Yang Kecil Jangan Diremehkan

“Hanya sebungkus plastik kecil . Nggak apa-apa dibuang di sini, tak akan bikin tempat ini kotor. Mana mungkin akan membuat banjir.” Mungkin begitulah yang terpikir di benak orang saat membuang sampah sembarangan. Meski kecil jangan pernah remehkan.

Sepertinya sederhana. Hanya satu bungkus kecil. Namun sempat kah terpikir olehmu, bila semua orang melakukan hal tersebut di lingkungan sekolahnya. Kira-kira akan jadi sekumuh apa sekolah tersebut? Begitu pula bila satu juta orang di satu kota besar punya pikiran yang sama. Akan jadi seberapa tinggi tumpukan sampah yang akan kamu temukan? Ya, gunung besar menjulang adalah kumpulan kerikil-kerikil kecil.  Sebagaimana buah tindakan sederhana, seperti senyuman. Ternyata mampu memberikan warna yang berbeda. Misalnya suatu ketika, kamu pergi ke sebuah kantor instansi tertentu untuk mengurus beberapa dokumen. Belasan pegawai kantor menampakkan wajah datar. Tiada senyum melihat kamu datangan. Cuek bebek. Tidak ada sambutan. Tak ada kata dan salam. Sementara dari balik sebuah meja yang cukup jauh, ada seorang pegawai yang wajahnya berseri. Senyumnya mengembang di mulutnya sembari menganggukkan kepalanya sedikit. Kira-kira meja pegawai mana yang akan kamu datangi? Keceriaannya bak magnet bagi hatimu.

Sering kali kita menganggap sederhana sebuah masalah sehingga kita remehkan. Meskipun belakangan kita baru mengetahui bahwa akibatnya tidak sesederhana yang kita perkiraan. Tak jarang kita pun menganggap kecil suatu perkara, padahal bagi orang lain itu menganggapnya besar. Berulang kali kita mengejar hal yang tampak begitu besar di mata, sementara urusan yang kita anggap kecil kita anggap bagai angin lalu saja. Padahal bukan demikian dalam sikap yang benar dalam kehidupan.

Jangan Remehkan

Suatu hari, seorang sopir bus sambil menjalankan bus melihat para penumpangnya dari kaca kecil di depannya. Wajah-wajah penumpangnya yang kelelahan di siang yang panas itu merisaukan hatinya. Ia pun berinisiatif untuk menghentikan busnya di depan sebuah toko minimarket. Ia turun lalu masuk ke toko tersebut. Tak berapa lama ia kembali masuk bus. Sambil tersenyum dan menyapa, ia membagi-bagikan permen ke seluruh penumpang busnya. Tindakan sopir bus tadi tak pernah terduga oleh para penumpang. Sontak, seulas senyum menghiasi wajah para penumpang, menghilangkan sedikit kepenatan yang mereka rasakan. Dia sopir bus yang benar-benar cerdas.

Siapa bilang kalau kebaikan yang terlihat kecil pantas untuk ditinggalkan? Bila kamu punya pemikiran seperti itu, ubahlah dengan segera. Meski terlihat kecil, kebaikan tetaplah kebaikan yang selalu pantas untuk dilakukan. Walau kecil dan ringan, asalkan itu perbuatan baik maka Allah akan ridha. Oleh karena itu, jauh-jauh hari Rasulullah pernah menyampaikan,

“Janganlah Anda meremehkan perbuatan yang ma’ruf sedikit pun, walaupun sekedar berjumpa dengan saudara Anda dengan wajah yang ceria.” (Riwayat Muslim)

Kamu mungkin tidak tahu, betapa banyak hati yang bersedih menjadi terobati dengan keceriaan yang engkau berikan pada mereka. Siapa yang menyangka sebuah ucapan baik dan indah tak jarang menyibak mendung yang menggelayut kehidupan seseorang. Begitu kita kadang menemukan bahwa sebuah ide yang sederhana menghasilkan manfaat bagi banyak orang. Pantaslah Nabi Muhammad menganjurkan untuk menyampaikan ajaran kebaikan darinya, meski hanya satu ayat,

“Sampaikan dariku walaupun satu ayat.” (Riwayat al-Bukhari)

Yah, berapa banyak hal yang kecil membawa kebaikan yang besar pada akhirnya. Tentu saja, semua hanya akan memberikan pengaruh bila seseorang melakukannya ikhlas karena Allah Ta’ala. Karena sebuah amalan yang kecil akan menjadi besar karena keikhlasan pada Allah Ta’ala.

Prioritas Iya tapi

Benar, dalam hidup ini kita selalu memiliki prioritas yang lebih kita dahulukan dibandingkan yang lain. Tapi hal tersebut tak perlu dibenturkan dengan kebaikan-kebaikan kecil yang tetap bisa dilakukan. Bahkan bisa jadi hal-hal kecil tersebut merupakan pendukung bagi kesuksesan kita untuk meraih hal-hal yang besar. Teladan Nabi selalu pantas untuk diikuti. Prioritas dakwah beliau adalah tauhid dan akidah. Bukan berarti dengan prioritas tersebut beliau tinggalkan perkara-perkara lain yang nilai pentingnya ada di bawahnya.  Bahkan dalam semua bidang kebaikan beliau menjadi orang yang terbaik dalam melakukannya. Lihatlah, bagaimana di tengah kesibukannya Nabi tetap membantu istri-istrinya melakukan pekerjaan rumahnya. Masalah kecil bukan? Dalam beberapa kesempatan beliau berlomba lari dengan Aisyah. Seorang shahabat, Jarir bin Abdullah juga mengisahkan bahwa Rasulullah bila melihatnya selalu dalam kondisi tersenyum. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari. Beliau pun terlihat bercanda dengan anak-anak dengan menjulurkan lidahnya. Pernah pula Nabi menghibur seorang anak kecil yang burung peliharaannya mati. Dari sini, tampaknya kita tak perlu merasa hina atau kurang keren bila kita melakukan hal-hal yang dianggap kecil di mata orang. sebagaimana juga kita perlu melakukan hal-hal yang kecil untuk mendapatkan sesuatu yang besar.  (**)

Related posts

Leave a Comment