Al-Buwaithi Juru Bicara Imam Asy Syafi’i

Dia adalah teladan dalam ilmu, bahkan meraih derajat tinggi ilmu. Pribadi zuhud, ahli ibadah yang khusyu’ dan tunduk pada Allah. Ia termasuk sedikit orang yang menjadi keteladanan dalam keberanian, kekuatan tekad, ketegaran prinsip di jalan kebenaran. Dialah Imam Al Buwaithi, yang disebutkan oleh Adz dzahabi sebagai, “Imam al Allamah, pemimpinnya para ahli fikih, Yusuf Abu Ya’qub bin Yahya, al mishri al buwaithi. Sahabat Imam Syafi’I yang berguru beberapa lama kepada Syafi’I, dan ia menonjol di antara para murid-muridnya.

Imam As-Subki menyebutnya sebagai Imam yang agung, ahli ibadah lagi zuhud, ahli fikih yang besar, laksana gunung ilmu dan agama, sebagian besar waktunya berisi kesibukan untuk ilmu. Sedangkan malamnya digunakan untuk tahajjud dan membaca Al Quran.

Al Buwaithi punya kedudukan special di hati Syafi’i. Sang imam kagum dengan kecerdasan dan kecintaan sang murid terhadap ilmu. “Abu Ya’kub (al buwaithi) punya kedudukan kokoh di samping syafi’I,” ungkap Ar-Rabi’. Bahkan terkadang apabila ada orang yang bertanya tentang sebuah permasalahan Syafi’I mengarahkan pada al Buwaithi untuk menjawabnya. “Coba tanyalah pada Abu Ya’kub, bila ia telah menjawab coba sampaikan.”

Al Buwaithi tampaknya dipersiapkan dengan baik oleh Asy Syafi’I untuk menggantikan dirinya di majelis ilmu. Hingga ia mengungkapkan, “Tidak ada seorang pun yang lebih pantas di mengisi majelisku dibandingkan Yusuf bin Yahya.” Ketika Asy Syafi’I sakit, di majelis ilmunya terdapat murid seniornya yaitu al Buwaithi dan Muhammad bin bin Abdillah al Muzani. Orang-orang berbeda pendapat siapa yang akan mengisi majelis itu, hingga berita tersebut sampai di telinga Asy Syafi’i. “Halaqah kajian diisi oleh Yusuf bin Yahya al Buwaithi, siapa yang ingin mengambil ilmunya silahkan duduk, dan siapa yang tidak ingin boleh pergi. Tidak ada seorang shahabatku yang lebih alim dari dia,” papar Asy Syafi’i.

**

Al Buwaithi dikenal fasih dalam bertutur kata, gamblang penjelasannya dan lantang membela kebenaran. Diriwayatkan bahwa asy Syafi’I berkata, “Abu Ya’kub adalah juru bicaraku.” Kadang ketika ada utusan dari pemerintah yang datang pada Syafi’I maka Al Buwaithi-lah yang diajukan olehnya sambil mengatakan, “Ini adalah juru bicaraku.” Ya, bukti kepercayaan bersar Asy- syafi’I terhadap kecerdasan, keberanian dan kemampuan untuk berdialog.

Imam As-Subki menyifatkan Al Buwaithi dengan, “Melakukan beragam perbuatan yang makruf, banyak membaca Al Quran di siang dan malam hari hingga khatam. Di rumah, dia mengisinya dengan beribadah, senantiasa mendekatkan diri pada Allah dengan shalat dan membaca Al Quran. Abul Walif bin Abi Jarud, tetangga al Buwaithi menceritakan, “Al Buwaithi adalah tentanggaku. Setiap kali aku terjaga di malam hari pasti aku mendengarnya membaca al Quran dan shalat.” Di luar rumah pun al Buwathi tak berhenti untuk berdzikir. Rabi’ bin Sulaiman mengatakan, “Al Buwaithi senantiasa menggerakkan bibirnya untuk berdzikir pada Allah, dan tidak ada yang kulihat lebih hebat dalam berhujjah dengan kitabullah dari Abu Ya’kub al buwaithi. Ketakwaannya mirip dengan gurunya yaitu Asy Syafi’i. Tampaknya dia tidak hanya mengambil faedah dari ilmu Syafi’i, namun juga terpengaruh dengan zuhud, wara’ dan takwanya. Rabi’ bin Sulaiman, “Syafi’I biasa mengkhatamkan al Quran di bulan Ramadhan sebanyak 60 kali, semuanya dalam shalat. Sedangkan al Buwaithi mengkhatamkan Al Quran satu kali dalam sehari.”

**

Khalifah al ma’mun mencoba memaksa manusia untuk meyakini bahwa Al Quran adalah makhluk. Kebijakan zhalim ini diikutipara  khalifah berikutnya yaitu Al Mu’tashim dan al watsiq. Sebagian ulama tetap tegar menolak pendapat menyimpang khalifah, meskipun mereka mendapat hukuman dan siksaan yang menyakitkan di jalan Allah. Sementara ulama yang lain memilih untuk tunduk karena takut atau menyembunyikan pengingkarannya. Ibnu Katsir menyebutkan, “Diantara ulama yang tetap kokoh menghadapi ujian dan tidak mengikuti pendapat khalifah ada empat orang: Ahmad bin Hanbal yang merupakan pemimpin mereka, Muhammad bin Nuh bin Maimun an-Naisaburi yang meninggal di perjalanan, Nu’aim bin Hammad Al Khuzai meninggal dalam penjara dan Abu Ya’kub al Buwaithi, meninggal dalam penjara Al Watsiq dia dirantai dengan besi pemberat.”

Di dalam penjara terlihat pemandangan menakjubkan yang menggetarkan hati, sekaligus menunjukkan kebesaran pribadi Al Buwaithi yang didorong oleh kedalaman iman dan kekuatan hubungannya dengan Allah –azza wa jalla-. Abu Ya’qub al buwaithi apabila mendengar muadzin mengumandangkan adzan di hari jumat, ia pun mandi dan memakai pakaian terbaiknya. Kemudian ia berjalan hingga sampai pintu penjara. Para penjaga penjara pun bertanya, “Anda hendak kemana?”

“Hendak memenuhi panggilan Allah itu.” Jawabnya.

“Kembalilah, semoga Allah memaafkanmu,” kata para penjaga.

Abu Ya’kub pun berkata, “Ya Allah, sungguh Engkau mengetahui bahwa aku telah memenuhi panggilanmu, namun mereka mencegahku.”

**

Al Buwaithi meninggal di dalam penjara dengan kaki terikat, namun ia tetaplah menjadi teladan sepanjang masa dalam kezuhudan, ilmu dan kesabaran. Semoga Allah merahmati Al Buwaithi. (**)

Related posts

Leave a Comment