Move On Nggak Sulit Amat Kok

Mata Eni sembab. Ia berulang menyeka air matanya, tapi tetes-tetes bening itu enggan kompromi dengannya. Tak urung teman-teman eni melihat tangisannya. Dari kejauhan Pipit bertanya-tanya dalam hati. “Kok Eni kelihatan sedih, ada masalah apa ya?” Pipit menghampiri Farah temannya. Farah termangu mendengar pertanyaan itu, ia menghela nafas “Emm. Pastinya ada sesuatu,” ungkapnya ragu.   “Tiga hari yang lalu dia putus sama pacarnya.” Akhirnya ia buka suara. “Eni keliatannya bakal sulit move on nih.” Lanjut Farah.

Eni hanya satu contoh kasus tentang sulitnya bangkit dari jatuh cinta. Sulit move on, istilahnya. Sebenarnya, kata move on sendiri bisa digunakan untuk kasus-kasus selain asmara. Masalah hati, asmara dan jatuh cinta terkadang cukup sulit dipahami. Sejarah mencatat kisah  jatuh cinta imratul aziz, istri bangsawan Mesir hingga membuat jebakan pada Nabi Yusuf.

“Dan wanita-wanita di kota berkata: “Istri Al Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam.” (Yusuf:  30)

Padahal, si wanita kaya itu telah bersuami. Tapi begitulah cinta. Bila sudah kasip terbelit tidak sederhana melepasnya. Kaki yang terjebak dalam lubang, tak perlu lama-lama untuk mengangkatnya. Tapi hati yang terlanjur jatuh cinta, tak cukup semenit bangkit darinya. Ada orang yang dengan mudah move on, bangkit dari problemnya. Ada juga yang butuh waktu berminggu, bulan bahkan tahun untuk mengatasinya. Jatuh hati pada seseorang memang tak melulu  berbaju pacaran. Karena betapa sering pria jatuh cinta pada wanita hanya dengan sekilas pandang tanpa sengaja. Demikian pula sebaliknya. Sebuah perasaan yang tak bisa dibendung karena nyelonong begitu saja.  Namun perasaan itu bisa saja menjadi patah dengan kerasnya, ketika misalnya orang yang dicintai terburu duduk di pelaminan bersama orang lain. Atau keduanya tak bisa mampu bersama karena berbagai factor yang menghalanginya. Sudah jatuh, tinggal nunggu bangkitnya.

Bersyukur Bisa Putus

Ingin cepat move on saat diputusi pacar?  Mau segera bangkit setelah menemui kenyataan kalau si dia duduk di pelaminan dengan orang lain? Mudah caranya. Cara pertama adalah bersyukurlah.  Ini jurus jitu  hadapi pemecatan sepihak atau sepakat putus. Putus cinta kok malah bersyukur? Tentu, ada banyak alasan untuk bersyukur saat kamu bisa putus. Pertama, pastinya karena kamu bisa selamat dari beragam maksiat. Deretan maksiat sejak dari hati, lisan dan perbuatan terkumpul pada aktivitas pacaran. Bagaimana mungkin goncengan berdua bukan mahram dianggap perkara biasa. Tidak pantas berdua-duaan di tempat sepi dianggap hal yang berpahala.

Kedua, kamu berhenti dari kebohongan dan membohongi.  Semboyan menerima apa adanya hanyalah pemerah bibir saat pacaran. Karena orang pacaran tampil di hadapan pacarnya selalu dalam kondisi yang paling hebat, hero dan baik. Padahal, kehidupan aslinya bisa jadi bertolak belakang dengan tampilannya itu. Sehingga saat keduanya menikah, kagetlah dengan semua kondisi mantan pacarnya tersebut. Saling bohong dan membohongi bukanlah perilaku terpuji. Ujung-ujungnya yang rugi paling banyak  diri sendiri. Disamping perbuatan ini jelas bertentangan dengan wahyu ilahi.  Nabi Muhmmad bersabda,

“Hati-hatilah kalian dari kebohongan. Karena kebohongan membawa pada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka.” (Riwayat Al Bukhari dan Muslim)

Dua alasan itu diantara berbagai alasan serius kenapa kamu perlu bersyukur saat diputusi sama pacarmu. Nah, kalau ternyata kamu bisa lepas dari berbagai kerugian besar begitu apa nggak harusnya kamu senang dan bersyukur. Kalau senang mestinya kamu akan lebih mudah untuk move on darinya.

Beryukur  disamping bersabar juga patut dilakukan saat orang yang kau cintai duduk di pelaminan dengan orang lain. Duh, sakitnya.  Meski sakit tetap kudu bersyukur karena berarti dia bukan rezekimu dan bukan yang terbaik untukmu.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Orang yang kamu sukai bisa jadi baik, namun tak mesti dia akan jadi terbaik bagi dirimu saat kalian hidup bersama. Untuk dirimu, Allah sudah siapkan orang yang paling tepat untuk mendampingi kehidupanmu.

Allah Penentu Segalanya

Sejak berada ditiupkan ruh ke jasadmu di dalam perut ibu, takdirmu sudah ditentukan sama Allah. Termasuk rezeki dan orang yang menjadi jodoh bagi dirimu. Rezekimu dan jodohmu nggak bakalan keliru menjumpaimu. Meski dihalang-halangi gunung dan lautan tetap saja akan menemuimu, cie.

Allah tidak mungkin berbuat zhalim dan tidak adil padamu.  Kalau ternyata kamu sering dapat yang sedih-sedih maka coba koreksi dirimu sendiri dulu. Jadi, saat kamu putus dengan pacarmu jangan bilang, “Allah nggak adil padaku.” Atau protes, “Kenapa aku menderita seperti ini?’ kalau seperti itu, baca saja firman Allah yang artinya.

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy Syura: 30)

Cobalah ingat, apa yang sudah kamu lakukan selama ini dengan pacaran. Bukankah pacaran banyak berisi perbuatan maksiat dan dosa? Nah, bila sadar bahwa itu kesalahan maka wajar saja kamu dapat sesuatu yang menyedihkan hatimu, yaitu putus. So, berawal dari kesedihan itu sepantasnya kamu membarenginya dengan bertaubat pada Allah. Agar kesedihan berubah menjadi kegembiraan, kedukaan menjadi kebahagiaan.  (**)

Related posts

Leave a Comment