Ahmad bin Harun ar-Rasyid dan Cincin Pemberian Ayahanda

Kisah tentang seorang anak manusia yang tak terpedaya kehidupan dunia. Ahmad bin Harun al-rasyid, putra khalifah besar Bani Abbasiyah. Putra khalifah yang lebih memilih hidup zuhud, sebagai seorang ahli ibadah dan bekerja dengan hasil karya tangannya sendiri.

Bekerja sebagai seorang buruh kerajinan tanah liat. Ahmad hanya bekerja satu hari dalam sepekan yaitu pada hari sabtu. Sehingga ia dikenal sebagai Ahmad as-Sabti (Ahmad si hari Sabtu). Dari pekerjaannya ia mendapatkan upah sebanyak satu dirham lebih sedikit. Berikutnya, ia habiskan sisa hari-harinya dalam sepekan untuk beribadah pada Allah.

Awal Kehidupannya

Sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa ibunya bernama Zubaidah. Akan tetapi Ibnu Katsir menyebutkan di dalam kitab Al-Bidayah wan-Nihayah bahwa ibunya adalah seorang wanita yang dicintai oleh Ar-Rasyid sebelum ia menjadi Khalifah. Ar-Rasyid menikahi wanita itu tanpa bermusyawarah dan sepengetahuan ayahandanya. Ketika istrinya mengandung, Ar-Rasyid mengirimnya ke Basrah dan memberinya sebuah cincin permata merah dan barang-barang berharga lain. Harun berpesan pada istrinya, bila kelak ia sudah menjadi khalifah hendaknya sang istri menemuinya. Perpisahan yang diiringi derai air mata dari keduanya. Ar-Rasyid terus mengikuti kabar tentang istrinya. Disamping terus mengirimkan kebutuhan-kebutuhan sang istri. Sampailah berita bahwa istrinya telah melahirkan seorang putra yang diberinya nama Ahmad. Sayangnya, setelah ar-Rasyid diangkat menjadi khalifah di Baghdad, sang istri tidak datang menemuinya, demikian pula anaknya. Mereka bersembunyi. Ada kabar yang menyebutkan bahkan keduanya telah meninggal dunia. Berita itu tidak benar. Ar-rasyid tetap mencari keduanya, namun nihil hasilnya. Ahmad, putra Ar-Rasyid, hidup dengan bekerja mandiri. Ia makan dari hasil keringatnya sendiri.

Ahmad dan ibunya akhirnya kembali ke kota Baghdad. Kota Baghdad di masa itu adalah sebuah kota besar di jamannya. Pusat peradaban dunia. Kota yang tiada bandingannya. Besar, elok dan banyak ulama serta cendekiawan tinggal di dalamnya. Kota yang berhias dengan bangunan-bangunan indah, rumah mewah, taman-taman yang mempesona. Seluruh keindahan dunia seolah terkumpul di kota Baghdad. Apa yang dilakukan oleh Ahmad bin ar-Rasyid di Baghdad? Ahmad memilih hidup sederhana sebagai seorang buruh kerajinan tanah liat di hari Sabtu. Hasilnya ia gunakan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan sang ibu yang beranjak tua selama sepekan. Ia tidak mengungkapkan pada orang-orang tentang siapa sebenarnya dirinya. Ia hidup dalam kondisi ridha dan bahagia. Tujuannya meraih ridha Rabbnya. Sang ibu mendukung pilihan sang anaknya. Ibunya, sosok wanita sederhana.

Menghadap Allah

Ketentuan Allah tiba. Sang ibu kembali ke sisi-Nya. Sebelum meninggal ibu memberikan cincin hadiah Ar-Rasyid pada anaknya. Wanita istri khalifah itu mengembuskan nafasnya yang terakhir di sebuah kamar sempit. Tanpa gemerlap dunia yang terlihat dalam pandangan. Selepas kepergian ibunya, Ahmad tetap bekerja di hari sabtu dan menghabiskan hari-harinya untuk ibadah. Allah ternyata tidak menghendaki Ahmad berusia panjang. Di hari sabtu saat bekerja ia jatuh sakit di rumah majikannya. Sang majikan yang baik hati melayani dan menjaga Ahmad hingga detik terakhir. Ketika sakitnya semakin berat, Ahmad merasa bahwa ajalnya kian dekat. Ia keluarkan cincin pemberian ibunya lalu diberikan pada pemilik rumah. “Tolong berikan ini pada khalifah Ar-Rasyid dan katakan pada beliau, ‘Pemilik cincin ini berwasiat pada Anda: “Berhati-hatilah dari kematian dengan sakaratul maut seperti ini. Saat penyesalan seseorang tidak lagi berguna. Berhati-hatilah Anda dari berpaling terhadap Allah di dua kehidupan. Karena dengan kondisi Anda sekarang ini, apa yang bukan milik Anda tidak akan pernah sampai pada Anda. Ia akan kembali pada selain Anda. Sungguh telah sampai kisah orang-orang terdahulu pada Anda.”

Ruhnya lepas dari jasad di tahun 184 Hijriyah. Orang itu segera menyelenggarakan dan mengubur jasad Ahmad. Ia tidak habis pikir dengan apa yang dia dengar dan liat. Siapa sebenarnya sang pemuda? Apa rahasia dari cincin yang diberikannya ini? Dan apa yang akan terjadi bila sampai pada khalifah? Setelah berpikir panjang akhirnya ia pergi menemui khalifah untuk menyampaikan amanah sang pemuda, sesuai dengan kehendak Allah.

**

Penjaga istana menemui khalifah. Ia memberitahu bahwa di pintu ada seseorang yang ingin bertemu untuk menyampaikan sebuah rahasia padanya. Khalifah mempersilahkannya masuk. “Apa keperluan Anda?” Tanya khalifah. “Amirul mukminin. Aku mendapat titipan cincin ini dari seseorang untuk diserahkan kepada Anda. Dia juga menyampaikan wasiat kepada Anda.” Kata orang tersebut. Setelah mengamati beberapa saat, khalifah pun segera mengetahui. “Hai, dimanakah pemilik cincin ini?” ungkap Khalifah di sela kekagetannya. “Dia telah meninggal wahai, Amirul mukminin,” orang itu kemudian menyampaikan wasiat sang pemuda. Ia juga mengisahkan bahwa pemuda itu bekerja sebagai seorang buruh sehari dalam sepekan dengan bayaran satu dirham lebih. Ia gunakan uang tersebut untuk hidup dan ibadah selama sepekan. Mendengar hal tersebut, ar-Rasyid menjatuhkan dirinya ke tanah dan menangis. “Demi Allah, sungguh engkau telah menasihatiku, wahai putraku,” Tangisnya pecah. Lalu Ar-Rasyid mengangkat kepalanya, “Apakah engkau tahu kuburnya?”

“Tentu, aku yang menguburnya.” Jawab orang tadi. Di waktu malam Ar-Rasyid pergi ke kubur pemuda tadi dan duduk di samping makam. Ia menangis lama di tempat itu hingga pagi menjelang. Esok harinya, ia memerintahkan agar orang yang membawa berita tadi diberikan uang sebanyak seribu dirham. Subhanallah..

Related posts

Leave a Comment