Copy Paste Dakwah

Dahulu kala, mayoritas penduduk Indonesia bukan muslim. Mereka menyembah selain Allah. Bahkan banyak dari mereka mengikuti kepercayaan dinamisme dan animisme. Batu dan pohon besar menjadi obyek yang diagungkan karena dianggap memiliki kekuatan yang dahsyat. Tentang keyakinan seperti ini al-Quran menyebutkan,

“Kemudian mereka mengambil ilah-ilah selain Dia (untuk disembah), yang tidak menciptakan

sesuatu apapun, bahkan mereka sendiripun diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu

kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) sesuatu kemanfa’atan dan tidak

kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan.” (Al-Furqan:3)

Bagaimana mungkin manusia yang diberi taklif di muka bumi malahan tunduk pada sesama makhluk yang lemah. Dimana akal sehat? Beratus tahun kondisinya tetap sama. Kedatangan para pedagang muslim ke Nusantara memancarkan semburat cahaya bagi bumi katulistiwa. Berikutnya para pendakwah yang dikenal sebagai para wali meneruskan estafet dakwah yang penuh berkah. Wilayah seluas nusantara dengan padat penduduknya berangsur bersyahadat tauhid Laa ilaaha illallah Muhammad rasulullah. Tiada darah yang tertumpah, dentum meriam menggelegar, gelar pasukan perang. Tanpa paksaan, penduduk Indonesia masuk Islam dengan penuh suka cita. Era penyembahan pagan pun berakhir dengan damai. Sebuah fakta sejarah yang mencengangkan lagi membuat penasaran. Sudah pasti, semua atas hidayah dari Allah. Segala puji hanya milik-Nya. Tangan dingin para da’I, Allah kirimkan untuk menyinari negeri zamrud katulistiwa.  Lepas dari polemik siapakah yang pertama kali menebarkan dakwah Islam ke nusantara tetaplah para pendakwah tersebut adalah muslim yang istimewa. Mereka menyampaikan dakwah Islam secara hikmah kepada penduduk negri ini. Prestasi yang patut diteladani. Bila ada yang bertanya, “Bukankah dakwah mereka masih ada kekurangannya?”  Ya memang, tapi siapakah manusia yang lepas dari kekurangan.   Hanya para nabi saja yang sempurna dalam berdakwah karena selalu terbimbing oleh wahyu dari langit. Jadi wajar, dan bila ada kekurangan. Kita, sebagai generasi penerusnya-lah yang layak untuk menutupi celah kekurangan tersebut. Tutupi kekurangan mereka dengan cara mencontoh metode dakwah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam yang murni.

Related posts

Leave a Comment