Resep Mudah Untuk Bahagia

Kamu ingin bahagia? Ternyata tidak rumit dan jlimet caranya. Jadilah insan yang bertakwa lagi berakhlak mulia. Dijamin bahagia jadi milikmu!

Manusia dari bangsa dan suku manapun, dengan warna kulit apa pun semua ingin bahagia dan hidup dalam kebahagiaan. Kamu pasti demikian juga, kan? Rata-rata orang paham bahwa kebahagiaan tak dapat diraih sebatas dengan memiliki jabatan dan kedudukan. Begitu pula bahagia tak bakalan teraih dengan cara melampiaskan syahwat dan bernikmat-nikmat dengan dunia. Sebagaimana juga tidak dimiliki dengan tampilan keren dan pakaian yang indah-indah. Bahagia boleh saja dimiliki oleh semua kalangan. Seorang raja yang tinggal di istana bisa hidup bahagia. Sebagaimana rakyat jelata yang tinggal di gubug reyot tak terhalang untuk memilikinya. Yah, karena pangkal kebahagian bukan terkait dengan rumah dan harta.Kebahagiaan hanya teraih bila manusia bersedia memakai baju ketakwaan dan memiliki akhlak mulia.  Presiden bisa bertakwa, rakyat pun pantas memilikinya. Tiada umat yang bangkit dan bersinar peradabannya kecuali karena generasi tersebut memiliki jiwa yang kuat, tekad yang bersinar dan cita-cita yang tinggi dan akhlak yang bersih serta perjalanan kehidupan yang mulia. Sejarah umat manusia tak pernah mencatatkan bahwa sebuah kaum jadi bahagia karena sekadar materi dan keindahan bangunan saja. Kebahagiaan dan kemuliaan sebuah umat justru terletak pada pribadi-pribadi penyusun peradaban yang memiliki pengetahuan, akhlak yang mulia, kebersihan akidahnya, benar pendidikannya dan hati yang bersinar. Pribadi seperti inilah yang menjadi patokan sumber kekuatan dan kemuliaan bagi umat. Akhlak merupakan perhiasan, yang bila orang tidak memakainya maka setiap perhiasan yang lain tak akan menjadi berguna.

Iman dan Akhlak

Iman dan taqwa tak dapat dipisahkan dengan perbuatan kebaikan dan akhlak. Keduanya memiliki hubungan yang erat. Perilaku secara lahiriah terkait dengan keyakinan yang ada hati seseorang. Ibnu Taimiyah mengatakan, “Apabila amalan lahiriah dan batiniah kurang, maka yang demikian terjadi karena kelemahan iman yang ada di dalam hati. Tidak bisa terbayangkan apabila kesempurnaan iman wajib sudah ada tapi  orang tersebut kosong dari amalan-amalan lahiriah yang wajib. Bahkan keberadaan yang satu secara sempurna mewajibkan adanya yang lain secara sempurna. Sebagaimana kekurangan yang satu menyebabkan kekurangan yang lain”

“Perkataan dan perbuatan yang dilakukan oleh anggota tubuh merupakan hasil dan konsekwensi dari apa yang ada di dalam hati,” Ungkapnya lagi. Di dalam Al Quran, Allah banyak menyebutkan sifat orang-orang bertakwa dengan akhlak yang mulia. Mereka disebutkan sebagai pelaku kebaikan dan ihsan. Allah juga membebaskan mereka dari kenifakan dan keburukan akhlak. Begitu pula Nabi Muhammad #n berwasiat kepada muadz, “Sembahlah Allah dan jangan sekutukan  Dia  dengan sesuatu apa pun”. Muadz berkata, “Tambahkan lagi wahai Rasulullah.”

Nabi berkata, “Istiqamahlah dan hendaknya engkau berakhlak yang baik.” (Riwayat al Hakim dihasankan oleh Al-Albani)

Di kesempatan yang lain, Nabi menasehati Abu Dzar, “Aku berwasiat padamu untuk bertakwa pada Allah dalam sepimu maupun keramaian, dan apabila engkau berbuat buruk maka perbaikilah.” (Riwayat Ahmad dan dihasankan oleh Al-Albani)

Nabi pernah ditanya juga tentang apa yang paling banyak menyebabkan orang masuk ke dalam surga. Beliau menjawab, “Bertakwa pada Allah dan akhlak yang baik.” Dengan Abu Dzar, Nabi bersabda, “Bertakwalah pada Allah dimanapun engkau berada dan ikutan kejelekan dengan perbuatan baik maka akan menghapuskannya, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.”  (Riwayat at-Tirmidzi)

Nabi ditanya tentang siapa orang yang paling mulia, maka beliau menjawab, “Orang yang paling bertakwa pada Rabb, paling banyak menyambung kekerabatan, beramar makruf dan nahi mungkar.” (Riwayat Ahmad)

Demikian pula beliau menjawab, “Orang yang paling baik keislamannya adalah orang yang paling baik akhlaknya.”

Ibadah yang membekas

Yang menakjubkan, apabila dicermati dengan baik berbagai ibadah di dalam Islam maupun rukun Islam maka di dalamnya menghimpun antara akhlak, agama, ibadah dan adab. Ibadah shalat misalnya, dapat mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar. Zakat dan sedekah bermanfaat membersihkan dan menyucikan jiwa seorang muslim. Tentang ibadah puasa,

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan bahkan melakukannya  serta belaku bodoh maka Allah tidak butuh dengan aktivitas meninggalkan makan dan minumnya.” (Riwayat al-Bukhari)

Tentang ibadah haji, Allah berfirman

الحجّ أشهر معلومات فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلا رَفَثَ وَلا فُسُوقَ وَلا جِدَالَ فِي الْحَجِّ

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang  menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan Haji, maka tidak boleh rafats,  berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. (Al-Baqarah: 197)

Terkait dengan hak tetangga Nabi bersabda, “Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman orang yang membuat tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (Riwayat al-Bukhari)

Akhlak memang tak jauh-jauh dari ibadah kita. (**)

Disarikan dari Al-Akhlaq wa shilatuha bil ibadah karya Salman bin Yahya al-Maliki

Related posts

Leave a Comment