Salamah bin Dinar Dikepung 14 Musuh

Salamah bin Dinar al-Madani, maula Al Aswad bin Abi Sufyan Al Makhzumi. Ia dikenal sebagai Abu Hazim al-A’raj. Lahir di masa pemerintahan Ibnu Zubair. Salamah sendiri berasal dari Persia dan ibunya berkebangsaan Romawi. Salamah termasuk diantara ahli ibadah yang tinggal di kota Madinah. Kezuhudannya membuatnya senantiasa memiliki sikap wara’ dan menyibukkan diri dengan ibadah. Imam adz-Dzahabi membilangnya dalam peringkat tabi’in ke empat. Salamah menimba ilmu dari Sahl bin Sa’d, Atha’ bin Abi Rabah dan Nu’man bin Abi Ayyas. Ada yang mengatakan ia sempat belajar pada Zaid bin Aslam, seorang shabahat Nabi yang masih hidup. Namun Abu Zur’ah mengatakan, “Salamah tidak belajar pada seorang shahabat Nabi kecuali pada Sahl bin Sa’d.” Putra Salamah mengungkapkan informasi yang serupa, “Siapa saja yang memberitakan bahwa ayahku pernah belajar pada shahabat selain Sahl bin Sa’d maka dia telah berdusta.” Banyak ulama yang menimba ilmu dari Salamah bin Dinar. Ibnu Syihab, Yazid bin Abdullah al-Had, Sufyan bin Uyainah, dan Malik termasuk diantaranya.

Pribadi yang Bijak

Abu Hazim menjawab, “Jangan Anda ambil sesuatu yang bukan haknya, dan jangan menahan dari hak Allah pada keduanya.” Bagaimana cara mensyukuri perut?” Jawabnya, “Hendaknya bagian bawahnya adalah makanan dan bagian atasnya adalah ilmu.” Bagaimana cara mensyukuri kemaluan?” Jawabnya, “Sebagaimana firman Allah yang artinya, “Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.”

Bagaimana cara bersyukurnya dua kaki? Jawab Salamah, “Apabila Anda mengetahui kebaikan maka langkahkan kakimu ke sana dan pergunakan untuk mengamalkannya. Dan apabila Anda mengetahui kejelekan maka hentikanlah dan cegahlah dia dari mengamalkannya, maka Anda menjadi orang yang bersyukur pada Allah. Bila seseorang hanya bersyukur dengan lisannya, namun seluruh anggota tubuhnya tidak mau bersyukur maka seperti orang yang memakan pakaian hanya ujungnya saja, dia tidak memakainya secara keseluruhan. Maka hal itu tidak membuatnya terlindung dari panas, dingin, salju dan hujan.”

Nasehat-nasehatnya

Di kesempatan yang lain ia berpesan, “Memerangi hawa nafsumu lebih berat dibandingkan memerangi musuh-musuhmu.”

Seseorang berkata pada Abu Hazim, “Anda seorang yang tegas.”  Maka Abu Hazim berkata, “Bagaimana  aku tidak tegas, padahal aku diintai oleh 14 musuh. Yang empat adalah syaitan yang mencoba mencelakaiku, orang mukmin yang hasad  padaku, orang kafir yang memerangiku, dan munafik yang membenciku. Adapun yang 10 adalah rasa lapar, dahaga, panas, dingin, tidak punya pakaian, tua, sakit, kemiskinan, kematian dan neraka. Aku tidak mampu menghadapinya kecuali dengan senjata lengkap, dan aku tidak mendapatkan senjata yang lebih hebat dari ketakwaan.”

Abu Hazim sangat yakin pada Allah Ta’ala. Karena Allah telah berfirman

وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ

“Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.” (Adz-Dzariyat: 22)

Karena rezeki itu ditanggung oleh Allah maka Abu Hazim lebih menyibukkan dirinya dengan beribadah dan menuntut ilmu. Ketika orang-orang pergi menemuinya menyampaikan keluhan “Abu Hazim, bagaimana ini. Apa Anda tidak melihat kalau harga tepung gandum sekarang naik menjadi mahal?” Abu Hazim menjawab, “Apa yang membuat cemas dengan hal itu? Dzat yang memberi rezeki kita di saat harganya murah Dia pula yang akan memberi rezeki kita di saat harganya mahal.”

Salamah pernah ditanya oleh seseorang, “Abu Hazim, apakah hartamu yang paling berharga?”

“Keyakinanku pada Allah Ta’ala dan tak mengharapkan apa yang dimiliki oleh manusia” Jawab Salamah.

Salamah pernah menasehati seseorang, “Anda tidak akan pernah menjadi seorang alim hingga memiliki 3 hal: Anda tidak dengki pada orang yang di atasmu, tidak merendahkan orang di bawahmu dan tidak mengambil dunia dengan ilmu agamamu.”

Diantara nasehat Salamah yang lain “Semua nikmat yang tidak membuat dekat pada Allah maka itu adalah bencana.”

Seseorang yang tergelincir ketika berjalan tentu sangat menyakitkan. Tapi percayalah bahwa tergelincirnya lisan lebih berbahaya bagi dirinya. Oleh karena itu Abu Hazim menyampaikan, “Hendaknya seorang mukmin lebih berhati-hati dalam menjaga lisannya dibandingkan meletakkan kedua kakinya.

Diantara nasehat Salamah yang lain “Semua nikmat yang tidak membuat dekat pada Allah maka itu adalah bencana.”

**

Ketika kematian hendak mendatanginya Abu Hazim berkata, “Semua yang aku tinggalkan tidak membuatku sedih kecuali dzikrullah. Sungguh malam dan siang tidaklah mendatangi sesuatu kecuali akan meninggalkannya, dan kematian merupakan peristirahatan bagi kaum mukminin.” Kemudian dia membaca

وَمَا عِندَ اللّهِ خَيْرٌ لِّلأَبْرَارِ

“Dan apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti.” (Ali Imran: 198)

(**)

Related posts

Leave a Comment