Membaca Kisah Merawat Hati

Menangis karena takut pada Allah lebih aku sukai dibandingkan berinfak 1000 dinar,” Ungkap Ibnu Umar. Ka’ab bin Akhbar juga mengatakan, “Aku menangis karena takut pada Allah dan air mataku mengalir di pipiku lebih aku sukai dibandingkan berinfak senilai emas.” Kisah orang-orang shalih sungguh bermanfaat untuk merawat hati.

 

Membaca kisah orang-orang shalih  terlebih para shahabat Nabi Muhammad sungguh mengasyikkankan meski tujuan membacanya bukan sebatas untuk bersenang-senang. Kisah mereka selalu dibutuhkan oleh umat Islam sepanjang zaman. Apalagi bagi generasi muda di masa kini. Di antara alasannya, karena pemuda di era ini butuh teladan yang benar. Realita berkata,  banyak orang yang salah dalam menetapkan idola dan teladan. Para pemuda butuh untuk mendapatkan contoh real dalam melaksanakan ajaran Islam baik secara pribadi maupun di dalam masyarakat.  Metode berkisah sendiri merupakan salah satu cara terbaik yang banyak digunakan di dalam Al Quran. Tentu saja kisah-kisah yang tercantum dalam Al Quran penuh dengan makna, istimewa dalam isi sekaligus memiliki hikmah yang sampai pada puncaknya.

“Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.” (QS. Yusuf: 3)

Demikian pula Allah menyebutkan di akhir surat Yusuf,

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُوْلِي الأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf: 111)

Kisah-kisah tentang para Nabi dan kaumnya dapat menjadi ibrah bagi orang-orang yang hidup di masa setelahnya. Hasil yang diperoleh orang-orang yang beramal kebaikan di masa terdahulu juga akan diperoleh orang-orang di masa belakangan yang mengikuti kebaikan tersebut. Sebaliknya orang-orang jahat pun akan mendapatkan balasan kejelekan sebagaimana yang telah didapatkan oleh orang-orang jahat terdahulu

Kisah kehidupan para shahabat Nabi Muhammad pastinya merupakan kisah teladan keshalihan yang teristimewa untuk dituliskan. Salah satu alasannya, sebagaimana yang diungkapkan oleh Abdullah Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu

“Allah melihat hati para hamba. Dia Ta’ala mendapatkan bahwa hati Muhammad adalah yang terbaik dari seluruh hati para hamba. Maka Dia memilihnya untuk diri-Nya dan mengutusnya dengan risalah-Nya. Setelah memisahkan hati Muhammad, Allah melihat hati para hamba. Dia menemukan bahwa hati para shahabat beliau adalah hati terbaik dari sekian hati yang lain. Dia menjadikan mereka  berada di belakang Nabi-Nya, berperang bersamanya membela agamanya. Oleh karenanya apa yang dipandang bagus oleh kaum muslimin, maka bagus pula menurut Allah. Dan apa yang dipandang buruk oleh mereka, maka buruk pula menurut Allah.”

Jadi Lebih Rendah Hati

Ada beberapa alasan yang mendasari kenapa kita perlu mempelajari kisahnya para shahabat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wassalam. Pertama agar kita jauh dari bangga diri. Terkadang sebagian pemuda mendapatkan dirinya telah memiliki ilmu, tenggelam dalam ketaatan, rajin beribadah pada Allah, berjihad di jalan Allah dan aktif dalam kegiatan-kegiatan dakwah kemudian merasa bahwa dirinya telah berada di atas segala-galanya. Ia pun merasa telah unggul dibandingkan teman-temannya. Kondisi demikian sangat berbahaya. Mari kita ingat, dosa pertama di langit dan bumi yang terjadi. Tidak lain berawal dari kesombongan. Iblis diusir dan menjadi makhluk terlaknat karena kesombongannya. Kesalahan bersikap ini tidak akan terjadi bila para pemuda mau membaca dan menelaah perjalanan hidup para shahabat Nabi Muhammad. Setelah kita membaca kisah para shahabat, ibadah mereka, jihad mereka dan amalan mereka justru kita akan merasa bahwa diri kita belum berbuat apapun dalam mengabdikan diri pada Allah dan dalam melayani agama Islam. Kita tidak ada apa-apanya.

Kedua, kisah shahabat berpengaruh besar pada jiwa. Kisah teladan keshalihan  mudah meresap dalam jiwa dan kuat pengaruhnya. Bukti nyata tentang kebenaran realita ini adalah banyaknya Al Quran berkisah tentang kisah para nabi dan umat-umat terdahulu. Di dalamnya terdapat teladan-teladan kebaikan yang bisa diikuti dan contoh kesesatan yang mesti dijauhi. Misalnya Al Quran berkisah tentang para pemuda ashhabul kahfi, ashahabul uhdud dan para Nabi-nabi sebagai teladan kebaikan. Di sisi yang lain Allah Ta’ala pun berkisah tentang orang-orang jahat dan akhir buruk yang mereka dapatkan. Membaca kisah-kisah tersebut akan memberikan bekas-bekas mendalam di dalam jiwa, untuk bersemangat dalam mengikuti kebaikan, bersabar di jalannya, serta menjauhi keburukan.

Ketiga, mencari Inspirasi. Masa muda adalah fase usia ketika seseorang mudah menerima sugesti. Biasanya pemuda akan tergantung dan terinspirasi oleh idolanya. Celah inilah yang dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam dengan jeli. Mereka menghadirkan di hadapan para pemuda banyak idola dari berbagai macam bidang kehidupan. Muncullah banyak idola, yang jauh dari ketakwaan, namun mempesona para pemuda Islam. Oleh karena itu bila para pemuda membuka dan membaca-baca kisah para shahabat Nabi maka akan hadir di hadapannya tokoh-tokoh istimewa yang layak dia jadikan idola. Mencontoh idola yang bahkan akan menyelamatkan kehidupannya. Bukankah Rasulullah bersabda, “Seseorang itu bersama orang yang dicintainya.” (Riwayat Muslim)

Membaca kisah shahabat Nabi benar-benar sanggup melembutkan hati. (ai)

Related posts

Leave a Comment