Agar Amalan Kebaikan Tak Sia-sia

Mencari dan berburu petunjuk serta taufik dari Allah layak dilakukan sepanjang hidup.  Mendapatkan taufik berarti telah memperoleh kunci kebahagiaan. Ada tanda-tandanya kalau seorang memperoleh taufik dari Allah. Tanda yang dimaksud diantaranya, Allah Ta’ala membuat seseorang sadar dari kelalaiannya. Orang itu akan ditunjuki agar menggunakan waktu di dunia yang pendek untuk berbuat hal-hal yang bermanfaat di negri yang kekal. Sebaliknya, tanda kalau seseorang itu hina dan sengsara adalah ia lupa diri. Hari-harinya akan disia-siakan begitu saja. Ia memanfaatkan umurnya yang pendek tanpa berbekal dengan sesuatu yang bermanfaat saat bertemu Allah, bahkan ia melakukan hal yang membahayakan dan menghancurkan dirinya sendiri. Celaka nian. Ada yang mengenaskan lagi, yaitu seseorang beramal baik namun tak mendapat balasan kebaikan di akhirat. Capek, penat dan habis-habisannya di dunia tiada berguna. Lantas, perkara apa sajakah yang bisa menghalangi diri dari mengunduh pahala di akhirat? Di dalam Al-Quran, Allah pernah berkata,

وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُوْلَئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُوراً

“Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mu’min, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (Al-Isra’:19)

Ayat ini menyebutkan tentang syarat-syarat agar seorang bisa mendapat manfaat dari amal shalihnya. Bila dicermati, syarat amal shalit diterima yang pertama adalah mesti berniat mendapatkan negri akhirat dengan amal shalihnya. Kedua, kebenaran niatan dan usaha menuju akhirat kudu dibuktikan dengan beramal sesuai petunjuk Rasulullah.  Syarat ketiga, orang yang beramal haruslah mukmin ahli tauhid, tidak musyrik.

Related posts

Leave a Comment