Gila Pujian Gila Sanjungan

Tak jadi dipuji malah dibui, begitulah nasib kang Udin. Gara-gara ingin dipuji teman-temannya dengan motor baru keren ia nekat mengambil sepeda motor milik orang lain. Nahas, perbuatannya diketahui sang pemilik. Polisi datang ke rumah ortu Udin untuk menangkap Udin dan motor baru curiannya. Pujian tak datang malah dapat cacian.Gila pujian!

Sejak kecil, kita selalu diajari untuk berbicara jujur oleh orang tua kita. “Jadilah orang jujur, Nak.” “Jangan suka bohong, kamu nggak bakalan punya teman.” “Tampil biasa saja, tidak usah dibuat-buat, biar nggak susah sendiri.” Saat ketahuan berbohong, ayah atau ibu kita akan marah besar. Umumnya demikian, rasanya janggal kalau ada orang tua yang senang bila anak-anaknya jadi seorang pembohong. Sejalan dengan berjalannya waktu, ada banyak kondisi yang mengikis kepolosan dan kejujuran seseorang. Misalnya, keinginan untuk mendapat penghargaan dari orang lain, ingin mendapat pujian, takut cemoohan, takut dimarahi, keinginan untuk diterima oleh lingkungannya menjadi sekian factor yang membuat orang enggan tampil apa adanya.

Ingin dipuji misalnya, siapa pun orangnya pasti suka untuk memperoleh pujian. Siapa yang tak senang kalau dipuji “Masyaallah, pandai sekali kamu”, “Kamu dermawan ya, mau menolong orang lain.” Dan ungkapan-ungkapan lain.  Sebenarnya tidak masalah kalau suka dipuji, normal saja sih. Masalah baru muncul kalau seseorang sudah gila atau mabuk pujian. Amalan jadi sulit ikhlas karena semua aktivitas ujung-ujungnya untuk meraih pujian. Padahal bila ada kelebihan pada kita punya maka Allah saja yang paling layak untuk dipuji.

“Segala puji bagi Allah, Rabb sekalian alam semesta.” (Al-Fatihah: 1)

Kalau wajah kita cantik atau ganteng, bukankah itu ciptaan Allah? Apabila kita punya kekayaan yang berlimpah bukankah itu hanyalah pemberian Allah Ta’ala saja. Bila kita jadi pribadi yang berakhlak indah dan dermawan bukankah Allah Ta’ala yang menunjuki kita pada hal tersebut. Karenanya, pujian orang lain seharusnya malah membuat kita semakin mendekat pada Allah Ta’ala. Karena semakin sadar bahwa telah banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita.

Mudah Bohong

Mabuk pujian dan gila pujian akan membuat hidup jadi hancur. Sayangnya para penggila pujian tak peduli dengan hal ini. Sebaliknya kritikan, masukan, atau cemoohan orang lain bisa berarti kiamat bagi dirinya. Padahal bila orang mau merenung dengan baik-baik, maka cemoohan dan kritik orang lain bisa menjadi pelecut bagi kemajuan dan kebaikan dirinya. “Ah, masa bodoh” lebih dipilih bagi sang pencinta pujian. Oleh karena itu orang tersebut akan selalu berusaha mendapatkan pujian demi pujian dari orang lain demi menyelamatkan dirinya dari kiamat. Berdusta adalah salah satu cara yang dianggap manjur untuk meraih pujian tersebut. Agar kata “wah, hebat, keren” selalu diucapkan orang lain padanya. Ada berbagai ragam bentuk kebohongan. Nyontek dalam ujian bisa dikategorikan dalam kebohongan itu. Biar dapat pujian, dan nggak diejek sama teman kalau nilainya jelek. Satu kebohongan tak jarang akan beranak-pinak menjadi banyak kebohongan. Karenanya Nabi Muhammad sudah mewanti-wanti umatnya agar menjauhi kebohongan,

وإيَّاكم والكذب، فإنَّ الكذب يهدي إلى الفُجُور، وإنَّ الفُجُور يهدي إلى النَّار، وما يزال الرَّجل يكذب، ويتحرَّى الكذب حتى يُكْتَب عند الله كذَّابًا

“Jauhilah oleh kalian kedustaan, karena sungguh kedustaan membawa kepada keburukan, dan keburukan membawa pada neraka. Dan seseorang senantia berdusta dan berusaha untuk berdusta hingga ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (Riwayat Al Bukhari no 6094 dan Muslim no 2607)

Makhluk Boros

Gila pujian bisa pula membuat kantong jadi kering, karena harta yang dimiliki dibelanjakan untuk meraup puja-puji orang lain. Misalnya agar dibilang sebagai orang yang dermawan maka tiap hari ntraktir teman dengan sangat berlebihan. Apa ntraktir teman itu nggak boleh dalam Islam? Boleh saja dan bahkan bisa berpahala bila diniatkan mendapatkan ridha Allah Ta’ala. Tapi tetap saja hal tersebut dilakukan secara sewajarnya, tidak boros alias menghambur-hampurkan uang dengan berlebihan. Tak benar bila karena alasan dapat ‘wah’ ntraktir teman di tempat-tempat berkelas yang harga makanannya selangit. Masih banyak bentuk-bentuk pemborosan lain yang bisa terjadi gara-gara ingin dipuji. Padahal pemborosan adalah teman-teman setan.

Hasad pada orang lain

Karena gila pujian, rasa sombong bisa merambah ke hati. Oleh karena itu setiap kita mesti hati-hati. Kalau biasa dipuji, tak jarang muncul di dalam hati perasaan besar diri dan merasa lebih baik dibandingkan orang lain. “AKu lebih hebat kok dibanding mereka-mereka itu.” “Mereka semua itu nggak berkelas, kampungan dan norak lagi.” Duh, duh, kalau sudah begini bisa gawat jadinya. Ingat loh, surga terlarang dimasuki oleh orang-orang yang punya sombong di hatinya. Nabi kan pernah bersabda,

 “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sebiji sawi kesombongan.” (Riwayat Muslim, Ahmad dan selain keduanya)

Penyakit berat yang lain pun bisa saja muncul mengiringi, yaitu rasa hasad. Iri dan dengki pada orang lain yang juga dipuji-puji oleh orang lain. Wah, banyak sekali musibah yang mengikuti gila pujian, maka mari segera tinggalkan. (**)

Related posts

Leave a Comment