Nggak Boleh Kenyang?

Saya sering mendengar hadits yang disampaikan penceramah yang maknanya seperti ini. “Kami adalah kaum yang tidak makan hingga kami lapar, dan bila kami makan maka tidak sampai kenyang.” Apakah hadits tersebut sahih?

W di kota S

Jawab: Makan hingga kenyang, insya Allah diperbolehkan. Yang tercela adalah makan sampai terlalu berlebihan dalam kenyang. Sehingga menimbulkan berbagai dampak buruk. Syaikh Ibnu Baaz ketika ditanya tentang pertanyaan serupa beliau menjawab, “Teks seperti ini diriwayatkan dari sebagian periwayat hadits. Dan di dalam jalur riwayatnya ada kelemahan (dhaif). Diriwayatkan bahwa mereka mengatakan di sisi Nabi, “Kami adalah sekelompok orang yang tidak makan hingga kami lapar, dan bila kami makan tidak sampai kenyang.” Yang dimaksud adalah mereka bersikap pertengahan (moderat). (Hadits ini) ditinjau dari maknanya memang benar, namun sanad haditsnya memiliki kelemahan. Hal ini bermanfaat bagi seseorang, bila dia makan dalam kondisi telah lapar atau butuh untuk makan. Dan bila ia makan tidak berlebihan, tidak terlalu kekenyangan. Adapun bila sekedar kenyang yang tidak berdampak buruk maka tidak mengapa. Manusia di zaman Nabi Muhammad dan setelahnya biasa makan dan kenyang. Akan tetapi yang dikhawatirkan adalah makan hingga terlalu kenyang.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam di beberapa kesempatan  diundang ke acara walimah. Beliau menerima tamu dan memerintahkan tamunya untuk makan hingga kenyang. Setelah mereka selesai, beliau makan bersama para shahabat yang lain. Di masa kenabian, diriwayatkan bahwa Jabir bin Abdillah mengundang makan Nabi shallalllahu alaihi wa sallam di hari perang al-ahzab. Ketika berlangsung perang khandaq. Nabi diundang untuk menyantap daging kambing kecil-dan sedikit roti tepung gandum. Maka Nabi memerintahkannya untuk memotong roti dan dagingnya. Kemudian beliau memanggil sepuluh orang-sepuluh orang untuk masuk rumah. Mereka makan hingga kenyang, lalu keluar. Datang sepuluh orang berikutnya. Demikian seterusnya. Allah memberkahi makanan tepung dan kambing kecil tersebut. Banyak orang telah menyantapnya. Bahkan makanan masih tersisa banyak hingga mereka bagikan pada tetangga. Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah juga suatu hari memberi minum susu kepada ahli shuffah. Abu Hurairah berkata, “Aku berikan minuman itu pada mereka (Ahli suffah) hingga hilang dahaga mereka. Kemudian Nabi bersabda, “Minumlah wahai Abu Hurairah! Aku pun meminumnya. Kemudian beliau berkata “minumlah” aku meminum lagi. beliau berkata lagi, “Minumlah!” aku pun meminumnya. Lalu aku berkata, “Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak menemukan tempat lagi di perutku untuk dimasuki susu. (kenyang)” Lalu Nabi mengambil air susu yang tersisa, dan beliau meminumnya. Ini menunjukkan bolehnya kenyang dalam makan dan minum, selama tidak berdampak buruk.*

*Sumber: Majmu’ fatawa wa maqalat asy Syaikh Ibnu Baaz 4:118

 

Related posts

Leave a Comment