Ibnul Arabi Pengembaraan ke Negri Timur

Ibnul Arabi. Ulama ternama dari negri Andalusia. Spanyol. Berkeliling ke penjuru negri Islam, baik timur maupun baratnya. Mengumpulkan perbendaharaan ilmu yang banyak dibandingkan orang-orang semasanya. Dikenal sebagai pakarnya ilmu dan fikih serta hakim agung.

Al Qadhi Abu Bakr Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad bin Al-Arabi al Muafiri al Isybili, demikian nama dan silsilahnya. Dilahirkan di daerah Isybiliyah (sekarang dikenal sebagai Sevilla, salah satu kota di Spanyol), kota terbesar daerah Andalusia, pada hari kamis 22 Sya’ban 468 H. Rumahnya merupakan rumah terbesar setelah rumah sang raja, Al Mu’tamad bin Ubbad. Ayahnya Abdullah bin Muhammad al-arabi merupakan pembesar ulama dan orang penting di kerajaan. Di lingkungan yang bertabur ilmu tumbuhlah Ibnul Arabi. Ia menerima pengetahuan dan metode pendidikan pertama kali, khususnya dari gurunya Abu Abdullah As-Sarqasty.  Kecerdasan dan luasnya pengetahuan membuatnya tumbuh dengan cepat.

**

Di usianya ke  17 tahun, dinasti Ubbad jatuh. Qaddarallah, takdir Allah. Peristiwa tersebut terjadi pada  tahun 485 H. Sang ayah berinisiatif meninggalkan Isyibiliyah menuju Afrika Utara. Sampailah mereka di daerah Bejaia, wilayah Algeria sekarang. Ibnul Arabi tinggal di sana beberapa waktu.Belajar pada ulama besar Bejaian. Abu Abdillah al-Kila’i. Kemudian berlayar lagi ke Samudra Timur. Menuju provinsi Al-Mahdiyah. Di sana ia menimba ilmu pada Abul Hasan bin Ali bin Muhammad bin tsabit al haddad al muqri’I. Juga pada Imam Abu Abdullah Muhammad bin Ali al-Maziri at-Tamimi. Negri persinggahan berikutnya adalah  Mesir. Ia bertemu dengan Syaikh Musnid Mesir, Al Qadhi Abul Hasan Ali bin Al Hasan bin al Husain bin Muhammad al Khal’I al Moshuli. Ibnul Arabi kembali melakukan perjalanan menuju negri Syam, tinggal di Damaskus dan menimba ilmu pada para ulamanya. Tidak berhenti di Syam, Ibnul Arabi bertolak ke Baghdad. Baghdad adalah ibu kota kekhalifahan Abbasiyah kala itu. Para ulama bertebaran di kota Baghdad, dengan mudah didatangi oleh Ibnul Arabi. Hingga ia menjadi pakar dalam Ilmu sunnah, biografi periwayat hadits, ushuluddin, ushul fikih, ilmu bahasa arab dan sastra. Di antara guru-guru Ibnul Arabi di Baghdad, Ibnu ath Thuyuri, Abul Hasan al-Bazzaz, Fakhrul Islam Abu Bakr Asy-Syasyi asy-Syafi’I dan Al Hafidz Abu Amir Muhammad bin Sa’dun.

Di kota Baghdad, Ibnul Arabi sempat bertemu dengan Abu Hamid al-Ghazali dan belajar padanya.  Pada tahun 489 H, Ibnul Arabi dan ayahnya pergi Makkah dan Madinah untuk menunaikan ibadah haji. Di Makkah ia belajar pada Abu Abdullah Al Husain bin Ali bin Al Husain ath-Thabari asy-Syafi’I, ahli hadits dan mufti Makkah. Ibnul Arabi berkisah, “Aku tinggal di Makkah pada bulan dzul Hijjah tahun 489 H. Aku meminum air Zam-Zam banyak-banyak. Ketika meminumnya aku meniatkan untuk ilmu dan keimanan. Maka Allah bukakan ilmu padaku dengan keberkahan-Nya. Sayangnya, aku lupa meniatkan untuk amalan. Duhai kalau saja aku niatkan untuk keduanya niscaya Allah akan bukakan keduanya. Belum ditakdirkan, seandainya bagianku yang banyak juga untuk amalan. Aku meminta pada Allah Ta’ala penjagaan dan taufik dengan rahmat-Nya.” Selepas berhaji, Ibnul Arabi kembali lagi ke kota Baghdad dan sekitar dua tahun belajar kepada al Ghazali.

Sang ayah yang telah lanjut usia kembali menemani Ibnul Arabi melakukan perjalanan menuntut ilmu ke daerah Syam dan Palestina. Ketika berada Iskadariyah, sang ayah menghembuskan nafas terakhirnya. Setelah itu, Ibnul Arabi pulang ke negri asalnya, Isbiliyah. Kedatangannya membawa ilmu dari Timur disambut dengan penuh kegembiraan para ulama, ilmuwan dan sastrawan Isbiliyah. Para ulama dan penuntut ilmu dari berbagai penjuru negri berdatangan belajar padanya. Ia menjadi tempat istimewa untuk menimba ilmu. Seorang pendidik generasi yang unggul. Diantara murid-murid yang menimba ilmu adalah al hafidz Ibnu Basykuwal, Imam Abul Abbas ahmad bin Abil walid bin Rusyd, Abul Hajjaj Yusuf  bin Ibrahim Al abdari dan masih banyak lagi yang lain. Aktivitas mengajar dan memberikan fatwa terus dilakukannya selama 40 tahun, sebelum akhirnya ia diangkat menjadi hakim agung negara. Keadilan, istiqamah dan amanah menjadi pakaiannya saat menjadi hakim.

**

Sebaik apa pun Ibnul Arabi ada saja orang-orang yang tidak menyukainya. Kepopulerannya dengan ilmu, kemuliaan dan kedudukan menjadikan para pendengki gerah. Para ulama su’, buruk yang menjual ilmunya untuk dunia. Makar jahat pun mereka lancarkan hingga rumah Ibnul Arabi sempat dikepung para pembangkang. Mirip kejadian yang menimpa Amirul Mukminin Utsman bin Affan. Kejadian ini berlangsung di akhir masa jabatannya sebagai qadhi.

“Aku serahkan diriku pada Allah, dan aku perintahkan orang-orang sekitarku untuk tidak membela rumahku. Aku keluar dari atas rumahku sendirian lalu mereka memukuliku. Kalau bukan karena takdirku yang baik niscaya aku sudah terbunuh.”

Dengan kejadian itu, Ibnul Arabi lengser dari jabatan Qadhi dan berpindah sementara ke daerah Qordoba. Di sana ia didatangi oleh para murid yang hendak belajar, bahkan semakin bertambah banyak. Hikmah dari kejadian yang menimpa Ibnul Arabi adalah ia semakin berkonsentrasi dengan ilmu dan menyusun karya-karya besarnya. Buku-buku karya Ibnul Arabi antara lain Aridhatul ahwadzi syarah jami’ at tirmidzi, anwarul fajr fi tafsiril Quran, Ahkamul Quran, al awashim minal qawashim dan masih banyak lagi. (**)

Related posts

Leave a Comment