Manajemen Rebutan

Ramai berebut dalam permainan sungguh menarik disaksikan. Berbeda dengan melihat rebutan  sungguhan yang membuat orang saling bermusuh-musuhan.  Pastinya membuat kalang kabut bahkan bisa mendadak sakit perut.

 

Anak-anak kecil kalau sudah berebut sesuatu pasti ramai suasananya. Teriakan mereka, dorongan berseling dengan saling tarik hingga menangis. Tingkah mereka seru, kadang membuat jengkel hingga senyum. Antar orang tua tak jarang ikut bertengkar melihat anak mereka berantem. Padahal lihatlah sepuluh menit berikutnya, anak-anak mereka telah bermain bersama lagi. Berantem yang tadi, sudah lupa.  Bagaimana dengan orang tuanya? Sepuluh menit berikutnya justru perang dua ketiga akan  segera dimulai. Bila demikian, mana sebenarnya yang lebih kekanak-kanakan? Rebutan versi orang dewasa ada banyak obyeknya. Imbas dari perebutan itu tak bakalan hanya sepuluh menit atau satu jam, bahkan bisa berhari, bulan dan tahunan. Harta dunia, yang kata ajaibnya adalah ‘uang’ paling sering jadi rebutan. Gara-gara uang banyak orang rela bermusuhan. Meski nominalnya tak lebih dari recehan. Rebutan jabatan konon cukup bergengsi. Rebutan model gini penuh puja-puji meski telah banyak yang gigit jari, gila hingga gantung diri. Lowongan pekerjaan tak kalah lagi, orang siap berebut meski hilang kehormatan diri. Suap menyuap hingga main mata dengan atasan sering terjadi. Hasilnya, orang-orang yang tak punya berkemampuan dan bermental tempe yang mengisi posisi kerja.  Ada perebutan lain yang tak kalah serunya. Berebut wanita, pacar atau pasangan hidup! Subhanallah, benarkah wanita obyek berebut paling yahud? Oh, kenyataan di lapangan lebih seru dan banyak menguras air mata.   Cara yang digunakan untuk berebut pun bermacam-macam, dari yang halus hingga yang membuat orang mengelus dada.

Bolehkah Diperebutkan

Rebutan dalam kamus besar bahasa Indonesia berasal dari kata rebut yang berarti ambil paksa (barang orang). Mengambil sesuatu yang menjadi milik orang lain dengan paksaan, pasti tanpa ridha pemiliknya. Milik orang lain diambil  untuk dimiliki diri sendiri. Sudah tentu perbuatan yang demikian terlarang dalam syariat Islam. Bahasa yang mirip dengan hal ini adalah ghasab. Dalam arti  mengambil dan atau menguasai hak orang lain secara zalim dan aniaya dengan tanpa hak. Di dalam Al Quran, Allah telah memperingatkan kita,

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil……...” (QS. An Nisaa’: 29)

Berebut identik juga dengan upaya mendapatkan sesuatu yang masih belum dimiliki dengan mengalahkan lawan-lawan yang ada.  Rebutan harta, jabatan hingga wanita (yang wanita rebutan pria tentu saja) pastinya tercela. Karena termasuk dalam perlombaan untuk berbangga dan bermegah-megahan di dunia.  Jauh-jauh hari, Allah telah memberikan peringatan,

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu” (At-Takatsur: 1)

Meski demikian, berebut dalam artian berlomba untuk hal-hal yang baik tidak termasuk kategori yang tercela. Asalkan dilakukan dengan cara-cara yang benar dan tidak melupakan akhirat.  Misalnya, berebut mendapatkan prestasi tertinggi di kelasmu. Atau ingin jadi paling pakar dalam bidang ilmu tertentu. Demikian pula berebut untuk memberikan banyak kebaikan dan manfaat untuk orang lain. Rebutan yang demikian tak boleh serampangan dan kudu ikhlas untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala. Karena tak jarang orang berebut berbuat baik karena ingin memperoleh pujian orang lain.

Pikirkan Sebelum Berebut

Siapa pemuda di sekolah ini yang tidak mengenal Nuraini. Tampaknya tidak ada. Parasnya yang elok menjadi buah bibir pria di desa dan sekolahnya.  Para pemuda pun berebut untuk memilikinya. Sebagaimana jamaknya berebut, mereka mempergunakan berbagai macam cara untuk mendapatkan perhatiannya.  Demi mendekatinya, cara-cara wajar hingga di luar kewajaran ditempuh. Hingga ada pula yang bergerak merebut dengan cara-cara yang kelewatan mendatangi dukun. Usaha yang benar-benar sangat menghinakan diri.  Berebut dunia dengan menghalalkan segala cara sudah pasti tercela. Terlebih dalam hal yang tidak pantas untuk diperebutkan. Lebih-lebih dengan cara yang tidak halal. Semakin parah lagi kalau menghasilkan dosa yang berbagai macam. Jadi pikirlah untung ruginya sebelum terjun dalam kancah perebutan. Terlebih bila lawan berebutmu adalah teman akrabmu sendiri, alangkah memalukannya. Demi sesuatu yang belum jelas jadi milikmu, engkau bisa merenggangkan hubungan persahabatan dengan sahabatmu.

Alasan klasik orang untuk berebut dengan menghalalkan segala cara karena takut tidak dapat bagian atau kehilangan sesuatu. Berebut harta dengan saudara karena takut nggak kebagian, berebut seorang pria atau wanita karena takut kehilangannya. Satu hal yang seringkali dilupa orang dalam menghadapi dunia adalah keyakinan pada Allah. Rezeki seluruh makhluk telah ditentukan oleh Allah Ta’ala. Mencari rezeki melalui cara yang haram tak membuat jatah rezeki sim salabim jadi bertambah. Sebagaimana juga memilih yang halal tidak akan membuat rezeki lari  menjauh.  Mengerikannya, mencari rezeki dengan cara yang haram akan menjadikan seseorang tertimpa dosa dan kemurkaan Allah. Kalau demikian apa lagi alasan kamu berebut dengan orang lain dengan cara-cara yang haram? Tapi, jangan dipahami bahwa rezeki tak perlu diusahakan dengan sungguh-sungguh. Justru sebaliknya, rezeki hendaknya diusahakan dengan penuh kesungguhan. Sekali lagi, tak perlu berebut. Rezekimu selamanya tak akan pergi kemana-mana. Percayalah! (ai)

Related posts

Leave a Comment