Kamu Siapa?

“Aku benar-benar akan menyebutkan seratus macam jenis kebaikan, namun tak satu pun dari seratus tersebut yang ada padaku.” -Yunus bin Ubaid-

 

“Kamu ini siapa, mbok ngaca diri!” ungkap bapak separuh baya itu pada anak muda di depannya. “Tahu posisi diri-lah, siapa kamu.” Lanjutnya. Terus terang sob, ucapan itu cukup keras menampar telinga. Anak muda seperti kita mungkin pernah dapat teguran senada dari para senior.  Walau sebenarnya, masih ada ungkapan lain yang lebih kejam terdengar. “Masih ingusan” atau “Bau kencur” misalnya. Biasanya sih, semua terkait dengan aktivitas yang kita lakukan, atau ide-ide kreatif kita yang sedikit berbeda dengan para senior. Senior dari segi umur maupun pengetahuan. Ucapan tadi dapat saja bermaksud tulus menasihati. Ini pasti yang dinanti.  Meskipun mungkin juga ucapan tersebut terlontar karena kesombongan dan  perasaan tinggi hati.  Kalau yang terakhir ini, ampun deh.

Lejitkan Diri

Pertanyaan kamu siapa, bila direnungi bisa menerobos kesadaran kita yang terdalam. Kesadaran yang mampu melejitkan seluruh potensi kemanusiaan kita.  Kita memang bukan apa-apa, dan hakikatnya tak punya apa-apa. Setiap manusia diciptakan dari ketiadaan. Allah kemudian menjadikan Adam, asal bapak moyang kita dari tanah. Selanjutnya anak keturunannya diciptakan dari air yang merupakan sari pati dari tanah tadi.

Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah.  Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). (As-Sajdah: 7-8)

Tak ada bedanya manusia yang satu dengan yang lain dari unsur penciptaan. Apakah raja, presiden, ulama, kyai, ustadz atau rakyat jelata yang tinggal di kolong jembatan. Orang yang menyombongkan dirinya, mungkin lupa dengan asal kejadiannya.

Mutharif bin Syikhir rahimahullah pernah menegur Yazid bin Muhallab yang berjalan dengan kesombongan. “Ini cara jalan yang dibenci oleh Allah.”  Mendengarnya, Yazid justru menyombongkan dirinya, “Apa kamu belum mengenalku?”

Jawab Mutharif bin Syikhir, “Tentu saja aku mengenalmu. Bukankah permulaanmu dulu cairan yang hina, akhirmu adalah bangkai yang busuk, dan diantara keduanya engkau membawa-bawa kotoran.” Yazid bin Muhallab pun tersadar dengan teguran Mutharrif.

Ketika lahir, manusia tidak membawa apa-apa. Ilmu, harta, dan jabatan hanya milik Allah yang sewaktu-waktu bisa diambil-Nya kembali. Sehingga apa yang patut disombongkan dari seluruh barang titipan?

Ibnu Uyainah sampai mengatakan, “Siapa yang maksiatnya dalam syahwat maka aku berharap taubatnya. Karena Adam bermaksiat pada Allah dengan syahwat kemudian Allah ampuni . Tapi bila maksiatnya karena kesombongan maka aku kuatir pelakunya dapat laknat. Karena Iblis bermaksiat dengan kesombongan lalu dilaknat.[1]

Para salaf cerminan setiap orang dalam hal melawan kesombongan diri. Ayyub Asy-Syikhtiyani merasa dirinya tak pantas disebut sebagai orang shalih. “Bila disebutkan orang-orang shalih maka diriku masih belum termasuk dari mereka.[2]

Menyadari siapa diri ini akan mendorong menjadi pribadi yang rendah hati. Pribadi-pribadi yang rendah hati, Allah memuliakannya.

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْداً بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّه

“Sedekah tidak akan mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba yang memaafkan kecuali kemuliaan, serta tidaklah seseorang rendah hati karena Allah kecuali Allah akan memuliakannya.” (Riwayat Imam Muslim no 4695)

Ambil Positifnya

Disamping menyadari tentang posisi diri kita, tetaplah berkepala dingin dan lapangkan hati meski itu berat. Menyembunyikan rasa jengkel, di banyak kesempatan sangat bijak kita lakukan.

Mereka berkata:”Jika ia mencuri, maka sesungguhnya telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum ini”. Maka Yusuf menyembunyikan kejengkelan itu pada dirinya dan tidak menampakkannya kepada mereka…(Yusuf: 77)

Ambil yang positifnya dari apa yang disampaikannya. Mungkin saja ada sesuatu yang kurang pas yang sungguhan kita lakukan. Salah satunya mungkin kurang banyak berkomunikasi dengan orang yang lebih tua atau lebih senior. Wajarlah bila ada sinyal yang nggak connect antara kita dengan mereka. Meski aktivitas yang kita lakukan baik, tapi orang lain termasuk para senior bisa saja berpandangan lain saat kita tidak mengkomunikasikannya dengan benar.  Menghormati orang yang lebih tua dalam usia dan ilmu merupakan petunjuk dari syariat,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا وَيَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَ عَنْ الْمُنْكَرِ

“Tidak termasuk golongan kami, orang yang tidak menyayangi yang muda dari kami dan menghormati yang tua dari kami, dan menyuruh yang ma’ruf dan melarang dari yang munkar.” (Riwayat at-Tirmidzi)

Meski begitu, teguran dan celaan tadi tak selayaknya menjadikan kita mundur dari beraktivitas. Kreativitas dan ide-ide kebaikan kita pun tak boleh mati. Termasuk dalam menyebarkan dakwah Islam. Mati ide dan kreativitas berarti kematian sebelum datangnya kematian. Kreatif yang dimaksud bukan berarti mengotak-atik agama atau ibadah yang telah baku. Namun membuat terobosan dan upaya-upaya yang diperbolehkan untuk mendukung tersebarnya dakwah Islam yang mulia. Seperti contohnya berdakwah lewat media social, internet, radio dan televisi. Atau membuat metode-metode yang mempermudah orang belajar agama. Misalnya metode membaca al-Qur’an “Iqra’, Qira’ati dan berbagai metode lain yang membuat orang mudah belajar Islam. Siapa kamu? (**)

 

[1]Syu’abul iman oleh al-Baihaqi no. 7733

[2]Hilyatul auliya oleh Abu Nu’aim no 3019

Related posts

Leave a Comment