Copy Paste Dakwah (2)

Awal interaksi dakwah penduduk Indonesia dengan pendatang muslim dalam bentuk perdagangan atau hubungan social yang lain. Yang ajaib, interaksi tersebut bak magnet yang menarik manusia pada ajaran Islam.

Apakah berarti pendatang tersebut selalu berceramah pada penduduk sekitar saat bertemu? Tentang berceramah dan menyampaikan Islam tentu dilakukan oleh pendakwah. Namun magnet dakwah Islam tidak sebatas pada ceramah dan retorika yang memukau. Ketertarikan manusia pertama justru dengan dakwah melalui perbuatan. Meski lisan belum lagi berkata, ceramah belum lagi disampaikan namun mata manusia terburu terpaku pada akhlak indah juru dakwah. Kebaikan tutur kata, kehalusan budi pekerti, kelapangan hati, pemaaf, gemar membantu yang lemah, berkasih sayang pada sesama makhluk merupakan magnet yang kuat. Hati masyarakat ditakhlukkan sebelum akal mereka. Rahasia ini tampaknya yang membuat banyak hati dibukakan oleh Allah ke dalam ajaran Islam.  Sejak masa turun wahyu, Nabi Muhammad n telah diberikan panduan oleh Allah Ta’ala.

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali Imran:  159)

Bahkan seorang nabi sekalipun kalau perilakunya keras dan kasar maka orang-orang akan menjauh darinya. Manusia akan bubar jalan, enggan mendekat. Padahal wahyu Allah turun melalui Nabi tersebut. Lantas bagaimana lagi bila bukan nabi, hanya manusia biasa baik  seorang ustadz atau pendakwah. Bila ia keras dan kasar orang akan lari tunggang langgang. Dakwahnya tak akan diterima karena dianggap mengajarkan pada sikap keras dan kasar. Ini tentu menjadi teguran bagi setiap muslim yang berdakwah kepada manusia.

Bergaul dengan manusia

Bayangkan bila juru dakwah yang datang ke Nusantara dulu hanya tinggal di rumahnya. Mereka  menyendiri untuk beribadah dan tidak mau bergaul dengan manusia. “Ah, ngapain repot-repot bergaul di masyarakat. Mereka semua kan rata-rata orang musyrik. Tidak paham dan tidak kenal dengan agama. Ahli maksiat lagi. Lebih baik beribadah di rumah, kan selamat.” Bila para da’I Islam, para wali berpikir seperti itu, ajaran islam pasti sulit tersebar di negri ini. Sedikit orang yang akan mengenal ajaran Islam dan keindahannya. Karena orang yang berilmu diam tak mengajarkannya. Bagaimana keindahan islam diketahui bila tidak dipraktekkan oleh para pemeluknya? Realitanya justru para pendakwah dan wali tersebut tidak berdiam diri. Mereka bahkan bergaul dengan masyarakat Nusantara kala itu. Tak sebatas bergaul ala kadarnya, namun mereka  berdakwah dan berusaha mempraktekkan tuntunan syariat Islam n. Dengan bukti, Islam tersebar di negri ini dengan damai tanpa peperangan.

“Katakanlah:”Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu)

kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang

yang musyrik”. (Yusuf:108)

Para pendakwah masa lalu di negri ini juga memberikan keteladanan kepada setiap muslim hari ini, dan para pencinta sunnah Nabi n. Mereka tidak berdiam diri di rumahnya, namun bergaul dengan manusia dan mendakwahinya dengan cara yang baik. Kita yang hidup belakang lebih mudah. Tinggal copy  paste saja. (**)

Related posts

Leave a Comment