Dr Abdurrahman As-Sumaith Menyalakan Cahaya di Benua Hitam

Sebelum menjadi seorang penggerak kegiatan dakwah dan social, Abdurrahman As-Sumaith seorang dokter specialis penyakit dalam dan gastroenterology di negri kaya minyak, Kuwait. Dakwahnya menyalakan cahaya Islam di benua hitam Afrika.

 

Pendidikan dokter diselesaikannya di Universitas Baghdad, sedangkan diploma dalam tropical disease diperolehnya dari Universitas Liverpoll pada tahun 1974. Pendidikan spesialis dalam ilmu penyakit dalam dan system digestive didapatkannya dari McGill University, Kanada.

Meski demikian, sejak awal ia bukanlah dokter biasa. Ia berbeda dari dokter kebanyakan. Setelah selesai dari pekerjaan rutinnya, ia selalu mencari kabar tentang orang sakit yang diobatinya. Ia bertanya tentang kondisi mereka, keluarga, lingkungan dan ekonominya. Itu dia lakukan agar bisa membantu kesulitan mereka dan menenangkan hati dengan cobaan sakit yang sedang mereka alami.

**

Kegiatan dan semangatnya membantu para fakir miskin terus menjadi ciri khasnya. Fokusnya kemudian berubah lebih luas, ketika mengetahui kondisi darurat yang dihadapi oleh masyarakat di belahan bumi Afrika. Ia mendapatkan bahwa gerakan pemurtadan sedang dihadapi oleh penduduk benua hitam yang didera kemiskinan. Ia pun meninggalkan pekerjaan rutinnya sebagai dokter di rumah sakit Kuwait, untuk mewujudkan gerakan amal social untuk menghadapi kemiskinan dan kristenisasi. Beberapa orang yang tulus ikut mendukung program-program kemanusiaan yang dilakukannya. Diantara kegiatan yang dibuat adalah program pengobatan orang sakit, bantuan pada para fakir miskin, penanggung anak yatim, pemberian makanan bagi masyarakat kelaparan dan bantuan-bantuan yang lain.

Sumaith berkeyakinan bahwa Islam lebih unggul dari semua isme, peradaban dan sosialitas dalam aktivitas social kemasyarakatan dan kemanusiaan. Kisahnya berdakwah di Afrika bermula di saat ia kembali ke Kuwait selepas menyelesaikan program masternya di Kanada.  Semangatnya untuk menebar kebaikan mendorong kakinya  untuk melangkah ke departemen kementrian wakaf untuk menawarkan diri untuk ikut serta dalam program amal. Sayangnya, birokrasi pemerintahan seolah membunuh  keinginannya. Akan tetapi, Allah menghendakinya untuk dapat pergi ke Afrika untuk menyalurkan dana  seorang dermawan Kuwait dan membangun sebuah masjid di daerah Malawi.

Di Malawi kedua mata Sumaith terbuka. Di hadapannya, ada derita jutaan orang bangsa Afrika. Diantara mereka ada yang mati karena kelaparan, didera kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, dan penyakit. Ia juga melihat kaum muslimin diintai oleh gerakan pemurtadan. Gerakan tersebut memberikan bantuan dan pengajaran pada anak-anak di sekolah-sekolah Nashara. Dari sini, muncul kecintaannya pada daerah Afrika di dalam hatinya hingga menguasai pemikirannya. Yang paling membekas lagi di hati Sumaith hingga membuatnya menangis adalah ketika ia pergi ke sebuah daerah menyaksikan sebagian anak-anak Afrika masuk Islam. Anak-anak tersebut berteriak dan menangisi ayah dan ibu mereka yang meninggal dalam kekafiran. Mereka bertanya sambil menangis, “Dimana kalian wahai muslimin? Kenapa kalian terlambat datang pada kami selama bertahun-tahun?”

**

Perjuangan As-Sumaith di Afrika bukan tanpa hambatan. Nyawanya sempat hampir melayang karena dikepung oleh orang-orang bersenjata baik di Mozambik, Kinia dan Malawi, akan tetapi Allah menyelamatkannya.

Strategi yang diterapkan oleh Sumaith tidaklah dengan membagi-bagikan seluruh harta yang dikumpulkan dari para dermawan. Dia justru memilih  membuat program-program peningkatan kualitas hidup bangsa Afrika, dengan membuka toko-toko, pembelian mesin jahit dan membuka lahan-lahan pertanian.

Demikianlah as-Sumaith hidup di tengah-tengah orang Afrika, ia rela tinggal di gubug sederhana untuk menebar cahaya. Ia mendakwahkan Islam, dan mengajarkan agama pada penduduknya dengan pergaulannya yang baik, pelayanan kesehatan, melayani masyarakat dan pendidikan. Ia terkadang terlihat mengendarai mobil dalam waktu berjam-jam untuk sampai pada orang-orang yang membutuhkan. Sebagaimana ia kadang membawa hadiah-hadiah untuk diberikannya pada para kepala suku dan manisan atau permen yang diberikan pada anak-anak mereka agar mereka cinta pada Islam. Kelebihannya, ia sangat mengetahui dengan baik dengan kebiasaan suku-suku di Afrika dan bagaimana cara bergaul dengan mereka.

As-Sumaith sendiri ikut mengajar pada beberapa halaqah tahfid Quranul karim. Ia sangat gembira melihat anak-anak kecil Afrika yang belajar. Hingga ia pernah mengungkapkan di twitternya sebelum meninggal, “Aku mendapatkan rasa kebahagiaan ketika membuka satu sekolah di sebuah tempat yang sebelumnya tidak pernah mengenal manisnya pendidikan.”

Di antara hal cemerlang yang dilakukan Sumaith di Afrika adalah keberhasilannya mengislamkan suku antemur. Asal nenek moyang mereka dulu sebenarnya muslim, namun dengan berjalannya waktu mereka kembali jadi penganut paganism. Jumlah mereka ada 500 ribu orang. Dengan perjuangan kerasnya, sebagian besar mereka kembali masuk Islam. Kegembiraan Sumaith digambarkannya melalui situs media social, “Aku merasakan kegembiraan luar biasa ketika jari telunjuk mereka diangkat ke langit bersyahadat untuk pertama kalinya mempersaksikan keesaan Allah.”

**

Dengan izin Allah, melalui jasa as-Sumaith jutaan orang di Afrika masuk Islam. Dibangun 4500 buah masjid, 4 universitas, 860 sekolah, menanggung 15 ribu anak yatim, menggali 13 ribu sumur, 256 klinik kesehatan, melatih 4 ribu dai dan guru, membuat pemakaman muslim, mencetak 150 dokter spesialis mata dan berbagai amal social yang lain. Setelah melalui perjalanan dakwah yang panjang, di tahun 2013 Abdurrahman As-Sumaith kembali kepada Rabbnya. Semoga Allah merahmati Abdurrahman As-Sumaith, dan memperbanyak orang yang gigih dalam berdakwah di jalan kebenaran. (ai)

Dari berbagai sumber

Related posts

Leave a Comment