioritas tersebut masih ada lantas bagaimana? Mudah jawabnya, hargai dan jagalah waktu milik orang lain. Jangan paksa orang lain agar mengikuti kepentinganmu.

Apalagi bila orang yang kita temui tersebut orang yang super sibuk, atau memiliki kedudukan khusus. Misalnya, baik teman-teman kita atau bahkan ustadz atau ustadzah kita. Kita mungkin saja butuh pada bantuan mereka, untuk belajar buku tertentu, berkonsultasi tentang sebuah program kegiatan atau, bermusyawarah dengan mereka. Pasti mereka tidak akan menolak untuk membantu hal-hal yang baik. Tapi bila waktu yang kita minta dari mereka ternyata berlebihan, maka ini termasuk bentuk menyia-nyiakan waktu orang lain. Karena mereka juga punya prioritas kegiatan dan alokasi waktu mereka tidak hanya untuk kamu. Jadi, apabila orang lain meminta maaf untuk tidak bisa melayani kebutuhanmu karena kesibukan mereka maka terimalah udzur mereka. Hindari sikap berburuk sangka pada mereka. Tak jarang loh, ada seseorang atau panitia kajian yang marah-marah dan dongkol pada ustadz tertentu karena sang ustadz tidak mau mengisi kajian di daerahnya atau tidak buru-buru membalas chatting atau sms-nya. “Ustadz pelit ilmu banget. Cuma ditanyai seperti itu saja tidak mau menjawab.” “Membalas sms apa sih beratnya?” atau “Hemm, mungkin ngisi kajian di tempat lain honornya lebih gedhe apa ya.”

Sementara ia tidak tahu ternyata ustadz tersebut memiliki agenda mengisi kajian yang sangat banyak dan penuh. Di sisi yang lain, si ustadz juga memiliki keluarga, disibukkan dengan pekerjaan dan aktivitas lain yang juga penting. Oleh karena itu, hargailah waktu yang dimiliki orang lain, jangan samakan dengan dirimu sendiri.  Bila mereka meminta maaf karena tidak bisa menyediakan waktunya maka terimalah permintaannya. Bukankah Al-Quran telah mengajari kita dengan adab-adab yang mulia,

وَإِن قِيلَ لَكُمُ ارْجِعُوا فَارْجِعُوا هُوَ أَزْكَى لَكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

Dan jika dikatakan kepadamu: “Kembali (saja) lah”, maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (An-Nuur: 28)

Terimalah udzur dari orang lain karena yang demikian lebih suci. Dan selayaknya menerima udzur tersebut diiringi dengan sikap penghormatan pada orang yang meminta tangguh, bukan dengan kejengkelan atau kebencian.

Qatadah mengatakan, “Aku berusaha mencari ayat ini dalam seluruh umurku. Tidaklah aku meminta ijin untuk bertemu dengan saudaraku kemudia dia mengatakan, “Pulanglah” maka aku pun kembali sambil berharap mendapatkan manfaat dari ayat di atas.

Related posts

Leave a Comment